Merapah.com, BANDAR LAMPUNG — Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Universitas Lampung (Unila) kembali menghadirkan Sociology Olympic 2026 sebagai ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan mengenai persoalan sosial dan lingkungan.
Kegiatan tahunan tersebut berlangsung pada 14 Juli hingga 8 Agustus 2026 dengan mengusung kompetisi esai tingkat nasional.
Tahun ini, panitia mengangkat tema “Ketika Alam Kehilangan Ruang: Masa Depan Lingkungan di Tengah Alih Fungsi Lahan.”
Tema tersebut dipilih karena panitia melihat masih perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di sekitar.

Bagi mahasiswa Sosiologi, persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat. Alih fungsi lahan, misalnya, tidak hanya berdampak terhadap kondisi alam, tetapi juga dapat berkaitan dengan kehidupan dan keberlangsungan masyarakat.
Melalui kompetisi esai ini, peserta diberikan kesempatan untuk mengangkat fenomena lingkungan yang mereka temukan. Peserta kemudian diarahkan untuk menganalisis persoalan, melihat dampaknya, serta menawarkan gagasan penyelesaian melalui karya tulis.
Sociology Olympic 2026 terbuka untuk masyarakat umum. Dalam pelaksanaannya, tercatat 22 peserta dari berbagai universitas dan SMA di Indonesia mengikuti kompetisi tersebut.
Dari jumlah tersebut, terdapat 19 karya esai yang masuk dalam proses penilaian. Seluruh karya kemudian dinilai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan panitia bersama dewan juri.
Hasil penilaian akhirnya menetapkan tiga karya terbaik sebagai pemenang Sociology Olympic 2026.
Adapun pemenangnya yakni Ricardo Antholin Chandrawinata dari Universitas Airlangga sebagai Juara 1, Rajif Muzamil Rohman dari Universitas Negeri Yogyakarta sebagai Juara 2, dan Fahrul Islami dari Universitas Hasanuddin sebagai Juara 3.
Ricardo Antholin Chandrawinata mengaku terkejut sekaligus bersyukur setelah mengetahui dirinya berhasil meraih posisi pertama.
“Jujur pas pertama kali dengar pengumuman, rasanya kaget banget sekaligus bersyukur kepada Tuhan. Nggak nyangka kerja keras buat persiapan lomba ini akhirnya terbayar dengan Juara 1,” ungkap Ricardo.
Peraih Juara 1 tersebut juga menyampaikan apresiasi kepada dosen, teman-teman, dan keluarga yang telah memberikan dukungan selama proses persiapan mengikuti kompetisi.
Dorong Generasi Muda Peduli Lingkungan
Ketua Pelaksana Sociology Olympic 2026, Richel Febian Ana Putri, mengatakan kompetisi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan lingkungan.
Menurutnya, masih rendahnya kesadaran terhadap berbagai permasalahan lingkungan menjadi salah satu alasan isu tersebut diangkat dalam Sociology Olympic tahun ini.
“Harapannya, melalui lomba ini masyarakat, terutama generasi muda, dapat semakin melek terhadap isu lingkungan, memahami dampaknya, dan mampu memikirkan solusi dari berbagai persoalan yang ada,” ujar Richel.
Ia berharap budaya literasi dan menulis juga semakin berkembang melalui kegiatan tersebut. Dengan demikian, gagasan yang dituangkan peserta tidak hanya berhenti menjadi sebuah tulisan.
“Kami juga berharap kegiatan ini dapat meningkatkan budaya literasi dan menulis, sehingga gagasan-gagasan yang muncul tidak berhenti sebagai tulisan, tetapi dapat menjadi langkah kecil untuk membawa perubahan,” lanjutnya.
Richel juga berharap penyelenggaraan Sociology Olympic pada tahun berikutnya dapat menjangkau lebih banyak peserta dari berbagai kalangan.
Menurutnya, semakin luas partisipasi yang terlibat, semakin beragam perspektif dan gagasan yang dapat muncul dalam melihat persoalan lingkungan.
“Untuk event selanjutnya, saya berharap partisipasi masyarakat dapat semakin meningkat. Semakin banyak generasi muda yang kritis terhadap lingkungan, semakin banyak pula karya dan gagasan yang bisa dihasilkan,” kata Richel.
Ia berharap Sociology Olympic dapat terus menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkarya, meningkatkan literasi, serta menyuarakan kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Melalui Sociology Olympic 2026, HMJ Sosiologi Unila berupaya menjadikan kompetisi tersebut bukan sekadar ajang perlombaan esai.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan kemampuan literasi, membangun sikap kritis terhadap persoalan lingkungan, dan menghasilkan gagasan yang dapat mendorong perubahan positif di tengah masyarakat.







