Merapah.com, Pesawaran — President Director Siemens Healthineers Indonesia, Alfred Fahringer, mengaku terkesan dengan kawasan ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi di Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran.
Menurutnya, pengalaman menanam mangrove secara langsung di kawasan pesisir tersebut menjadi pengalaman pertama sekaligus momen menyenangkan dalam hidupnya.
“Ini pengalaman pertama saya menanam mangrove secara langsung dan sangat menyenangkan,” ujarnya saat kegiatan penanaman 2.000 bibit mangrove bersama ratusan karyawan Siemens Healthineers Indonesia.
BACA JUGA: Menteri PKP Tambah Kuota Bedah Rumah di Lampung Jadi 11 Ribu Unit
Alfred bahkan berencana kembali berkunjung ke Cuku Nyinyi pada tahun depan untuk melihat perkembangan mangrove yang ditanamnya.

Dalam kegiatan tersebut, Alfred berhasil menanam sekitar 40 batang bibit mangrove di kawasan pesisir Cuku Nyinyi. Ia bersama ratusan karyawan Siemens Healthineers Indonesia tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pelestarian lingkungan tersebut.
Selain melakukan penanaman mangrove, rombongan juga membantu masyarakat melakukan aksi bersih-bersih sampah di kawasan wisata pesisir serta merenovasi fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) di lokasi wisata edukatif tersebut.
BACA JUGA: Ratusan Karyawan Siemens Healthineers Rela Berkubang Lumpur Tanam Mangrove di Cuku Nyinyi
Kegiatan itu menjadi bagian dari komitmen Siemens Healthineers Indonesia dalam mendukung pelestarian lingkungan berkelanjutan sekaligus pemberdayaan masyarakat pesisir.
Semangat pelestarian lingkungan kembali menggema di kawasan ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi, Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. PT Siemens Healthineers Indonesia bersama masyarakat dan kelompok pengelola mangrove melakukan penanaman 2.000 bibit mangrove sebagai upaya menjaga ekosistem pesisir Lampung.
Kegiatan tersebut disambut langsung Kepala Desa Sidodadi, Tunggal Saputro. Dalam sambutannya, ia menceritakan perjalanan panjangnya sebagai aktivis lingkungan sebelum dipercaya menjadi kepala desa pada 2020.
Menurut Tunggal, sejak muda dirinya aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan dan tergabung dalam komunitas pegiat lingkungan Papeling. Dari aktivitas tersebut, ia mulai memperjuangkan kawasan mangrove agar tetap lestari sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Dulu saya aktivis lingkungan. Saya ingin mangrove di sini bukan hanya menjadi hutan lindung, tetapi juga berkembang menjadi ekowisata yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kawasan Mangrove Cuku Nyinyi sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, baru pada 2022 resmi dideklarasikan sebagai desa wisata mangrove. Sejak saat itu, berbagai perubahan mulai dirasakan masyarakat, mulai dari akses jalan yang semakin baik hingga meningkatnya aktivitas edukasi lingkungan.
“Wisata mangrove ini bukan hanya soal menanam pohon. Kami juga memberikan edukasi secara berkala tentang pentingnya menjaga mangrove dan ekosistem pesisir,” katanya.
BACA JUGA: BSN Jalin Kerja Sama dengan Universitas Islam An-Nur Lampung dan Universitas Wira Buana Metro
Desa Sidodadi memiliki kawasan mangrove seluas sekitar 12 hektare. Kawasan tersebut kini menjadi lokasi penelitian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung maupun luar daerah. Penelitian yang dilakukan meliputi kerapatan mangrove, sedimentasi, plankton hingga mikroplastik.
Selain mangrove, kawasan pesisir Sidodadi juga memiliki padang lamun dan terumbu karang yang menjadi bagian penting ekosistem laut di wilayah tersebut.
Tunggal mengatakan, nama “Cuku Nyinyi” diambil dari kearifan lokal masyarakat Lampung. “Cuku” berarti kaki, sedangkan “Nyinyi” merujuk pada nyamuk kecil yang dulu banyak ditemukan di kawasan tersebut.
Ia mengenang, saat awal menjabat kepala desa, kondisi akses menuju lokasi masih sangat sulit. Warga harus berjalan melewati lumpur untuk mencari ikan atau menyeberang menggunakan perahu kecil.
“Dulu belum ada jalan. Orang kalau ke sini masih lumpur-lumpuran. Alhamdulillah sekarang ada normalisasi sungai dan jalan sudah mulai dibangun,” katanya.
Keberadaan ekowisata mangrove juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sedikitnya 50 perahu kini beroperasi mengantar wisatawan maupun nelayan menuju pulau-pulau di sekitar kawasan pesisir.
“Kalau satu perahu bisa menghidupi lima orang, berarti banyak masyarakat yang menggantungkan hidup dari ekowisata mangrove ini,” ujarnya.
Tunggal juga mengungkapkan dirinya membuat peraturan desa (Perdes) tentang perlindungan mangrove yang didukung pemerintah kabupaten hingga provinsi. Berbagai dukungan CSR dari perusahaan dan BUMN turut membantu pembangunan desa, termasuk program bedah rumah dari Lanal serta bantuan fasilitas umum lainnya.
BACA JUGA: Ara Ajak REI Bangun 10 Kota Baru, Salah Satunya Bernama Kota REI
“Sebagai kepala desa, saya lebih banyak turun mencari dukungan CSR untuk pembangunan desa. Alhamdulillah sekarang status desa kami sudah menjadi desa maju dan tinggal selangkah lagi menjadi desa mandiri,” katanya.
Kegiatan penanaman mangrove oleh Siemens Healthineers Indonesia tersebut diharapkan semakin memperkuat upaya pelestarian pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan laut dan mangrove di Lampung.













