Rian kecil, tujuh tahun, ingat betul hari itu. Ayahnya, sosok yang dulu selalu menggendongnya di pundak sambil menunjuk ke gunung Maago yang berkilauan, kini berdiri di samping seorang wanita asing. Senyum ayahnya, yang dulu hangat untuknya dan ibunya, kini terpancar untuk orang lain.
Sejak hari itu, dunia Rian berubah. Ibunya, dengan mata sembab namun tegar, menggandeng Rian dan kedua adiknya meninggalkan rumah. Mereka menumpang di rumah nenek, sebuah honai sederhana di pinggiran Kali Tinou. Gunung Maago.
Waktu berlalu. Rian tumbuh di bawah atap honai Nenek, di tengah suara Nuri dan nyanyian burung cendrawasih. Ia belajar dari Nenek tentang kearifan lokal, tentang hubungan manusia dengan alam. Tentang pentingnya menjaga hutan dan kebun yang menjadi sumber kehidupan.
Ia juga belajar tentang bio-akustik, bagaimana suara-suara di alam. Kemudian dari arah mata angin hingga kicauan burung, membawa informasi penting tentang ekosistem.
Di bangku SMP kelas 9, badai kembali menerjang. Ibunya, pilar terakhir yang menopangnya setelah kepergian ayahnya, dipanggil Yang Maha Kuasa. Rian merasa dunianya runtuh. Ia merasa kehilangan segalanya, bukan hanya sosok ibu, tetapi juga identitas dan arah hidupnya. Ia merasa seperti air terjun Tinou yang kecil namun berderiak lepas.
Namun, di tengah kesedihannya, Rian teringat pesan ibunya, “Kamu kuat, Rian. Kamu punya pengetahuan dan semangat untuk bertahan.” Ia juga teringat pelajaran Nenek tentang etnobiologi, bagaimana masyarakat Papua secara tradisional memanfaatkan tumbuhan dan hewan untuk pengobatan, makanan, dan ritual. Pengetahuan ini, yang diwariskan turun-temurun, merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya.
BACA JUGA: Lonceng dan Kerlip Malam Natal
Rian Mulai Bangkit Matahari Terbenam
Rian mulai bangkit. Ia menyadari bahwa kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. anak muda itu memiliki warisan berharga: pengetahuan lokal, semangat pantang menyerah, dan kenangan indah bersama ibunya. Ia mulai mengamati lingkungan sekitarnya dengan lebih seksama.
Dia mencatat suara-suara burung, mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan, dan mempelajari interaksi antar makhluk hidup. Rian menggunakan pengetahuannya tentang bio-akustik dan etnobiologi untuk memahami ekosistem Papua yang kaya.
Rian menyadari bahwa ia tidak sendirian. Banyak anak-anak Papua yang mengalami situasi serupa, kehilangan orang tua, hidup dalam keterbatasan, namun tetap memiliki semangat untuk maju. Ia ingin berbagi pengetahuannya, menginspirasi generasi muda Papua untuk mencintai alam dan memanfaatkan kekayaan lokal secara berkelanjutan.
Suatu hari, Rian bermimpi membangun pusat penelitian kecil di dekat kost Fawas, Bandar lampung. Di sana, ia akan mengajarkan bio-akustik dan etnobiologi kepada anak-anak Papua, menggabungkan kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan modern. Ia ingin membuktikan bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, tetapi justru bisa menjadi pemicu untuk berkarya dan memberikan manfaat bagi sesama dan alam.
Matahari terbenam di belakang gunung Maago memantulkan warna jingga keemasan di permukaan air. Rian berdiri di dekat kali Tinou, menatap cakrawala. Ia merasakan hembusan angin tinouda dan mendengar suara Tinou. Ia tahu, perjalanannya masih panjang. Namun, ia juga yakin, dengan pengetahuan dan semangat, ia bisa menghadapi segala tantangan dan mewujudkan mimpinya.
Penulis
Anderian Kamo
Bandar Lampung, 1 Januari 2025













