Merapah.com, Bandar Lampung– SMK Negeri 9 Bandar Lampung memulai rangkaian pendampingan Program Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA) melalui Teaching Factory (TeFa) dengan menggelar kegiatan sosialisasi, Senin (13/7/2026). Program ini menjadi langkah awal dalam memperkuat pembelajaran berbasis industri yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendampingan selama enam bulan yang terdiri atas tahapan sosialisasi, workshop, implementasi, hingga dua kali In House Training (IHT). Melalui program ini, guru dibekali pemahaman mengenai penerapan Teaching Factory yang terintegrasi dengan pembelajaran mendalam dan teknologi digital.
Widyaiswara Ahli Madya BBPPMPV BMTI, Wahyu Purnama, mengatakan keberhasilan implementasi Teaching Factory tidak hanya bergantung pada proses praktik di sekolah, tetapi juga ditentukan oleh terbentuknya ekosistem yang saling mendukung.
“Untuk bisa tercapai pembelajaran Teaching Factory sesuai harapan, maka harus dibangun dulu ekosistem yang saling mendukung. Kolaborasinya harus solid, kemitraannya efektif dan efisien sehingga tujuan implementasi Teaching Factory bisa tercapai,” ujarnya.
Menurut Wahyu, ekosistem tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua program keahlian, guru, hingga mitra dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Selain itu, terdapat dukungan dari pemerintah pusat, UPT, dinas pendidikan, serta pengawas sekolah yang berperan sebagai pendamping.
Ia menjelaskan, Program Sekolah Model yang diinisiasi Direktorat SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui BBPPMPV BMTI bertujuan menghasilkan lulusan vokasi yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi pada era Industri 4.0.
Dalam implementasinya, program tersebut mengintegrasikan tiga pilar utama, yaitu Teaching Factory berstandar dunia kerja, Pembelajaran Mendalam yang berorientasi pada pembelajaran aktif, bermakna, dan menyenangkan, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai bekal teknologi masa depan bagi peserta didik.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam penyelesaian permasalahan nyata melalui proyek berbasis produksi yang sesuai standar industri.
Wahyu berharap seluruh guru dapat mengikuti setiap tahapan pendampingan dengan baik sehingga mampu menerapkan pembelajaran tersebut kepada peserta didik.
“Harapannya guru bisa mengikuti semua tahapan dengan baik, kemudian mengimplementasikannya kepada peserta didik. Jika itu terlaksana, tujuan Teaching Factory akan tercapai dan sekolah model ini benar-benar bisa menjadi rujukan bagi sekolah lainnya,” katanya.
Selanjutnya, pendampingan akan memasuki tahap workshop, implementasi di sekolah, serta dua kali In House Training yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sesuai pedoman dari pemerintah pusat. Program ini diharapkan mampu mendorong transformasi pembelajaran vokasi yang semakin inovatif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan industri.









