Merapah.com, Bandar Lampung– Penerapan Teaching Factory (TeFa) di SMK tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas praktik, tetapi juga harus diawali dengan pembentukan budaya kerja yang sesuai dengan standar industri.
Hal itu disampaikan Jurnalis sekaligus Manager Digital Marketing Lampung Post, Setiaji Bintang Pamungkas, saat menjadi pemateri dalam kegiatan pendampingan Program Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA) di SMK Negeri 9 Bandar Lampung, Senin (13/7/2026).
BACA JUGA: Pendampingan Enam Bulan, SMKN 9 Bandar Lampung Siapkan Implementasi Teaching Factory Berstandar Industri
Dalam paparannya, Setiaji menjelaskan bahwa budaya kerja merupakan kumpulan nilai, sikap, dan kebiasaan yang menjadi pedoman seseorang dalam bekerja sehingga mampu menciptakan lingkungan yang aman, tertib, disiplin, dan produktif. Menurutnya, budaya kerja menjadi pondasi utama sebelum sekolah mengimplementasikan pembelajaran berbasis industri melalui Teaching Factory.
“Budaya kerja bertujuan meningkatkan produktivitas, membentuk karakter profesional, serta meningkatkan kualitas kerja. Nilai-nilai ini harus ditanamkan sejak peserta didik masih berada di bangku sekolah,” ujar Setiaji.
Ia menambahkan, budaya kerja di dunia industri diterapkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang efisien, aman, dan berkualitas. Karena itu, sekolah perlu membiasakan peserta didik dengan standar yang sama agar mampu beradaptasi ketika memasuki dunia kerja.
Setiaji menjelaskan sejumlah budaya kerja yang umum diterapkan di industri, di antaranya penerapan 3K, 5S, 5R, K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), serta penguatan sikap disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab. Menurutnya, penerapan prinsip-prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam membangun karakter lulusan yang siap bekerja.
Selain itu, ia menguraikan konsep 3K yang terdiri dari karakter, kompetensi, dan komitmen sebagai bekal utama tenaga kerja profesional. Sementara 5S meliputi senyum, salam, sapa, sopan, dan santun sebagai budaya pelayanan dan komunikasi di lingkungan kerja.
BACA JUGA: Guru Jadi Kunci Sukses Teaching Factory, SMKN 9 Bandar Lampung Perkuat Ekosistem Sekolah Model
Setiaji juga menekankan pentingnya penerapan 5R, yakni Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin, untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih, tertata, dan efisien. Menurutnya, budaya tersebut telah menjadi standar di berbagai perusahaan karena mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil kerja.
“Implementasi Teaching Factory tidak hanya berbicara tentang praktik produksi, tetapi juga membentuk kebiasaan kerja yang sesuai dengan budaya industri. Jika budaya kerja sudah tertanam, lulusan akan lebih siap menghadapi tuntutan dunia usaha dan dunia industri,” jelasnya.
Melalui materi tersebut, peserta pendampingan diharapkan mampu mengintegrasikan budaya kerja ke dalam proses pembelajaran Teaching Factory sehingga implementasi Program Sekolah Model berjalan selaras dengan kebutuhan industri dan menghasilkan lulusan yang profesional serta berdaya saing.







