Terima kasih kamu tuangkan ini jadi cerita lucu, haha! So, I’m excited!
Merapah.com – Langit sore itu berwarna oranye lembut, seperti filter Instagram yang sengaja diatur biar estetik. Andin dan Setya berjalan santai di pinggir jalan, ditemani tiga anak tanggung yang entah sejak kapan ikut rombongan mereka.
“Ini vibes-nya kayak di India ya, tapi versi bersih,” bisik Andin sambil mencicipi gorengan dari gerobak.
Setya mengangguk serius, padahal mulutnya penuh. “Iya, dan kita kayak food vlogger internasional,” jawabnya dengan gaya sok profesional, padahal jaket tebal dan syal yang ia pakai lebih mirip turis nyasar ke musim dingin.
Mereka memang berpakaian seperti mau ke Eropa, padahal cuma jajan di pinggir jalan. Andin dengan dress panjang dan jaket tebal, Setya dengan celana formal dan rajut yang entah kenapa terlalu serius untuk suasana itu.
BACA JUGA: Cerpen: Cinta di Lirik Panji Sakti, Seperti Kamboja yang Abadi
Segalanya terasa sempurna… sampai langit berubah drastis.
Angin kencang datang tiba-tiba. Langit yang tadinya oranye cantik berubah menjadi gelap seperti mood orang yang kehabisan kuota. Pedagang mulai panik membereskan dagangan.
“Yuk kita pulang dulu, ini keliatannya bahaya,” kata Setya sambil menarik tangan Andin.
Mereka berlima langsung naik ke sebuah minibus kecil yang entah milik siapa.
Awalnya tenang. Sampai kemudian…
“ITU APA?!” teriak salah satu anak.
Di luar, terlihat sekelompok orang bersenjata berlarian. Suasana jadi kacau. Andin dan Setya ikut panik.
“Tenang… tenang…” Setya mencoba tenang, walau suaranya gemetar seperti sinyal hilang.
Anehnya, orang-orang bersenjata itu tidak menyerang siapa pun. Tapi tetap saja, terlihat sangat menyeramkan.
“Eh… sopirnya mana?” Andin mulai sadar.
Semua terdiam.
BACA JUGA: Cerpen: Mencintaimu Adalah Hobiku
Setya menelan ludah. “Kayaknya… kita yang harus nyetir.”
Tanpa banyak pikir, Andin langsung melepas jaket tebal Setya.
“Udah, kamu ke depan!”
Setya lompat dari bangku tengah ke kursi sopir dengan gaya yang menurutnya keren padahal lebih mirip kucing kepeleset.
Minibus pun melaju.
“PEGANG YANG KUAT!” teriak Setya.
Mereka seperti sedang balapan menghindari situasi yang tidak jelas arahnya.
Namun di tengah kekacauan itu… Andin melihat orang-orang di pinggir jalan.
“Kasian mereka…” gumamnya.
Tanpa pikir panjang, mereka mulai berteriak:
“NAIK! CEPAT NAIK!”
Setya teriak dari kanan, Andin dari kiri.
BACA JUGA: Reminder Diri: Belajar Bersyukur di Tengah Perasaan yang Selalu Kurang
Awalnya satu. Lalu nambah. Terus nambah lagi… sampai nggak masuk akal jumlahnya.
Ada bapak-bapak habis berkebun, anak sekolah masih pakai seragam, ibu-ibu bawa belanjaan, semuanya masuk.
Andin sekarang berubah jadi kenek dadakan.
“Geser! Geser! Masih muat! Eh… masih muat ga sih?!”
Minibus yang seharusnya muat 12 orang… kini diisi sekitar 40 orang.
“Sayang…” kata Setya pelan.
“Iya?”
“Ini… kok ga jalan?”
Mereka saling menatap.
Minibus itu… tidak bergerak sama sekali.
Hening.
Lalu seseorang nyeletuk, “Kayaknya kelebihan muatan, deh…”
Andin meringis. Setya juga.
“Kayaknya… kita terlalu baik,” bisik Andin.
Akhirnya mereka semua turun. Dalam kepanikan, mereka menemukan lubang galian dan memutuskan bersembunyi di sana.
“Semua nunduk ya! Jangan ada yang teriak!” kata Andin, masih berusaha terlihat seperti pemimpin padahal napasnya ngos-ngosan.
Beberapa saat kemudian, keadaan mulai tenang.
Ternyata, orang-orang bersenjata itu adalah bagian dari tentara yang sedang mengamankan wilayah. Hanya saja… gaya mereka terlalu menyeramkan.
Semua orang keluar dari lubang dengan baju berantakan dan wajah kotor.
BACA JUGA: Qana’ah dalam Islam: Makna Hidup Cukup yang Membentuk Ketenangan
Lalu… entah siapa yang mulai duluan…
Mereka semua tertawa.
“Terima kasih ya! Kalian sudah mau nolong kami!” kata seorang bapak.
Andin dan Setya saling tatap dari kejauhan.
Di belakang mereka, minibus itu terlihat… rusak dan mengenaskan.
Andin berbisik,
“Sayang…”
“Iya?”
“Itu kan… bukan minibus kita…”
Setya langsung menelan ludah.
“Menurut kamu… kita bakal dimarahin ga ya?”
Andin diam sejenak. Lalu…
“Hahaha… lari aja yuk?”
Dan mereka pun tertawa lagi di tengah kekacauan, kelebihan penumpang, dan satu minibus yang jadi saksi betapa kebaikan… kadang tidak pakai perhitungan.
Cintakuu.. Terima kasih, yaa!













