Merapah.com – Pertamina New & Renewable Energy bekerja sama dengan Toyota Tsusho Corporation untuk membangun pabrik bioetanol di Lampung.
Kerja sama ini memanfaatkan dukungan teknologi dan pengalaman Jepang di sektor energi terbarukan.
Pemerintah mendorong kolaborasi ini sebagai bagian dari penguatan investasi energi bersih.
Proyek tersebut menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengembangkan bahan bakar alternatif.
BACA JUGA: 600 Tanaman Melon Hidroponik di Green House SPP Lampung, Jadi Media Belajar hingga Peluang Komersial
Konstruksi Dimulai 2026, Operasi Bertahap
Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik mulai pada 2026, terutama pada kuartal ketiga hingga keempat.
Pengelola proyek akan mengoperasikan pabrik secara bertahap sesuai kesiapan fasilitas dan produksi.
Skema bertahap ini memberi ruang penyesuaian teknologi dan sistem distribusi. Pemerintah menyiapkan dukungan kebijakan agar proyek berjalan sesuai rencana nasional.
Tim proyek merancang pabrik ini dengan kapasitas awal 60.000 kiloliter per tahun. Kapasitas tersebut menghasilkan sekitar 60 juta liter bioetanol setiap tahun.
Investor memperkirakan nilai proyek mencapai Rp2,5 triliun. Nilai investasi ini menempatkan proyek sebagai bagian penting dalam program energi nasional.
BACA JUGA: Kinerja Operasional Meningkat, Pelindo Regional 2 Panjang Catat Pertumbuhan Positif di Awal 2026
Lampung Jadi Pusat Bahan Baku Bioetanol
Pemerintah memilih Lampung karena daerah ini memiliki bahan baku pertanian yang melimpah. Komoditas seperti tebu, singkong, jagung, sorgum, dan aren menjadi sumber utama produksi bioetanol.
Kondisi ini memperkuat posisi Lampung sebagai basis pengembangan bioenergi nasional. Peningkatan kebutuhan industri mendorong pertumbuhan rantai pasok lokal di wilayah tersebut.
BACA JUGA: Harga Plastik Meroket, Dampaknya Bikin Kaget
Dukung Transisi Energi dan Ekonomi Daerah
Proyek ini mendukung kebijakan pencampuran bioetanol dalam bensin melalui skema E5 dan E10. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Selain itu, proyek ini mendorong hilirisasi hasil pertanian agar memiliki nilai tambah. Petani berpotensi terlibat langsung dalam rantai industri energi nasional.
Pemerintah juga menargetkan terciptanya lapangan kerja baru di wilayah sekitar proyek. Upaya ini memperkuat ekonomi daerah sekaligus mendorong percepatan transisi energi bersih.













