Untuk Sauqy,
Kalau suatu hari nanti kamu tidak sengaja membaca tulisan ini, semoga kamu masih menjadi anak perempuan yang berhati lembut. Terima kasih karena hari itu kamu memilih menolong bayi kucing yang dibuang, meski akhirnya kamu tidak bisa membawanya pulang. Kebaikan kecilmu telah menjadi awal dari cerita yang akan selalu kuingat.

Bermula dari…
Orang-orang berlarian menuju kelas. Beberapa tertawa bersama teman, sebagian lagi sibuk menatap layar ponsel. Siang itu halaman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung tampak lebih ramai dari biasanya.
Aku baru saja keluar dari ruang seminar setelah menghadiri sidang teman. Rasanya lega sekaligus lelah. Aku memilih duduk di taman, menikmati angin yang sesekali mengusap wajah sambil memandangi hiruk pikuk kampus.
Di tengah riuh percakapan dan langkah kaki yang saling bersahutan, terdengar suara yang berbeda.
“Miaw…”
Pelan.
Sangat pelan.
Suara itu nyaris tenggelam oleh kebisingan sekitar.
Aku mencoba mencari arah suara itu hingga pandanganku berhenti pada seorang anak kecil yang sedang memangku sesuatu dengan kedua tangannya. Aku menghampirinya.
“Dek, itu kucing?”
Ia mengangguk pelan.
Di pangkuannya terdapat dua bayi kucing yang masih sangat kecil. Tubuhnya masih kemerahan. Mata mereka masih tertutup rapat. Bahkan tali pusarnya masih menempel.
Hatiku langsung mencelos.
Aku memperkenalkan diri. Gadis itu pun tersenyum dan mengatakan namanya Sauqy. Kami mengobrol cukup lama hingga akhirnya ia menceritakan asal bayi mungil itu.
“Aku nemu di tempat sampah, Kak. Tadi aku liat ada yang buang kesitu, aku susul aku ambil deh, Kak.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Sulit membayangkan ada makhluk sekecil itu dibuang begitu saja, bahkan sebelum sempat mengenal dunia.
Sauqy bercerita bahwa ibunya berjualan di kantin Fakultas Hukum Universitas Lampung. Ia sendiri tidak mungkin membawa pulang kedua bayi kucing itu karena ada alasan yang tidak memungkinkan.
Aku kembali memandangi tubuh mungil di hadapanku. Ia bahkan belum bisa membuka mata. Belum bisa berjalan. Belum bisa mencari susu sendiri. Tanpa berpikir terlalu lama, aku mengucapkan kalimat itu. “Kalau begitu… biar aku yang bawa pulang.”
Tanggal 25 Juni 2026 aku membawanya. Hari ke hari aku belajar menjaga suhu tubuhnya. Belajar membangunkannya setiap beberapa jam sekali untuk menyusu. Aku menyiapkan suntikan kecil yang ujungnya dipasangi karet menyerupai dot bayi. Dari situlah ia minum sedikit demi sedikit. Setiap tetes susu terasa seperti sebuah harapan.
Hari demi hari berlalu. Ia mulai mengenali sentuhanku. Suara mengeongnya terdengar sedikit lebih kuat. Lalu datang hari yang membuatku begitu bahagia. Matanya mulai membuka. Dua mata kecil itu akhirnya melihat dunia. Aku tersenyum sendiri.
Rasanya semua rasa lelah terbayar saat melihatnya bertahan. Aku mulai membayangkan banyak hal. Mungkin nanti ia akan berlari mengelilingi rumah. Mungkin nanti ia akan tidur di pangkuanku. Mungkin nanti ia akan tumbuh menjadi kucing yang sehat.
Namun ternyata Allah memiliki cerita yang berbeda. Hari kesepuluh menjadi hari terakhirnya. Tubuh mungil itu akhirnya menyerah. Aku hanya bisa menggendongnya dalam diam. Tidak ada lagi suara mengeong kecil yang biasanya membangunkanku. Tidak ada lagi mulut mungil yang mencari dot susu. Yang tersisa hanyalah sunyi.
Aku memandangi wajah kecilnya untuk terakhir kali.
“Maaf ya, Nak.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
“Maaf kalau aku masih belum bisa merawatmu dengan sempurna.”
Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Meski hanya sepuluh hari, rasanya seperti kehilangan anggota keluarga sendiri.
Orang mungkin menganggapnya hanya seekor anak kucing. Tetapi bagiku, ia adalah makhluk kecil yang pernah berjuang sangat keras untuk hidup. Ia bertahan hingga sempat membuka kedua matanya. Ia bertahan hingga sempat mengenalku. Dan aku bersyukur pernah menjadi bagian dari sepuluh hari paling berharga dalam hidupnya.
Selamat jalan, anak kecil. Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa kasih sayang tidak pernah diukur dari lamanya waktu bersama.







