Oleh: Putri Fajar Andini
Merapah.com – Pernahkah sebuah keluarga duduk bersama di meja makan, tetapi masing-masing sibuk menatap layar ponsel? Orang tua membaca pesan pekerjaan, anak menonton video, sementara percakapan hanya berlangsung sesekali. Pemandangan seperti ini mengundang pertanyaan: ketika teknologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, apakah hubungan antaranggota keluarga ikut berubah?
Pertanyaan tersebut tidak berarti bahwa teknologi selalu merusak hubungan keluarga. Ponsel dan internet dapat membantu anak belajar, memudahkan orang tua berkomunikasi, serta menjaga hubungan dengan anggota keluarga yang tinggal berjauhan. Namun, teknologi juga menghadirkan tantangan baru, terutama ketika penggunaan perangkat digital berbenturan dengan kebutuhan untuk berinteraksi, membangun kepercayaan, dan menjalankan pengasuhan.
Persoalannya bukan semata-mata berapa lama anak menggunakan gawai, melainkan bagaimana teknologi memengaruhi kebiasaan, aturan, dan hubungan sosial di dalam keluarga.
Internet Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Perkembangan internet di Indonesia menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat semakin terhubung dengan ruang digital. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa penetrasi internet Indonesia mencapai 79,5 persen pada 2024, dengan estimasi sekitar 221,56 juta pengguna. Data ini menggambarkan luasnya penggunaan internet di masyarakat.
Meski demikian, angka tersebut tidak secara khusus menunjukkan jumlah anak yang menggunakan internet ataupun perubahan kualitas komunikasi dalam keluarga. Data penetrasi internet perlu dibaca sesuai cakupannya: sebagai gambaran luasnya akses digital, bukan bukti bahwa hubungan orang tua dan anak menjadi lebih renggang.
Ketika internet menjadi bagian dari kegiatan belajar, hiburan, pekerjaan, dan komunikasi, kehidupan keluarga pun berhadapan dengan lingkungan sosial yang berbeda. Anak dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, menjalin pertemanan secara daring, dan mempelajari hal-hal yang sebelumnya lebih banyak diperoleh melalui keluarga, sekolah, atau lingkungan sekitar.
Perubahan ini membuat orang tua tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi bagi anak. Anak dapat membandingkan penjelasan orang tua dengan informasi yang ditemukan di internet. Situasi tersebut dapat memperkaya pengetahuan anak, tetapi juga menuntut keluarga untuk membangun kebiasaan berdiskusi dan memeriksa kebenaran informasi bersama.
Ketika Orang Tua Tidak Lagi Menjadi Satu-satunya Sumber Pengetahuan
Dalam keluarga, orang tua umumnya memiliki tanggung jawab untuk membimbing, melindungi, dan menetapkan aturan bagi anak. Akan tetapi, perkembangan teknologi menghadirkan situasi ketika anak terkadang lebih cepat memahami aplikasi, tren digital, atau fitur tertentu dibandingkan orang tuanya.
Perbedaan kemampuan tersebut dapat mengubah cara anggota keluarga berinteraksi. Orang tua mungkin memiliki pengalaman hidup yang lebih luas, tetapi belum tentu memahami seluruh aktivitas digital anak. Sebaliknya, anak mungkin menguasai teknologi, tetapi masih membutuhkan bimbingan untuk menilai informasi, menjaga privasi, dan mengenali risiko di internet.
Dari sudut pandang sosiologi, keadaan ini berkaitan dengan perubahan otoritas dalam keluarga. Otoritas orang tua tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga tanggung jawab, pengalaman, sumber daya, dan hubungan emosional dengan anak. Karena itu, kemampuan anak menggunakan teknologi tidak otomatis menghilangkan kewenangan orang tua. Yang berubah adalah cara kewenangan tersebut dijalankan dan dipertanggungjawabkan.
Larangan sepihak tanpa penjelasan dapat memicu perbedaan pandangan, sedangkan kebebasan tanpa pendampingan juga dapat membuat anak kesulitan menghadapi risiko digital. Keluarga perlu menemukan keseimbangan antara perlindungan dan kesempatan bagi anak untuk belajar bertanggung jawab.
Pengasuhan Digital Bukan Sekadar Melarang Gawai
Penggunaan internet oleh anak juga berkaitan dengan persoalan perlindungan. Laporan Disrupting Harm in Indonesia yang diterbitkan UNICEF dan ECPAT International pada 2022 mengkaji pengalaman anak berusia 12–17 tahun terkait eksploitasi dan pelecehan seksual yang difasilitasi teknologi digital. Laporan ini menunjukkan pentingnya memperhatikan keamanan anak di ruang daring, bukan hanya aktivitas mereka di dunia fisik.
Namun, keberadaan risiko digital tidak berarti setiap anak pasti mengalami kekerasan atau eksploitasi. Temuan tersebut lebih tepat digunakan untuk menekankan perlunya perlindungan, literasi digital, dan komunikasi yang memungkinkan anak meminta pertolongan ketika menghadapi masalah.
Di sinilah pengasuhan digital memiliki peran penting. Orang tua perlu memahami aktivitas digital anak, menetapkan batas penggunaan yang sesuai, serta membicarakan cara menjaga data pribadi dan menghadapi interaksi yang tidak aman. Pendampingan semacam ini berbeda dari sekadar memeriksa ponsel atau melarang penggunaan internet.
Anak yang takut langsung dimarahi mungkin memilih menyembunyikan pengalaman buruknya di internet. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dapat membantu anak merasa lebih aman untuk bercerita. Dengan demikian, tujuan pengasuhan digital bukan hanya mengendalikan perangkat, tetapi juga membangun kemampuan anak untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Layar dan Perubahan Kebiasaan Berkomunikasi
Komunikasi keluarga tidak hanya berlangsung melalui percakapan panjang. Menanyakan kabar, mendengarkan cerita anak, berdiskusi tentang masalah sekolah, atau berbagi pengalaman sehari-hari merupakan bagian dari interaksi yang membangun kedekatan emosional.
Penggunaan perangkat digital dapat menjadi tantangan ketika perhatian anggota keluarga terus teralihkan saat mereka sedang berinteraksi. Misalnya, percakapan dapat terputus karena seseorang berulang kali memeriksa notifikasi. Namun, tidak tepat jika setiap penggunaan ponsel langsung dianggap sebagai tanda renggangnya hubungan keluarga. Ponsel juga dapat digunakan untuk berbagi pengalaman, mengerjakan tugas bersama, atau berkomunikasi dengan kerabat.
Karena itu, persoalan utamanya terletak pada konteks penggunaan. Apakah perangkat membantu anggota keluarga saling terhubung, atau justru mengganggu percakapan yang sedang berlangsung? Apakah anak dan orang tua memiliki waktu untuk berbicara tanpa merasa dihakimi atau diabaikan?
Pertanyaan tersebut lebih berguna daripada sekadar memberi label bahwa generasi muda terlalu bergantung pada teknologi. Kebiasaan digital perlu dipahami bersama dengan pola komunikasi, kesibukan anggota keluarga, dan aturan yang berlaku di rumah.
Menegosiasikan Aturan dalam Keluarga Digital
Setiap keluarga memiliki kondisi berbeda. Ada orang tua yang perlu menggunakan ponsel untuk bekerja, ada anak yang menggunakannya untuk pembelajaran, dan ada keluarga yang mengandalkan panggilan video untuk berkomunikasi dengan kerabat jauh. Oleh karena itu, aturan penggunaan gawai tidak dapat diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan setiap anggota keluarga.
Aturan yang disepakati bersama dapat menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan. Misalnya, anggota keluarga sepakat menyimpan ponsel ketika makan bersama, menentukan waktu penggunaan perangkat sebelum tidur, atau mendiskusikan jenis konten yang sesuai dengan usia anak. Kesepakatan tersebut perlu disertai alasan yang jelas dan diterapkan secara konsisten, termasuk oleh orang tua.
Keterlibatan anak dalam pembentukan aturan juga penting. Anak tidak harus menentukan seluruh batas penggunaan gawai sendiri, tetapi dapat diajak memahami alasan di balik aturan dan menyampaikan kebutuhannya. Dengan demikian, aturan tidak hanya menjadi bentuk kontrol, tetapi juga sarana belajar mengenai tanggung jawab dan penghormatan terhadap orang lain.
Pada akhirnya, keluarga perlu menyesuaikan kebiasaan tanpa menganggap teknologi sebagai musuh ataupun membiarkannya mengatur seluruh kehidupan rumah tangga. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menggunakan teknologi secara sadar, sesuai kebutuhan, dan tetap memperhatikan hubungan antarmanusia.
Menjaga Kedekatan di Tengah Perubahan Digital
Teknologi telah memperluas cara keluarga berkomunikasi dan memperoleh informasi. Perubahan ini membawa manfaat sekaligus tantangan bagi hubungan orang tua dan anak. Namun, luasnya penggunaan internet saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kedekatan keluarga semakin menurun. Kesimpulan seperti itu membutuhkan penelitian yang secara khusus mengukur pola komunikasi, penggunaan perangkat, dan kualitas hubungan keluarga.
Hal yang dapat dilakukan keluarga adalah menjaga ruang untuk berdialog, membangun kepercayaan, dan menyepakati aturan digital yang masuk akal. Orang tua tetap memiliki tanggung jawab membimbing anak, sementara anak perlu memperoleh kesempatan untuk belajar mandiri dan menyampaikan pandangannya.
Pada akhirnya, persoalan keluarga di era digital bukan sekadar tentang siapa yang paling lama menatap layar. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana anggota keluarga tetap saling mendengarkan ketika perhatian mereka dapat dengan mudah dialihkan. Teknologi boleh berubah, tetapi hubungan keluarga tetap membutuhkan waktu, kehadiran, dan komunikasi yang bermakna.








