LAMPUNG SELATAN, Merapah.com — Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, tidak hanya memiliki potensi wisata pantai. Desa pesisir tersebut juga menyimpan potensi sosial, budaya, ekonomi, sejarah, hingga kekuatan pemuda yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari identitas desa.
Potensi tersebut menjadi perhatian Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Universitas Lampung (Unila) melalui program Desa Binaan yang dilaksanakan pada 4–5 September 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat HMJ Sosiologi Unila yang bertujuan menggali potensi lokal sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan desa.
Dalam pelaksanaannya, HMJ Sosiologi Unila menjalankan dua program utama, yakni Penyuluhan Penguatan Peran dan Fungsi Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) serta Sinergi Pemuda Kunjir: Penyadaran Potensi dan Representasi Desa.
Melalui program tersebut, masyarakat dan pemuda diajak melihat kembali potensi yang dimiliki Desa Kunjir. Pengembangan desa tidak hanya diarahkan pada sektor wisata pantai, tetapi juga pada potensi sosial, budaya, ekonomi, sejarah, serta kemampuan pemuda dalam memperkenalkan identitas desa melalui ruang digital.
Sekretaris Desa Kunjir, Yusron, menyambut baik pelaksanaan program Desa Binaan tersebut. Ia berharap kegiatan yang dilakukan mahasiswa tidak berhenti setelah program selesai, tetapi dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
“Harapannya kegiatannya tidak berhenti sampai di sini. Bisa terus berlanjut meski tim telah kembali pulang dan masyarakat lebih aware akan potensi yang dimiliki di desa,” ujarnya.
Antusiasme Pemuda Melebihi Ekspektasi
Antusiasme masyarakat, khususnya kalangan pemuda, menjadi salah satu catatan dalam pelaksanaan kegiatan.
Panitia sebelumnya memperkirakan sekitar 15 peserta akan mengikuti program pemuda. Namun, jumlah peserta yang hadir justru mencapai lebih dari 20 orang. Bahkan, sejumlah peserta datang lebih awal sebelum kegiatan dimulai.
Salah satu perwakilan pemuda Desa Kunjir, Riska, menyampaikan apresiasi atas kunjungan HMJ Sosiologi Unila. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan dorongan bagi pemuda untuk lebih mengenali dan melihat potensi yang ada di lingkungan desa.
Penanggung Jawab Desa Binaan, Alifia Ashri Putri Ginanjar atau Fia, mengatakan antusiasme tersebut menjadi pengalaman berharga bagi tim selama menjalankan program.
“Awalnya kami hanya berekspektasi sekitar 15 orang saja. Ternyata yang hadir lebih dari 20 orang dan bahkan mereka datang lebih awal. Itu menjadi salah satu hal yang tidak kami duga, tetapi justru membuat kami melihat antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini,” ujar Fia.
Kunjir Fest Batal Digelar karena Erupsi
Rangkaian program Desa Binaan sebenarnya direncanakan ditutup dengan acara puncak bertajuk Kunjir Fest. Kegiatan tersebut disiapkan sebagai momentum kebersamaan sekaligus bentuk apresiasi kepada masyarakat Desa Kunjir.
Namun, rencana tersebut harus dibatalkan menyusul adanya erupsi. Panitia kemudian memutuskan mengakhiri kegiatan dan kembali dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh tim.
Fia mengatakan keputusan tersebut diambil meskipun dua program utama telah berhasil dilaksanakan.
“Memang dua program inti bisa dikatakan berhasil dilaksanakan, tetapi kalau acara puncaknya terlaksana tentu akan menjadi lebih sempurna. Namun karena adanya erupsi, kami memilih untuk pulang demi keselamatan. Yang terpenting, seluruh tim aman dan selamat sampai tujuan,” ungkapnya.
Melalui program Desa Binaan, HMJ Sosiologi Unila berharap masyarakat Desa Kunjir semakin menyadari bahwa desa memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Kesadaran tersebut diharapkan tidak berhenti selama kegiatan berlangsung, tetapi terus dilanjutkan oleh masyarakat dan pemuda untuk memperkuat identitas serta potensi Desa Kunjir setelah program pengabdian mahasiswa berakhir.








