Langkah Bank indonesia untuk Meredam Perubahan Cepat dan Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia telah mengambil sejumlah langkah yang positif untuk memperkuat posisi rupiah terhadap valuta asing.

Bank Indonesia

Oleh : Erson Agustinus (Praktisi Ekonomi)

Di perdagangan pasar harian (Intraday), per tanggal 20 Januari lalu, rupiah mencatatkan rekor titik terendah, sebesar Rp16.985 per dolar AS. Selanjutnya, pada Kamis 22 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar sempat “naik” beberapa poin ke Rp16.936 per dolar AS.

Kebijakan Pemerintah Menuju Ekonomi Positif

Pemerintah sejak Q3-2025 telah melakukan upaya memacu pertumbuhan ekonomi melalui kombinasi kebijakan fiskal (stimulus, bansos), struktural (hilirisasi, deregulasi, infrastruktur), dan pengembangan SDM.

Fokus utamanya mencakup akselerasi hilirisasi industri, transformasi digital, pengembangan UMKM, serta penguatan konsumsi domestik untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi tujuannya menguatkan fundamental ekonomi domestik, sehingga diharapkan di tahun 2026 ini mencapai target pertumbuhan 5,4% bahkan bisa meningkat pada level 6%.

Saat pergantian rezim hingga Q2-2025, ekonomi kita terpuruk di angka 4,2% terjadi pada akibat dari pengetatan uang (Tight Money Polcy) menyebabkan sektor riil tidak bergerak, peredaran uang M0 sampai hampir mendekati 0%.

Rupiah Terpuruk

Dimulai sejak awal Januari 2026 rupiah sudah mengalami keterpurukan nilai yang disebabkan oleh tekanan ekonomi global/geopolitik dan peningkatan arus kebutuhan modal keluar (Capital Outflow).

 

BACA JUGA: Mencoba Analisa Faktor-Faktor Rupiah Melemah di Saat Arus Deras Capital Inflow Masuk

 

Sampai pada pertengahan Januari muncul issue pergantian Deputi Gubernur BI kepada mantan wakil menteri keuangan “Thomas Djiwandono”, yang memicu sentimen negatif pasar, yang menyatakan meragukan independensi Bank Indonesia ketika beliau terpilih. Akibatnya, banyak investor yang menarik modalnya di pasar.

Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Kemenkeu – BI – OJK- LPS menggelar rapat di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (23/01). Rapat membahas perkembangan ekonomi dalam negeri, seperti stabilitas rupiah dan sinergi dan sinkronisasi kebijakan antar lembaga.

Secara umum semua dibahas, tidak ada isu spesifik, lebih menyeluruh di masing-masing dari fiskal, moneter, lalu kemudian sektor keuangan.

 

BACA JUGA: Tren Aksi Borong Emas..!! Emas Bukan Instrumen Investasi Jangka Pendek

 

Pembahasan utamanya pada stabilitas nilai tukar rupiah yang belakangan bergerak melemah di awal tahun ini.

Bank Indonesia telah mengambil sejumlah langkah yang positif untuk memperkuat posisi rupiah terhadap valuta asing.

Intervensi BI di Pasar Off Shore NDF, Pasar Spot DNDF, Pasar Sekunder SBN dan Penurunan SRBI

Perry Warjiyo (Gubernur BI) dalam keterangan pers mengatakan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh banyaknya aliran keluar modal asing akibat ketidakpastian pasar keuangan global.

Selain itu, Perry mengungkapkan, kenaikan permintaan valas oleh perbankan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi turut mempengaruhi kinerja rupiah.

Guna meredam volatalitas dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, maka BI melakukan langkah intervensi pasar di pasar Off Shor NDF (Non-Deliverable Forward), juga di pasar spot Domestik-NDF, serta melakukan intervensi pula di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN) dan penurunan posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Intervensi valuta asing dilakukan oleh otoritas moneter dalam hal ini BI, untuk memengaruhi nilai tukar mata uang asing dengan membeli dan menjual mata uang di pasar valuta asing.

Intervensi valuta asing bertujuan untuk mengendalikan fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang berlebihan dan menstabilkannya.