BANDAR LAMPUNG, Merapah.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan beberapa rencana aksi untuk meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia di tengah berbagai tekanan ekonomi dan dinamika global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah tersebut dilakukan menyusul sorotan dari MSCI. MSCI atau Morgan Stanley Capital International merupakan perusahaan penyedia indeks saham global yang menjadi acuan utama investor internasional dan manajer investasi dunia dalam menentukan penempatan dana investasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Direktur Data Analisis Informasi dan Management Risiko OJK Bayu Samudro mengatakan pasar modal Indonesia sempat menghadapi tekanan besar akibat pandemi Covid-19, perang dagang global, hingga ketegangan geopolitik dunia yang memengaruhi arus investasi asing.
Menurut dia, perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia muncul karena adanya sejumlah aspek yang dinilai perlu diperkuat, terutama terkait aksesibilitas pasar, transparansi perdagangan, likuiditas, dan tata kelola perusahaan emiten.
“MSCI melihat bagaimana mekanisme pasar kita berjalan, mulai dari transparansi, likuiditas, sampai tata kelola emiten. Itu menjadi perhatian investor global,” kata Bayu dalam Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026 di Grand Mercure Lampung, Selasa, 19 Mei 2026.
Sorotan tersebut menguat setelah beberapa kebijakan perdagangan saham di Indonesia dinilai membatasi fleksibilitas investor asing. Beberapa di antaranya berkaitan dengan mekanisme short selling, trading halt, free float saham, hingga perlindungan terhadap investor minoritas.
Akibat kondisi tersebut, MSCI sempat menempatkan pasar modal Indonesia dalam status pemantauan khusus atau review terkait potensi penurunan klasifikasi pasar. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran pelaku industri karena dapat memengaruhi aliran dana asing yang masuk ke Indonesia.
Pasalnya, banyak fund manager global dan investor institusi internasional menggunakan indeks MSCI sebagai acuan utama dalam menentukan negara tujuan investasi. Jika posisi suatu negara dalam indeks MSCI mengalami penurunan, maka potensi arus modal asing keluar juga dapat meningkat.
Karena itu, OJK bersama Bursa Efek Indonesia dan pelaku industri pasar modal mulai melakukan berbagai langkah pembenahan untuk meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.
“Kami sudah mengantisipasi dengan delapan rencana aksi agar pasar kita dipercaya investor global karena kita membutuhkan mereka masuk dengan jumlah besar,” ujar Bayu.
Ia menjelaskan sejumlah langkah yang dilakukan antara lain memperkuat likuiditas pasar, meningkatkan transparansi perdagangan, memperbaiki tata kelola perusahaan emiten, serta memperkuat perlindungan investor.
Selain itu, OJK juga menyiapkan sanksi tegas bagi emiten yang tidak menjalankan tata kelola perusahaan sesuai ketentuan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kredibilitas dan integritas pasar modal Indonesia di mata investor.
“Pemberian sanksi tegas penting untuk menjaga kepercayaan investor,” katanya.
Tidak hanya fokus pada regulasi, OJK juga terus melakukan pendalaman pasar melalui pengembangan berbagai produk investasi baru agar pilihan instrumen investasi di pasar modal Indonesia semakin beragam.
Bayu menilai keberadaan investor asing tetap penting karena memiliki kekuatan pendanaan besar dan mampu meningkatkan likuiditas pasar. Namun di sisi lain, meningkatnya jumlah investor domestik dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal penting bagi ketahanan pasar modal nasional.
Menurut dia, kuatnya partisipasi investor domestik membuat proses pemulihan pasar modal Indonesia relatif lebih cepat ketika menghadapi tekanan global.
“Pemulihan pasar kita relatif cepat karena peran investor domestik cukup tinggi,” ujarnya.













