Sabtu, September 12, 2026
No Result
View All Result
Merapah.com
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini
Merapah.com
Home Berita

Jangan Biarkan Skripsi dan Disertasi Berhenti di Perpustakaan, Kolumnis Dorong Akademisi Sasar Pembaca Umum

Putri S by Putri S
September 5, 2026
in Berita, Komunitas
Jangan Biarkan Skripsi dan Disertasi Berhenti di Perpustakaan, Kolumnis Dorong Akademisi Sasar Pembaca Umum
FacebookWhatsappTelegramTwitter

 

BANDAR LAMPUNG, Merapah.com — Bertahun-tahun penelitian dilakukan, ratusan halaman ditulis, data dikumpulkan, dan berbagai temuan dihasilkan. Namun setelah skripsi, tesis, atau disertasi selesai, tidak sedikit karya tersebut justru berhenti menjadi arsip akademik.

Related posts

Perumnas Tawarkan Booking Rumah Mulai Rp1 Juta di REI Expo 2026

Perumnas Tawarkan Booking Rumah Mulai Rp1 Juta di REI Expo 2026

September 10, 2026
SMK Go Global Buka Peluang Kerja Internasional bagi Warga Lampung

SMK Go Global Buka Peluang Kerja Internasional bagi Warga Lampung

September 10, 2026

Kondisi itu menjadi salah satu perhatian Komunitas Kolumnis dalam pelatihan “Alih Bahasa Karya Ilmiah Menjadi Buku Populer” yang digelar secara daring melalui Google Meet, Sabtu (5/9/2026).

Pelatihan yang dimulai pukul 09.00 WIB itu mempertemukan guru, dosen, mahasiswa, penulis, dan praktisi untuk membahas bagaimana pengetahuan yang lahir dari ruang akademik dapat diterjemahkan menjadi bacaan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Pesertanya antara lain berasal dari SMA Negeri 12 Bandar Lampung, SMA Negeri 9 Bandar Lampung, Jurusan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung, serta berbagai latar belakang lainnya.

Salah satu narasumber, Nenny Makmun, menilai penelitian yang telah dituangkan dalam karya ilmiah sebenarnya belum mencapai titik akhir ketika naskah diserahkan kepada kampus.

Nenny yang merupakan pengajar SD Inklusi, pengelola penerbitan Azkiya dan Sanggar Anak Rumah Hijau, sekaligus penulis fiksi dan novel, mengatakan hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi buku populer ilmiah.

Menurutnya, persoalannya bukan pada kualitas pengetahuan dalam karya ilmiah, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut dikomunikasikan.

“Disertasi perlu diubah menjadi buku populer ilmiah agar bisa dinikmati orang awam. Dengan begitu, jangkauan dan dampak pengetahuan menjadi lebih besar,” ujar Nenny.

Ia menyebut proses tersebut sebagai upaya memberikan “afterlife” bagi karya ilmiah. Penelitian yang sebelumnya memiliki pembaca terbatas di lingkungan akademik dapat memperoleh kehidupan baru ketika dikemas dengan bahasa yang lebih komunikatif.

Tidak hanya memperpanjang usia sebuah penelitian, buku populer juga berpotensi memperkuat reputasi dan pengaruh penulis.

Bagi akademisi, karya populer dapat menjadi sarana menunjukkan kepakaran sekaligus menjelaskan gagasan kepada publik tanpa harus terjebak dalam bahasa akademik yang sulit dipahami.

Akademisi Tidak Harus Membawa Semua Isi Disertasi

Nenny menjelaskan, mengubah karya ilmiah menjadi buku populer bukan berarti memindahkan seluruh isi skripsi, tesis, atau disertasi ke dalam format buku.

Ada sejumlah bagian yang perlu ditata ulang.

Bahasa yang sebelumnya formal dan akademis dapat dibuat lebih cair. Struktur pembahasan pun perlu dibangun secara naratif agar pembaca merasa sedang mengikuti sebuah gagasan, bukan membaca laporan penelitian.

Bagian teknis seperti metodologi penelitian yang terlalu panjang, data mentah, maupun tinjauan pustaka yang tidak terlalu relevan bagi pembaca umum dapat dikurangi.

Sebaliknya, penulis dapat memperbanyak konteks, ilustrasi, contoh, cerita, serta konsekuensi atau manfaat penelitian bagi kehidupan masyarakat.

“Fokus pada so what,” kata Nenny.

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembaca umum tidak selalu membutuhkan seluruh proses penelitian. Mereka lebih membutuhkan pemahaman mengenai persoalan, temuan, serta alasan mengapa pengetahuan tersebut penting bagi kehidupan mereka.

Nenny mencontohkan pengalamannya mengolah disertasi berjudul “Penguatan Literasi Nalar Kritis melalui Upaya Lembaga (Studi Kasus pada Komunitas Belajar Qoriyah Toyyibah Salatiga)” menjadi buku berjudul “Belajar yang Memerdekakan.”

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah judul akademik dapat dikemas ulang menjadi lebih sederhana dan memiliki daya tarik bagi pembaca.

“Usahakan membuat judul yang eye-catching dan menarik,” ujarnya.

Satu Karya Bisa Dibongkar Menjadi Banyak Gagasan

Dosen FISIP Universitas Baturaja, Sumatera Selatan, Yahnu Wiguno Sanyoto, melihat karya ilmiah sebagai sumber yang dapat diolah menjadi berbagai bentuk tulisan.

Menurut dia, penulis tidak harus selalu menjadikan keseluruhan penelitian sebagai satu buku. Data dan temuan yang ada dapat dipecah menjadi tulisan dengan tema yang lebih spesifik, termasuk artikel jurnal.

Ia memperkenalkan pentingnya melihat hubungan antara data, cerita, dan makna dalam membangun tulisan.

Data memberikan informasi kepada pembaca. Cerita membantu pembaca memahami persoalan. Sedangkan makna memberikan arah terhadap perspektif yang hendak dibangun.

“Data berkontribusi untuk memberikan informasi, cerita bisa memberikan kita pemahaman, sementara makna memberikan arah tulisan kita mau dijelaskan ke arah mana,” jelas Yahnu.

Dengan cara tersebut, satu penelitian dapat menghasilkan sejumlah karya dengan fokus berbeda. Setiap tulisan dapat memiliki judul yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan publikasi.

Bahasa Sederhana Bukan Berarti Mengurangi Bobot Ilmiah

Sementara itu, jurnalis Lampung Post Setiaji Bintang Pamungkas menekankan pentingnya kemampuan menyederhanakan bahasa tanpa menghilangkan substansi.

Menurut Setiaji, buku populer yang mengangkat hasil penelitian harus dapat dibaca masyarakat dari berbagai latar belakang.

Ia mengutip pandangan pendiri Kompas, Jakob Oetama, mengenai ukuran tulisan yang baik.

“Kalau tukang becak membaca tulisan itu menjadi paham, itu adalah tulisan bagus,” kata Setiaji.

Prinsip tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa kemampuan menyampaikan gagasan secara sederhana justru merupakan kekuatan seorang penulis.

Karya yang kaya teori dan data tidak otomatis menjadi karya yang komunikatif jika pembaca kesulitan memahami pesan yang ingin disampaikan.

Setiaji juga melihat buku populer sebagai peluang bagi akademisi untuk membangun positioning.

Selama ini akademisi banyak dikenal melalui jurnal, artikel ilmiah, atau hasil penelitian. Dengan mengubah gagasan akademiknya menjadi buku populer, mereka dapat membangun identitas yang lebih kuat sebagai penulis sekaligus ahli di bidang tertentu.

Buku Tidak Lagi Hanya Berada di Rak

Perubahan perilaku pembaca di era digital juga membuat penulis perlu memikirkan bagaimana sebuah karya ditemukan.

Setiaji mengatakan buku populer yang lahir dari karya ilmiah dapat dipasarkan dalam berbagai format, mulai dari buku fisik, buku digital hingga konten yang dipublikasikan melalui website.

Karena itu, penulis perlu memahami konsep Search Engine Optimization (SEO).

Menurutnya, kemampuan memilih kata kunci, menyusun judul, membuat subjudul, serta membangun struktur tulisan yang SEO friendly dapat membantu karya lebih mudah ditemukan masyarakat melalui mesin pencari.

“Karya populer yang diadopsi dari karya ilmiah nantinya bisa didistribusikan melalui buku konvensional, buku digital ataupun website. Karena itu dibutuhkan kemampuan untuk membuat karya yang SEO friendly,” ujarnya.

Artinya, perjalanan sebuah karya ilmiah tidak lagi berhenti ketika penelitian selesai atau buku diterbitkan. Di era digital, penulis juga perlu memikirkan bagaimana gagasannya ditemukan dan dikonsumsi pembaca.

Membawa Pengetahuan Keluar dari Kampus

Founder Kolumnis.id Acil mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong karya tulis agar memiliki dampak yang lebih luas.

Ia melihat banyak karya yang lahir dari guru, dosen, mahasiswa, maupun praktisi sebenarnya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang layak dibagikan kepada publik.

Melalui kegiatan tersebut, Kolumnis ingin memberikan ruang bagi peserta dan anggotanya untuk mengembangkan karya-karya tersebut sehingga ikut berkontribusi terhadap peningkatan literasi masyarakat.

“Melalui event ini kita akan memberikan ruang bagi seluruh karya-karya tulis para peserta dan anggota Kolumnis untuk meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat di Provinsi Lampung dan nasional,” kata Acil.

Pelatihan ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang teknik menulis buku.

Lebih jauh, kegiatan tersebut mendorong perubahan cara pandang terhadap karya ilmiah: penelitian bukan sekadar syarat akademik, melainkan sumber pengetahuan yang harus bisa keluar dari ruang kampus dan hadir di tengah masyarakat.

Tags: disertasijurnalKarya ilmiahKolumnisskripsitesis
Previous Post

HMJ Sosiologi Unila dan KSR PMI Gelar Donor Darah “Detak Sejuta Hati”

Next Post

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Aktivitas Pelabuhan Panjang Tetap Normal

Next Post
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Aktivitas Pelabuhan Panjang Tetap Normal

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Aktivitas Pelabuhan Panjang Tetap Normal

Pengurus Bundokanduang Minangkabau Provinsi Lampung 2026-2030 Resmi Dikukuhkan

Pengurus Bundokanduang Minangkabau Provinsi Lampung 2026-2030 Resmi Dikukuhkan

Tim PKM-K Universitas Lampung Lolos Pendanaan Nasional Lewat Inovasi LUMICA Berbasis Limbah Kopi dan Kulit Lemon

Tim PKM-K Universitas Lampung Lolos Pendanaan Nasional Lewat Inovasi LUMICA Berbasis Limbah Kopi dan Kulit Lemon

Mahasiswa KKN Unila Kenalkan SIMPUL TANI, Bantu Petani Tentukan Pemupukan Lebih Tepat

Mahasiswa KKN Unila Kenalkan SIMPUL TANI, Bantu Petani Tentukan Pemupukan Lebih Tepat

Bukan Lagi Sekadar Mimpi, REI-BRI Property Expo 2026 Dorong Masyarakat Lampung Berani Punya Rumah

Bukan Lagi Sekadar Mimpi, REI-BRI Property Expo 2026 Dorong Masyarakat Lampung Berani Punya Rumah

RECOMMENDED NEWS

BSN Jalin Kerja Sama dengan Universitas Islam An-Nur Lampung dan Universitas Wira Buana Metro

BSN Jalin Kerja Sama dengan Universitas Islam An-Nur Lampung dan Universitas Wira Buana Metro

4 bulan ago
KOMPASS Soroti Hilangnya Kontak Mama Yasinta Moiwend, Desak Negara Beri Perlindungan

KOMPASS Soroti Hilangnya Kontak Mama Yasinta Moiwend, Desak Negara Beri Perlindungan

3 bulan ago
GARDA FAIR 2026 Jadi Ajang Kreativitas Pelajar Lampung

GARDA FAIR 2026 Jadi Ajang Kreativitas Pelajar Lampung

4 bulan ago
Harga emas Antam pada 1 Juni 2026 tercatat mencapai Rp2.949.000 per gram. Kenaikan ini membuat emas tetap menjadi pilihan investasi yang diminati masyarakat.

Harga Emas Antam 1 Juni 2026 Naik, Tembus Rp2,94 Juta per Gram

3 bulan ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

antam Bandar Lampung berita berita cuaca berita lampung berita pendidikan Bisnis BMKG bmkg Lampung cerpen Cuaca cuaca Lampung digitalisasi ekonomi Ekonomi bisnis emas erson agustinus gen z harga emas Honda hujan di Lampung Indonesia inspirasi Istana Negara kegiatan mahasiswa kesehatan Lampung Lampung Selatan Lifestyle mahasiswa Mahasiswa KKN Mitra Bentala olahraga Opini otomotif Pelindo pendidikan prakiraan cuaca Prakiraan cuaca Lampung Teknologi tips tips dan trik Tips Kesehatan ubs Universitas Lampung

POPULAR NEWS

  • Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    468 shares
    Share 187 Tweet 117
  • Mempercayai Weton Tulang Wangi dalam Perspektif Islam

    426 shares
    Share 170 Tweet 107
  • Enam Permainan Sederhana Tingkatan Motorik Anak

    421 shares
    Share 168 Tweet 105
  • Tiga Aplikasi Gratisan untuk Edit Video di Ponsel Kamu

    417 shares
    Share 167 Tweet 104
  • Tiga Tips Manager untuk Memiliki Karyawan Profesional

    415 shares
    Share 166 Tweet 104
Merapah.com

Follow us on social media:

Recent News

  • Perumnas Tawarkan Booking Rumah Mulai Rp1 Juta di REI Expo 2026
  • SMK Go Global Buka Peluang Kerja Internasional bagi Warga Lampung
  • Festival Desa Lestari Apresiasi Dinas Perkebunan Pesawaran, Petani Terima STDB

Category

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • About
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2026 - Merapah.com

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini

© 2026 - Merapah.com