Oleh: Putri Fajar Andini
Merapah.com — Transisi energi Indonesia bukan hanya soal mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan. Perubahan ini juga berpotensi membuka jutaan lapangan pekerjaan sekaligus mengubah keterampilan yang dibutuhkan tenaga kerja.
Studi yang dikomisioning International Labour Organization (ILO) dan dikerjakan peneliti Universitas Indonesia memperkirakan transisi menuju pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan dapat memberikan dampak positif terhadap ketenagakerjaan Indonesia.
Dalam skenario yang sejalan dengan target Paris Agreement, pekerjaan langsung di industri pembangkitan listrik diproyeksikan mencapai 5,86 juta hingga 2050.
Jika dampak tidak langsung dan dampak lanjutan terhadap sektor perekonomian turut diperhitungkan, keuntungan bersih pekerjaan (net job gain) diperkirakan mencapai 12,17 juta pekerjaan.
Angka tersebut bukan berarti 12,17 juta orang akan langsung memperoleh pekerjaan baru. Proyeksi itu merupakan keuntungan bersih pekerjaan di seluruh perekonomian setelah memperhitungkan pekerjaan yang tercipta sekaligus pekerjaan yang berpotensi hilang akibat berkurangnya pembangkitan berbasis energi fosil.
Mayoritas Berada di Konstruksi dan Instalasi
Dari 5,86 juta potensi pekerjaan langsung di industri pembangkitan listrik, sekitar 4,37 juta pekerjaan atau 75 persen diproyeksikan berada pada tahap konstruksi dan instalasi pembangkit energi terbarukan.
Peluang tersebut juga dapat menjalar ke sektor lain, seperti konstruksi, perdagangan, manufaktur mesin dan peralatan pembangkit listrik, hingga transportasi.
Artinya, manfaat ketenagakerjaan dari transisi energi tidak hanya berada pada pekerjaan yang secara langsung berkaitan dengan pembangkit listrik.
Indonesia Mulai Menyiapkan Ekosistemnya
Arah tersebut sejalan dengan rencana pembangunan ketenagalistrikan Indonesia.
Dalam RUPTL PLN 2025–2034, pemerintah menetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sebanyak 52,9 GW atau 76 persen berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi.
Implementasinya diperkirakan menciptakan lebih dari 1,7 juta lapangan kerja baru. Khusus sektor pembangkitan, kebutuhan tenaga kerja diproyeksikan mencapai sekitar 836.696 orang, dengan lebih dari 760 ribu di antaranya dikategorikan sebagai green jobs.
Angka ini menunjukkan bahwa perubahan kebutuhan tenaga kerja bukan lagi sekadar wacana. Pembangunan energi terbarukan sudah masuk dalam perencanaan ketenagalistrikan Indonesia untuk satu dekade ke depan.
Tantangannya: Siapa yang Akan Mengisinya?
Besarnya potensi pekerjaan tersebut membawa pertanyaan berikutnya: apakah tenaga kerja Indonesia sudah memiliki keterampilan yang dibutuhkan?
ILO menekankan pentingnya reskilling dan upskilling agar pekerja mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pekerjaan masa depan.
Pada 2 September 2026, ILO bersama Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda juga mendorong pengembangan keterampilan generasi muda dan tenaga kerja untuk menghadapi transisi energi.
Menurut saya, bagian ini tidak kalah penting dari pembangunan pembangkitnya sendiri.
Indonesia memang membutuhkan energi yang lebih bersih, tetapi jutaan peluang kerja tidak otomatis menjadi peluang bagi pekerja Indonesia apabila keterampilan yang dibutuhkan belum tersedia.
Karena itu, transisi energi seharusnya berjalan beriringan dengan pendidikan vokasi, pelatihan, sertifikasi, reskilling, dan upskilling tenaga kerja.
Pada akhirnya, 12,17 juta pekerjaan bukan hanya angka tentang peluang ekonomi. Angka itu juga menjadi pertanyaan tentang kesiapan manusia Indonesia.
Transisi energi bukan sekadar mengubah sumber listrik. Ia juga mengubah cara Indonesia bekerja.









