Oleh: Erson Agustinus (Pengamat Perbankan)_
Masih belum lepas dari ingatan peristiwa ketika Presiden Prabowo Subianto melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025 menggantikan Sri Mulyani.
Purbaya Yudhi Sadewa ditunjuk menggantikan Sri Mulyani dengan membawa pendekatan fiskal yang berorientasi pada percepatan pertumbuhan ekonomi, seperti memindahkan dana pemerintah dari Bank Indonesia ke perbankan nasional diawal beliau diangkat sebagai Menteri Keuangan, namun baru setahun beliau menjabat tepatnya tanggal 14 September 2026 beliau dicopot sebagai Menteri Keuangan dan digantikan oleh Suahasil Nazara.
Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan membawa implikasi penting bagi sektor perbankan, terutama mengingat kebijakan ikonik beliau sebelumnya yang mengguyur likuiditas Rp200 triliun ke bank Himbara.
Ada beberapa dampak spesifik dari pergantian tersebut terhadap sektor perbankan.
Penyesuaian Strategi Likuiditas dan Cost of Fund :
1. Di awal pergantian Purbaya Potensi Pengetatan Likuiditas; selama menjabat, kebijakan penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) Rp200 triliun di bank umum berhasil melonggarkan likuiditas, menurunkan suku bunga deposito, serta membuat biaya dana (cost of fund) perbankan lebih murah.
2. Sikap Kehati-hatian Bank; dengan pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan, perbankan kini mengantisipasi arah kebijakan fiskal baru—apakah fasilitas pelonggaran atau penempatan dana serupa akan dilanjutkan atau dievaluasi, sehingga bank cenderung lebih konservatif dalam mengelola likuiditas jangka pendek, namun pada konfrensi pers APBN Kita periode September 2026 ternyata Suahasil Nazara masih memperpanjang penempatan danal SAL hingga tahun 2027.
Normalisasi Suku Bunga dan Persaingan DPK :
1. Tekanan pada Bunga DPK; suntikan likuiditas besar-besaran era Purbaya sempat meredam persaingan perebutan Dana Pihak Ketiga (DPK) antarbank.
2. Risiko Persaingan Ulang; tanpa kelanjutan intervensi likuiditas yang masif, bank-bank (terutama kelompok Himbara dan bank menengah) berpotensi kembali menaikkan suku bunga simpanan secara kompetitif untuk menjaga kecukupan likuiditas penyaluran kredit.
*• Arah Penyaluran Kredit dan Pertumbuhan Sektor Riil :*
1. Kuartum Penyaluran Kredit; pada masa kepemimpinan Purbaya, pertumbuhan kredit sempat terdorong kuat (tumbuh double digit hingga pertengahan 2026) karena dorongan likuiditas yang memaksa bank aktif menyalurkan pinjaman.
2. Evaluasi Target Kredit; penggantian Menkeu membuat perbankan mencermati kembali target ekspansi kredit, khususnya pada sektor-sektor yang sebelumnya mendapat dorongan penugasan likuiditas khusus, agar tetap sejalan dengan asesmen risiko dan arah makroprudensial Bank Indonesia yang baru.
Harapan Sektor Perbankan Kepada Suahasil Nazara
Sektor perbankan berharap kepemimpinan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dapat menjaga kepastian usaha, mempertahankan kesinambungan kebijakan fiskal, serta mengelola penempatan likuiditas pemerintah secara terukur tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan.







