Merapah.com – Lagi dan lagi Indonesia berduka. Sebelumnya, kita dihadapkan dengan demonstrasi panas yang merenggut banyak nyawa orang dan memenjarakan orang tak bersalah.
Kali ini kita menghadapi musibah longsor dan banjir yang menimpa saudara kita di Aceh dan Pulau Sumatera. Korban baru masih terus bermunculan hingga sekarang.
Sejak 26 November kemarin, sebanyak 836 orang tewas. Selain itu, 518 orang dinyatakan hilang. Banyak korban juga belum ditemukan hingga detik ini.
BACA JUGA: Fenomena Langit Desember 2025: Ada Supermoon? Cek Daftarnya!
Sebenarnya Salah Alam atau Karena Ulah Manusia?
Jika kita berbicara tentang penyebab longsor dan banjir di Aceh dan Pulau Sumatera akhir-akhir ini, tentu ada dua faktor utama.Faktor itu adalah faktor alam dan faktor manusia yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
Loh, bukannya kemarin longsor dan banjir terjadi karena cuaca ekstrem dan usia pohon yang lapuk? Jadi bukan salah manusianya dong!
Memang cuaca ekstrem dan usia pohon menjadi salah satu penyebab bencana tersebut. Namun, faktor manusia tetap memperparah musibah yang terjadi.
Bagaimana Bisa Faktor Manusia Memperparah Sebuah Musibah?
Kita tidak bisa mengelak pada fakta yang ada di lapangan. Data dari Kompas.com mencatat Indonesia berada pada peringkat kedua deforestasi terparah.
World Population Review merilis data pada awal tahun 2024 yang menunjukkan tingginya angka deforestasi Indonesia secara global.
BACA JUGA: Lionel Messi Jadi Raja Assist, Sentuh Angka 405!
Data ini berdasar pada perubahan area hutan sejak 1990–2020. Indonesia kehilangan 101.977 mil persegi hutan atau 22,28 persen total hutan.
Wow, fantastik sekali. Kondisi ini menunjukkan kerusakan yang tidak bisa dianggap sepele.
Belum lagi data dari Kementerian Kehutanan yang menemukan banyak hutan alam di Sumatera Utara berubah fungsi sejak 1990–2024.
Banyak hutan berubah menjadi perkebunan, pertanian lahan kering, dan hutan tanaman. Greenpeace juga menyebut mayoritas DAS di Pulau Sumatera kini kritis. Tutupan hutan alam berada di bawah 25 persen.
Secara keseluruhan, hanya tersisa 10–14 juta hektare hutan alam. Angka itu kurang dari 30 persen luas Pulau Sumatera yang mencapai 47 juta hektare.
Dari data di atas, kita bisa menebak siapa penyebab utama bencana yang terjadi. Yaa manusianya dong, masa pohonnya sih!
Lantas apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dengan adanya musibah ini? Ada banyak hal yang seharusnya pemerintah lakukan ketika menghadapi musibah semacam ini.
- Pemerintah harus responsif dan turun langsung ke lapangan untuk melihat dampak bencana tanpa menunggu rapat panjang yang tidak jelas.
- Pemerintah jangan haus validasi saat mengirimkan bantuan. Jadi tidak perlu seremoni pelepasan bantuan atau aksi menggendong beras demi kamera.
- Pemerintah harus melakukan evaluasi lengkap terkait bencana yang terjadi. Evaluasi meliputi penyebab, dampak, dan cara penanggulangan agar tidak terulang. Bukan malah sibuk mengurusi program tanam satu miliar pohon yang tanpa pengawasan.
BACA JUGA: Keutamaan Hari Jumat Menjadi Waktu Paling Mulia dalam Syariat Islam
Kalau tidak bisa menanam satu miliar pohon, setidaknya kita bisa merawat satu miliar pohon yang ada. Pohon adalah bagian dari kehidupan kita. Pohon membuat kita bisa bernapas dengan lega dan bersandar dengan tenang. Tapi pohonnya jangan yang sawit yaa hehe.













