Mitra Bentala dan EDF Perkuat Ekonomi Pesisir dengan Pemanfaatan Limbah Rajungan

Penguatan Ekonomi dan Pangan Keluarga Pesisir

Mitra Bentala dan EDF Perkuat Ekonomi Pesisir dengan Pemanfaatan Limbah Rajungan
Peserta pelatihan dari Poklahsar Margasari dan Muara Gading Mas mengikuti demonstrasi pembuatan pupuk organik bersama pemateri Joko Fitoyo di Balai Nelayan Margasari. (Foto istimewa)

Merapah.com, Margasari, 25 November 2025 — Mitra Bentala dan (EDF) Indonesia menggelar pelatihan pemanfaatan limbah rajungan dan limbah rumah tangga sebagai pupuk organik cair (POC) dan pupuk organik padat (POP).

Kegiatan berlangsung di Balai Nelayan Margasari dan menghadirkan 10 peserta dari lima Poklahsar di Desa Margasari dan Muara Gading Mas. Tim EDF, penyuluh PPL, dan dua Field Officer Mitra Bentala ikut mendampingi peserta. Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah peningkatan kapasitas masyarakat pesisir.

Mitra Bentala dan EDF Perkuat Ekonomi Pesisir dengan Pemanfaatan Limbah Rajungan.

Sebagai pembuka, perwakilan EDF Indonesia, Guswarman, menyampaikan statement tegas mengenai pentingnya potensi lokal.

“Masyarakat pesisir harus memanfaatkan potensi lingkungannya agar ketahanan pangan keluarga semakin kuat,” ujarnya. Pesan ini membuka sesi materi teknis berikutnya.

BACA JUGA: BGTK Lampung Meriahkan Hari Guru dengan Parade Baju Adat

Materi Inti dan Demonstrasi

Setelah pembukaan, Joko Fitoyo memandu peserta memahami proses pengolahan limbah rajungan menjadi pupuk organik. Ia memberikan penjelasan teknis sekaligus menguatkan pernyataan pentingnya inovasi lokal.

“Pembuatan pupuk cair dan padat bisa dilakukan dengan langkah sederhana dan terarah,” kata Joko.
Ia juga memperkenalkan biocaka sebagai elemen penting dalam proses pengolahan limbah.

“Biocaka ini memaksimalkan penguraian limbah sehingga menghasilkan pupuk berkualitas,” tambahnya.

Selanjutnya, Joko mendemonstrasikan cara menanam bibit cabai. Ia menegaskan manfaat pupuk organik.

“Pupuk organik mampu meningkatkan kesehatan tanah dan hasil panen,” jelasnya.

Ia juga menekankan kemandirian pangan.

“Limbah lokal bisa menjadi nutrisi murah, ramah lingkungan, dan aman bagi keluarga,” ujarnya.

Joko menambahkan bahwa pupuk organik membantu ibu-ibu menghasilkan sayuran sehat tanpa bahan kimia.

Pada sesi awal, ia menyinggung persoalan stunting.

“Sayuran berbahan kimia dapat memengaruhi kualitas gizi keluarga. Karena itu, produksi sayuran organik menjadi strategi penting untuk ketahanan pangan,” tegas Joko.

BACA JUGA: Gibran Hadiri KTT G20 di Afrika Selatan, Bertemu Erdogan dan PM Jepang

Sesi Praktik dan Dampaknya

Setelah teori, peserta mempraktikkan pembuatan biocaka. Mereka melihat langsung manfaat pengolahan limbah serta peluang ekonomi yang muncul. Praktik ini memberi pemahaman nyata tentang nilai limbah rumah tangga.

Penyuluh PPL Lampung Timur, Romli, juga menyampaikan statement dukungan.

“Pelatihan ini membuka peluang ekonomi baru bagi ibu-ibu pesisir,” katanya.

Ia menilai bahwa pengolahan limbah menjadi pupuk organik dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

Pada penutupan, penyelenggara mengajak peserta menerapkan praktik di rumah.

“Kami berharap ibu-ibu Poklahsar terus memanfaatkan pupuk organik di pekarangan agar ketahanan pangan keluarga semakin kuat,” demikian pernyataan Mitra Bentala dan EDF.