Merapah.com – Mencari nafkah adalah jihad. Dalam ajaran Islam, pekerjaan bukan sekadar rutinitas duniawi.
Setiap usaha mencari nafkah bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Hal ini ditegaskan dalam banyak hadis sahih yang menjelaskan keutamaan menafkahi keluarga.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ.
“Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah karena mengharap ridha Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan termasuk apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu.”
(HR. Bukhari No. 56 dan Muslim No. 1628 – Shahih Muttafaqun ‘Alaih)
Hadis ini menjadi dasar bahwa menafkahi keluarga adalah bentuk ibadah. Setiap nafkah yang diberikan dengan niat tulus akan mendapat balasan pahala.
Bekerja Menafkahi Keluarga Termasuk di Jalan Allah
Rasulullah SAW menegaskan, mencari nafkah untuk keluarga termasuk bagian dari perjuangan di jalan Allah. Hadis berikut menjelaskan maknanya dengan sangat indah:
إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُغْنِيهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ،
وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ.
“Jika seseorang bekerja untuk menafkahi anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk orang tuanya yang sudah tua, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk mencukupi dirinya agar tidak meminta, maka ia berada di jalan Allah. Namun jika ia bekerja karena riya dan kesombongan, maka ia berada di jalan setan.”
(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir No. 15212. Dinyatakan hasan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wat-Tarhib [2/275] dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib No. 1692)
Hadis ini menegaskan bahwa mencari nafkah dengan niat tulus adalah jihad, setara perjuangan di jalan Allah. Islam memberi penghargaan tinggi kepada siapa pun yang bekerja keras untuk menafkahi keluarganya.
Nilai Jihad di Balik Pekerjaan Sehari-hari
Jihad tidak selalu berarti perang. Dalam konteks kehidupan modern, jihad bisa berarti perjuangan menunaikan amanah dan tanggung jawab hidup.
Bekerja dengan jujur, menjaga amanah, dan mencari rezeki halal termasuk jihad yang paling nyata.
Rasulullah SAW juga mencontohkan etos kerja tinggi. Sejak muda beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Beliau selalu menekankan pentingnya kejujuran dan niat yang bersih dalam setiap usaha.
Hadis-hadis ini memperlihatkan betapa Islam menghargai kerja keras yang halal dan bermartabat. Setiap tenaga, waktu, dan peluh yang tercurah untuk menafkahi keluarga kemd dicatat sebagai amal saleh.
Rezeki Halal Membawa Keberkahan Hidup
Allah tidak menilai banyaknya harta, tetapi kehalalannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari No. 2072 – Shahih)
Pesan ini sangat jelas: rezeki halal membawa ketenangan hati dan keberkahan hidup. Bahkan jika penghasilan tidak besar, keberkahannya lebih bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, rezeki haram dapat menghapus keberkahan dan menjauhkan rahmat Allah.
Kesimpulan: Lelahmu Bernilai di Sisi Allah
Mencari nafkah adalah jihad yang penuh pahala. Setiap orang yang berusaha menunaikan tanggung jawab keluarga sedang berjuang di jalan Allah.
Keringatmu adalah bukti pengorbanan, dan setiap nafkah yang kamu berikan tercatat sebagai amal saleh.
Islam memuliakan pekerja yang jujur dan amanah. Mereka bukan sekadar pencari rezeki, tapi pejuang yang berjuang dalam sunyi — menjalani jihad tanpa pedang, namun penuh keberanian dan ketulusan.













