Oleh: Rein Susinda Hesty
Ketua Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Provinsi Lampung
Dalam pembangunan perkotaan, masyarakat sering kali hampir menyamakan persepsi profesi perencana kota, arsitek, dan arsitek lanskap. Padahal, ketiganya memiliki ruang lingkup, fokus, dan tanggung jawab yang berbeda, namun saling melengkapi dalam mewujudkan kota yang nyaman, aman, dan berkelanjutan.
Urban planning atau perencanaan wilayah dan kota merupakan disiplin ilmu yang bekerja pada skala makro. Seorang urban planner bertugas merancang arah perkembangan kota secara menyeluruh melalui penyusunan tata ruang, pengaturan penggunaan lahan, sistem transportasi, infrastruktur, kawasan permukiman, hingga penyusunan kebijakan pembangunan. Perencanaan kota tidak hanya berbicara tentang fisik wilayah, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Sementara itu, arsitektur lebih berfokus pada bangunan. Seorang arsitek merancang bangunan agar memenuhi fungsi, memberikan kenyamanan, menjamin keselamatan, serta memiliki nilai estetika. Mulai dari rumah tinggal, gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit hingga bangunan publik lainnya merupakan ruang kerja utama profesi arsitek. Hasil akhirnya berupa desain bangunan lengkap dengan gambar teknis dan detail konstruksi.
Selanjutnya, arsitektur lanskap hadir sebagai penghubung antara bangunan dengan lingkungan alam. Peranan arsitektur lanskap dalam perencanaan dan perancangan kota merupakan fungsi strategis yang mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, budaya, estetika, dan ekonomi ke dalam pembentukan ruang kota yang berkelanjutan, layak huni, serta berketahanan terhadap perubahan lingkungan. Arsitektur lanskap tidak hanya berfokus pada penataan ruang terbuka hijau, tetapi juga mengelola hubungan antara manusia, lingkungan alami, dan lingkungan binaan sehingga tercipta keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian sumber daya alam. Melalui penataan ruang terbuka hijau, kawasan publik, dan sistem lanskap perkotaan, arsitektur lanskap bertujuan menciptakan lingkungan yang nyaman, berkelanjutan, berketahanan terhadap perubahan iklim, serta mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa mengabaikan identitas dan karakter lokal.
Profesi ini bekerja pada skala mikro hingga meso dengan mengintegrasikan unsur ekologi, budaya, aktivitas sosial, serta karakter alam dalam setiap rancangan. Karena itu, arsitektur lanskap menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, berkurangnya ruang hijau, hingga meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik yang sehat dan inklusif.
Ketiga disiplin ilmu tersebut memiliki peran yang berbeda. Urban planning menentukan arah pembangunan kota, arsitektur merancang bangunan yang menjadi wadah aktivitas manusia, sedangkan arsitektur lanskap memastikan ruang luar mampu menjadi tempat yang nyaman, produktif, dan lestari.
Pembangunan kota yang baik tidak dapat mengandalkan satu profesi saja. Kolaborasi antara perencana kota, arsitek, arsitek lanskap, pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci terciptanya kota yang layak huni. Ketika ketiganya bekerja secara sinergis, kota tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga mampu menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warganya.








