Oleh : Erson Agustinus (Praktisi Ekonomi)
Merapah.com – Mengapa Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan sementara (Trading Halt) dalam beberapa hari kebelakang, setelah IHSG indek turun 8% ke level 7.654,66. Sebanyak 694 saham turun, 34 naik, dan 230 tidak bergerak. Ternyata jatuhnya IHSG dipengaruhi oleh MSCI yang menilai masih adanya persoalan serius pada transparansi dan penilaian free float saham-saham Indonesia dalam Global Standart Indexes.
BACA JUGA: Kejatuhan IHSG Lebih Pada Sentimen Teknis Pengelolaan dan Pengawasan, Bukan Faktor Fundamental Ekonomi, Perlu Reformasi Kebijakan
Profil Morgan Stanley Capital International (MSCI)
MSCI adalah penyedia indeks saham global yang menjadi acuan utama alokasi aset manajer investasi dunia. Sistem bobot kapitalisasi pasar membuat perubahan kecil pada indeks berdampak besar pada arus dana. Pembekuan bobot Indonesia saat ini merupakan sinyal perlunya perbaikan transparansi data pasar modal.

Sebelumnya dikenal sebagai Morgan Stanley Capital International, produk indeks perusahaan ini adalah salah satu acuan terbesar dan terpenting untuk pasar saham di seluruh dunia.
MSCI tidak melakukan investasi sendiri, tetapi keputusan tentang negara dan perusahaan mana yang akan dimasukkan dalam Indeks Pasar Berkembang unggulannya, yang melacak sekitar US$10 triliun saham, dapat memiliki bobot yang sangat besar bagi investor global.
Para penyusun dan penyedia layanan indeks, termasuk FTSE Russell dan S&P Global, telah membentuk kembali lanskap investasi global seiring dengan meningkatnya popularitas dan pengaruh dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) di seluruh dunia.
Bagi manajer dana aktif dan pelacak indeks, keputusan MSCI tentang negara dan perusahaan mana yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dapat memaksa penyeimbangan ulang portofolio secara otomatis dan aliran modal miliaran dolar.
BACA JUGA: D’Dharma Residence Perumahan Subsidi Modern One Gate System Hadir di Natar
Penilaian Negatif MSCI
Dalam suatu kesempatan , MSCI mengeluarkan kebijakan penilaian negatif terhadap pasar saham Indonesia, bahwa kliennya menyoroti masalah seputar data pasar yang mengaburkan proporsi saham perusahaan Indonesia yang dapat diperdagangkan secara bebas (free float) dan bagaimana bursa mengkategorikan pemilik saham.
Penyedia indeks tersebut mengatakan bahwa kliennya menunjukkan struktur kepemilikan saham yang tidak transparan dan perilaku perdagangan terkoordinasi oleh investor pasar yang merusak “pembentukan harga yang tepat”.
MSCI telah memberi Indonesia waktu hingga Mei untuk menunjukkan tanda-tanda kemajuan, di mana pada saat itu mereka akan menilai kembali statusnya. Hal itu dapat mengakibatkan bobot yang lebih rendah untuk Indonesia dalam tolok ukur pasar negara berkembangnya, atau bahkan penurunan status.
Ancaman itulah yang mengejutkan para investor, dan memicu aksi jual besar-besaran.
BACA JUGA: Mencoba Analisa Faktor-Faktor Rupiah Melemah di Saat Arus Deras Capital Inflow Masuk
Akibat Penilaian Negatif Terhadap Pasar Saham Indonesia
Akibat Kebijakan Penilaian Negatif MSCI maka pasar saham Indonesia mengalami gonjang-ganjing berkepanjangan pekan ini. Indeks ambruk setelah perusahaan penyedia layanan indeks global MSCI membekukan saham-saham RI dari portofolio bergengsi miliknya.
Diketahui, MSCI adalah kekuatan besar dalam industri manajemen aset yang saat ini ditaksir bernilai $139 triliun dan keputusannya sangat berpengaruh bagi negara-negara di seluruh dunia – seperti yang dialami investor Indonesia minggu ini.
IHSG sempat anjlok hingga 16,7% selama dua hari perdagangan (Rabu-Kamis) pekan ini, setelah peringatan MSCI bahwa kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market memicu gelombang aksi jual di pasar modal. Indeks pulih kemudian pada sesi kedua perdagangan Kamis, dan sudah mulai menguat pada perdagangan Jumat.
https://youtu.be/lxCZhSvs2vI?si=tx3kLgOYRSlgJTU9













