BANDAR LAMPUNG, Merapah.com — Bertahun-tahun penelitian dilakukan, ratusan halaman ditulis, data dikumpulkan, dan berbagai temuan dihasilkan. Namun setelah skripsi, tesis, atau disertasi selesai, tidak sedikit karya tersebut justru berhenti menjadi arsip akademik.
Kondisi itu menjadi salah satu perhatian Komunitas Kolumnis dalam pelatihan “Alih Bahasa Karya Ilmiah Menjadi Buku Populer” yang digelar secara daring melalui Google Meet, Sabtu (5/9/2026).
Pelatihan yang dimulai pukul 09.00 WIB itu mempertemukan guru, dosen, mahasiswa, penulis, dan praktisi untuk membahas bagaimana pengetahuan yang lahir dari ruang akademik dapat diterjemahkan menjadi bacaan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pesertanya antara lain berasal dari SMA Negeri 12 Bandar Lampung, SMA Negeri 9 Bandar Lampung, Jurusan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung, serta berbagai latar belakang lainnya.
Salah satu narasumber, Nenny Makmun, menilai penelitian yang telah dituangkan dalam karya ilmiah sebenarnya belum mencapai titik akhir ketika naskah diserahkan kepada kampus.
Nenny yang merupakan pengajar SD Inklusi, pengelola penerbitan Azkiya dan Sanggar Anak Rumah Hijau, sekaligus penulis fiksi dan novel, mengatakan hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi buku populer ilmiah.
Menurutnya, persoalannya bukan pada kualitas pengetahuan dalam karya ilmiah, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut dikomunikasikan.
“Disertasi perlu diubah menjadi buku populer ilmiah agar bisa dinikmati orang awam. Dengan begitu, jangkauan dan dampak pengetahuan menjadi lebih besar,” ujar Nenny.
Ia menyebut proses tersebut sebagai upaya memberikan “afterlife” bagi karya ilmiah. Penelitian yang sebelumnya memiliki pembaca terbatas di lingkungan akademik dapat memperoleh kehidupan baru ketika dikemas dengan bahasa yang lebih komunikatif.
Tidak hanya memperpanjang usia sebuah penelitian, buku populer juga berpotensi memperkuat reputasi dan pengaruh penulis.
Bagi akademisi, karya populer dapat menjadi sarana menunjukkan kepakaran sekaligus menjelaskan gagasan kepada publik tanpa harus terjebak dalam bahasa akademik yang sulit dipahami.
Akademisi Tidak Harus Membawa Semua Isi Disertasi
Nenny menjelaskan, mengubah karya ilmiah menjadi buku populer bukan berarti memindahkan seluruh isi skripsi, tesis, atau disertasi ke dalam format buku.
Ada sejumlah bagian yang perlu ditata ulang.
Bahasa yang sebelumnya formal dan akademis dapat dibuat lebih cair. Struktur pembahasan pun perlu dibangun secara naratif agar pembaca merasa sedang mengikuti sebuah gagasan, bukan membaca laporan penelitian.
Bagian teknis seperti metodologi penelitian yang terlalu panjang, data mentah, maupun tinjauan pustaka yang tidak terlalu relevan bagi pembaca umum dapat dikurangi.
Sebaliknya, penulis dapat memperbanyak konteks, ilustrasi, contoh, cerita, serta konsekuensi atau manfaat penelitian bagi kehidupan masyarakat.
“Fokus pada so what,” kata Nenny.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembaca umum tidak selalu membutuhkan seluruh proses penelitian. Mereka lebih membutuhkan pemahaman mengenai persoalan, temuan, serta alasan mengapa pengetahuan tersebut penting bagi kehidupan mereka.
Nenny mencontohkan pengalamannya mengolah disertasi berjudul “Penguatan Literasi Nalar Kritis melalui Upaya Lembaga (Studi Kasus pada Komunitas Belajar Qoriyah Toyyibah Salatiga)” menjadi buku berjudul “Belajar yang Memerdekakan.”
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah judul akademik dapat dikemas ulang menjadi lebih sederhana dan memiliki daya tarik bagi pembaca.
“Usahakan membuat judul yang eye-catching dan menarik,” ujarnya.
Satu Karya Bisa Dibongkar Menjadi Banyak Gagasan
Dosen FISIP Universitas Baturaja, Sumatera Selatan, Yahnu Wiguno Sanyoto, melihat karya ilmiah sebagai sumber yang dapat diolah menjadi berbagai bentuk tulisan.
Menurut dia, penulis tidak harus selalu menjadikan keseluruhan penelitian sebagai satu buku. Data dan temuan yang ada dapat dipecah menjadi tulisan dengan tema yang lebih spesifik, termasuk artikel jurnal.
Ia memperkenalkan pentingnya melihat hubungan antara data, cerita, dan makna dalam membangun tulisan.
Data memberikan informasi kepada pembaca. Cerita membantu pembaca memahami persoalan. Sedangkan makna memberikan arah terhadap perspektif yang hendak dibangun.
“Data berkontribusi untuk memberikan informasi, cerita bisa memberikan kita pemahaman, sementara makna memberikan arah tulisan kita mau dijelaskan ke arah mana,” jelas Yahnu.
Dengan cara tersebut, satu penelitian dapat menghasilkan sejumlah karya dengan fokus berbeda. Setiap tulisan dapat memiliki judul yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan publikasi.
Bahasa Sederhana Bukan Berarti Mengurangi Bobot Ilmiah
Sementara itu, jurnalis Lampung Post Setiaji Bintang Pamungkas menekankan pentingnya kemampuan menyederhanakan bahasa tanpa menghilangkan substansi.
Menurut Setiaji, buku populer yang mengangkat hasil penelitian harus dapat dibaca masyarakat dari berbagai latar belakang.
Ia mengutip pandangan pendiri Kompas, Jakob Oetama, mengenai ukuran tulisan yang baik.
“Kalau tukang becak membaca tulisan itu menjadi paham, itu adalah tulisan bagus,” kata Setiaji.
Prinsip tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa kemampuan menyampaikan gagasan secara sederhana justru merupakan kekuatan seorang penulis.
Karya yang kaya teori dan data tidak otomatis menjadi karya yang komunikatif jika pembaca kesulitan memahami pesan yang ingin disampaikan.
Setiaji juga melihat buku populer sebagai peluang bagi akademisi untuk membangun positioning.
Selama ini akademisi banyak dikenal melalui jurnal, artikel ilmiah, atau hasil penelitian. Dengan mengubah gagasan akademiknya menjadi buku populer, mereka dapat membangun identitas yang lebih kuat sebagai penulis sekaligus ahli di bidang tertentu.
Buku Tidak Lagi Hanya Berada di Rak
Perubahan perilaku pembaca di era digital juga membuat penulis perlu memikirkan bagaimana sebuah karya ditemukan.
Setiaji mengatakan buku populer yang lahir dari karya ilmiah dapat dipasarkan dalam berbagai format, mulai dari buku fisik, buku digital hingga konten yang dipublikasikan melalui website.
Karena itu, penulis perlu memahami konsep Search Engine Optimization (SEO).
Menurutnya, kemampuan memilih kata kunci, menyusun judul, membuat subjudul, serta membangun struktur tulisan yang SEO friendly dapat membantu karya lebih mudah ditemukan masyarakat melalui mesin pencari.
“Karya populer yang diadopsi dari karya ilmiah nantinya bisa didistribusikan melalui buku konvensional, buku digital ataupun website. Karena itu dibutuhkan kemampuan untuk membuat karya yang SEO friendly,” ujarnya.
Artinya, perjalanan sebuah karya ilmiah tidak lagi berhenti ketika penelitian selesai atau buku diterbitkan. Di era digital, penulis juga perlu memikirkan bagaimana gagasannya ditemukan dan dikonsumsi pembaca.
Membawa Pengetahuan Keluar dari Kampus
Founder Kolumnis.id Acil mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong karya tulis agar memiliki dampak yang lebih luas.
Ia melihat banyak karya yang lahir dari guru, dosen, mahasiswa, maupun praktisi sebenarnya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang layak dibagikan kepada publik.
Melalui kegiatan tersebut, Kolumnis ingin memberikan ruang bagi peserta dan anggotanya untuk mengembangkan karya-karya tersebut sehingga ikut berkontribusi terhadap peningkatan literasi masyarakat.
“Melalui event ini kita akan memberikan ruang bagi seluruh karya-karya tulis para peserta dan anggota Kolumnis untuk meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat di Provinsi Lampung dan nasional,” kata Acil.
Pelatihan ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang teknik menulis buku.
Lebih jauh, kegiatan tersebut mendorong perubahan cara pandang terhadap karya ilmiah: penelitian bukan sekadar syarat akademik, melainkan sumber pengetahuan yang harus bisa keluar dari ruang kampus dan hadir di tengah masyarakat.












