Merapah.com, Bandar Lampung – SMK Negeri 9 Bandar Lampung mulai menjalani program pendampingan implementasi Teaching Factory (TeFa) sebagai bagian dari Program Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA). Pendampingan tersebut akan berlangsung selama enam bulan dengan melibatkan pendamping dari pusat hingga pengawas sekolah.
Pengawas Sekolah sekaligus pendamping Program Sekolah Model, Hatma Syukriya, mengatakan kegiatan yang saat ini dilaksanakan baru memasuki tahap awal berupa sosialisasi. Selanjutnya, sekolah akan mengikuti workshop, implementasi program, hingga dua kali In House Training (IHT).
“Program ini berlangsung selama enam bulan. Saat ini baru tahap pertama, yaitu sosialisasi. Setelah itu dilanjutkan workshop, implementasi, kemudian IHT satu dan IHT dua,” ujarnya saat memberikan penjelasan kepada awak media, Senin (13/7/2026).
Hatma menjelaskan, selama proses pendampingan sekolah akan didampingi oleh narasumber dari BBPPMPV BMTI sebagai pendamping dari pemerintah pusat, sementara pengawas sekolah bertugas mengawal implementasi program di tingkat satuan pendidikan.
Menurutnya, pada tahap berikutnya tim Teaching Factory akan menyusun perencanaan berdasarkan tahapan implementasi yang telah ditetapkan. Guru juga akan dibimbing menyusun perangkat pembelajaran yang terintegrasi dengan konsep Teaching Factory, Pembelajaran Mendalam, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial.
“Di workshop nanti guru dibekali terlebih dahulu, kemudian masuk ke tahap praktik implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding serta Kecerdasan Artifisial. Setelah itu dilanjutkan dengan In House Training sesuai tahapan yang sudah diatur,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh proses telah memiliki petunjuk pelaksanaan dan standar operasional yang ditetapkan pemerintah pusat. Dengan demikian, setiap pihak yang terlibat memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas selama proses pendampingan berlangsung.
Pada tahap akhir pendampingan, implementasi Teaching Factory akan melibatkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai bagian dari penguatan ekosistem pembelajaran berbasis industri. Kehadiran mitra industri diharapkan mampu memastikan proses pembelajaran yang dilakukan sekolah sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Hatma menegaskan bahwa penerapan Teaching Factory yang sesuai standar industri akan berdampak langsung pada keberhasilan implementasi Pembelajaran Mendalam di SMK.
“Ketika Teaching Factory diterapkan dengan benar sesuai standar industri, maka pembelajaran mendalam otomatis berjalan. Itulah yang menjadi tujuan Program Sekolah Model agar sekolah mampu menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya,” pungkasnya.








