Rekomendasi Sunscreen SPF Menurut Jurnal Dermatologi

Dokter Kulit Menyesuaikan SPF dengan Jenis Kulit dan Aktivitas.

sunscreen
Menggunakan sunscreen sebelum beraktivitas, mencerminkan meningkatnya kesadaran akan perlindungan kulit dari sinar UV. (Foto iStock)

Merapah.com – Kesadaran wanita terhadap perlindungan kulit dari sinar matahari terus meningkat.

Sunscreen kini menjadi bagian penting dari rutinitas perawatan kulit harian. Perubahan ini sejalan dengan temuan ilmiah di bidang dermatologi modern.

Berbagai jurnal penelitian menunjukkan paparan radiasi ultraviolet berdampak serius pada kesehatan kulit.

Sinar UV berkontribusi terhadap penuaan dini, hiperpigmentasi, dan peningkatan risiko kanker kulit. Karena itu, dokter kulit secara konsisten merekomendasikan penggunaan sunscreen setiap hari.

BACA JUGA: Bahaya Gorengan Plastik Mengintai: Cek Faktanya!

Penelitian dermatologi menegaskan bahwa dokter tidak bisa memilih sunscreen secara sembarangan.

Dokter mempertimbangkan jenis filter, nilai SPF, dan kenyamanan pemakaian sebelum merekomendasikan sunscreen.

Temuan ilmiah inilah yang menjadi dasar edukasi perlindungan kulit bagi wanita.

Jenis Sunscreen Menurut Jurnal Dermatologi

Jurnal dermatologi mengelompokkan sunscreen ke dalam dua jenis utama berdasarkan filter ultravioletnya.

Klasifikasi ini mencakup sunscreen berbasis organic dan sunscreen berbasis inorganic atau mineral.

Sunscreen organic bekerja dengan menyerap radiasi ultraviolet di dalam lapisan kulit.

Filter ini kemudian mengubah sinar UV menjadi energi panas yang tidak merusak jaringan. Beberapa bahan yang sering diteliti antara lain avobenzone dan octocrylene.

BACA JUGA: Bahaya Konsumsi Soda Berlebih Intai Masyarakat Indonesia

Penelitian dalam Journal of Integrative Dermatology menyebutkan sunscreen organic memiliki tekstur lebih ringan.

Karakter ini membuatnya banyak dipilih wanita untuk penggunaan harian. Namun, jurnal juga mencatat potensi iritasi pada kulit sensitif tertentu.

Sebaliknya, sunscreen mineral menggunakan zinc oxide atau titanium dioxide sebagai filter utama. Filter ini bekerja dengan menyerap sekaligus memantulkan sinar ultraviolet dari permukaan kulit.

Karena mekanisme tersebut, dokter sering merekomendasikannya untuk kulit sensitif.

Meski begitu, jurnal yang sama menyebutkan sunscreen mineral lebih mudah terhapus oleh air dan gesekan. Kondisi ini membuat re-aplikasi menjadi faktor penting dalam efektivitas perlindungan.

Nilai SPF dan Efektivitas Perlindungan Kulit

Selain jenis filter, nilai Sun Protection Factor menjadi perhatian utama dalam penelitian dermatologi. SPF menunjukkan kemampuan sunscreen melindungi kulit dari radiasi UVB.

Studi literatur dalam jurnal kesehatan menunjukkan SPF 30 memblokir sekitar 96 persen sinar UVB.

BACA JUGA: Benarkah Stres Bisa Menurunkan Gairah Seksual Suami Istri? Ini Penjelasan Ahli

Sementara itu, SPF 50 meningkatkan perlindungan hingga mendekati 98 persen. Perbedaannya memang kecil, tetapi signifikan secara klinis.

Karena itu, banyak dokter kulit merekomendasikan SPF minimal 30 untuk penggunaan sehari-hari. Nilai tersebut dinilai cukup efektif jika diaplikasikan dengan dosis yang tepat.

Jurnal dermatologi juga menegaskan bahwa angka SPF tinggi tidak menggantikan re-aplikasi. Perlindungan sunscreen menurun seiring waktu akibat keringat dan aktivitas. Inilah alasan dokter menyarankan pengulangan pemakaian setiap dua jam.

Rekomendasi Dokter Kulit Berdasarkan Bukti Ilmiah

Penelitian klinis dalam JMIR Dermatology membandingkan ketahanan sunscreen organic dan mineral.

Hasilnya menunjukkan sunscreen organic memiliki persistensi SPF lebih baik setelah aktivitas air. Sementara itu, sunscreen mineral lebih cepat berkurang akibat gesekan.

Temuan ini mendorong dokter menyesuaikan rekomendasi sunscreen dengan gaya hidup pasien. Wanita dengan aktivitas luar ruang tinggi membutuhkan perlindungan yang lebih tahan lama.

BACA JUGA: Risiko Wasir dari Main Ponsel di Toilet Naik, Studi Harvard Buka Data Baru

Selain perlindungan, jurnal Journal of the American Academy of Dermatology menyoroti faktor kenyamanan.

Tekstur ringan dan mudah diratakan meningkatkan kepatuhan penggunaan sunscreen. Konsistensi pemakaian menjadi kunci utama keberhasilan perlindungan kulit.

Berdasarkan berbagai jurnal dermatologi, sunscreen bukan sekadar produk kecantikan. Sunscreen merupakan langkah pencegahan berbasis sains untuk menjaga kesehatan kulit jangka panjang.

Dokter menekankan bahwa pemilihan sunscreen harus disesuaikan dengan jenis kulit dan aktivitas harian.