Merapah.com – Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Lampung kembali menggelar PODIUM Sosiologi atau Pojok Diskusi Mahasiswa Sosiologi. Kegiatan berlangsung di Taman FISIP Unila pada 13 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.
Forum tersebut mengangkat tema “Antara Minat Akademik dan Kebutuhan Industri: Apakah Semua Jurusan Masih Dibutuhkan?”. Diskusi ini bertujuan membuka ruang dialog kritis terkait relevansi jurusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

Peserta diskusi menyoroti perubahan fungsi perguruan tinggi yang dinilai semakin mengarah pada kepentingan industri. Kampus yang sebelumnya menjadi ruang pengembangan ilmu dan pemikiran kritis kini dianggap lebih fokus mencetak tenaga kerja.
BACA JUGA: HMJ Sosiologi Unila Gelar ISL 2025, Perkuat Solidaritas Mahasiswa Unila
Perubahan tersebut turut memengaruhi cara pandang mahasiswa terhadap pendidikan tinggi. Banyak mahasiswa dinilai lebih berorientasi pada kelulusan tepat waktu dibandingkan memahami substansi keilmuan secara mendalam.
Wacana Penutupan Jurusan Dinilai Terlalu Sederhana
Forum PODIUM juga membahas wacana penutupan sejumlah program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Kebijakan itu disebut muncul akibat tingginya angka pengangguran terdidik dan penyesuaian pendidikan dengan pasar kerja.
Selain itu, peserta menilai terdapat persoalan struktural dalam institusi pendidikan tinggi yang turut memengaruhi munculnya wacana tersebut. Namun, banyak peserta mengkritik kebijakan itu karena dianggap menyederhanakan persoalan pendidikan.
Pemateri diskusi, M. Guntur Purboyo, menyoroti pergeseran fungsi perguruan tinggi yang semakin berorientasi pada kebutuhan industri. Menurutnya, kampus saat ini lebih fokus menghasilkan lulusan sebagai produk.
“Kampus itu sekarang tugasnya adalah mencetak output. Jadi kalian hari ini adalah produk yang diciptakan oleh kampus,” ujar Guntur dalam diskusi tersebut.
BACA JUGA: HMJ Sosiologi Unila Tebarkan Aksi Peduli di Panti Asuhan Hasbi Rabbi
Sementara itu, pemateri lainnya, Damar Wibisono, menilai ketidaksesuaian antara jurusan dan pekerjaan tidak otomatis membuat suatu program studi kehilangan relevansi.
“Ilmu tidak hanya soal teknis, tetapi juga bagaimana memahami dan memproyeksikan kehidupan sosial. Di situlah peran ilmu seperti sosiologi menjadi penting,” kata Damar.
Ilmu Sosial Dinilai Tetap Punya Peran Strategis
Peserta diskusi menilai ilmu sosial tetap memiliki posisi penting dalam berbagai sektor pembangunan. Mereka menyebut pendekatan sosial dibutuhkan dalam kebijakan publik hingga pengembangan teknologi.
Dalam forum tersebut, peserta mencontohkan negara maju seperti Belanda yang masih menempatkan pendekatan sosial sebagai bagian penting pembangunan. Pendekatan itu dinilai membantu masyarakat menerima dan memanfaatkan teknologi secara optimal.
Diskusi juga mengkritisi sistem pendidikan yang dianggap kurang kompetitif. Peserta menilai jumlah mahasiswa yang terlalu besar dalam satu kelas dapat menghambat proses penalaran dan pembentukan pemikiran kritis.
Di sisi lain, orientasi ekonomi kampus dinilai mendorong peningkatan jumlah mahasiswa tanpa diimbangi kualitas pembelajaran. Kondisi itu disebut berdampak pada menurunnya mutu akademik di perguruan tinggi.
Peserta juga mengkritik pemerintah yang dianggap kurang memberi perhatian terhadap pengembangan sejumlah bidang ilmu, khususnya ilmu sosial. Situasi tersebut memunculkan anggapan bahwa beberapa jurusan dianggap tidak relevan.
BACA JUGA: HIMA Manajemen STIE Gentiaras Gandeng Bank Woori Saudara, Mahasiswa Dibekali Literasi Keuangan dan Tips Karier
Mahasiswa Didorong Lebih Kritis terhadap Kebijakan Pendidikan
Di akhir diskusi, peserta menegaskan pentingnya keseimbangan antara ilmu sosial dan ilmu eksakta dalam sistem pendidikan. Kedua bidang tersebut dinilai tidak dapat dipisahkan dalam mendukung pembangunan.
Mahasiswa juga didorong untuk lebih aktif dan kritis dalam merespons kebijakan pendidikan. Forum menekankan peran mahasiswa sebagai agent of change dalam mengawal arah pendidikan tinggi di Indonesia.
Melalui PODIUM Sosiologi, HMJ Sosiologi FISIP Universitas Lampung menegaskan bahwa isu relevansi jurusan tidak dapat dipahami secara sempit. Mahasiswa diajak melihat hubungan antara pendidikan, negara, dan kepentingan industri secara lebih luas.
Forum tersebut diharapkan mampu melahirkan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong keberanian mahasiswa mempertanyakan arah kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia.













