Oleh: Putri Fajar Andini
Merapah.com – Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, melainkan ruang publik untuk memperluas pengetahuan. Di tengah kemudahan mengakses informasi melalui gawai, bagaimana peran perpustakaan bagi mahasiswa, khususnya di Universitas Lampung?
Di era digital, mencari informasi dapat dilakukan hanya melalui beberapa sentuhan layar. Mahasiswa bisa menemukan jurnal, membaca buku elektronik, dan mengakses berbagai sumber pengetahuan tanpa harus meninggalkan kamar. Kemudahan ini mengubah cara belajar sekaligus menghadirkan pertanyaan baru: apakah perpustakaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan akademik?
Pertanyaan tersebut relevan bagi Lampung, termasuk mahasiswa Universitas Lampung (Unila) di Bandar Lampung. Sebagai perguruan tinggi negeri, Unila memiliki perpustakaan yang menjadi bagian dari fasilitas pendukung kegiatan akademik. Namun, keberadaan fasilitas saja belum cukup untuk menjelaskan seberapa besar perannya dalam menunjang kebutuhan pengetahuan mahasiswa.
Untuk memahami persoalan ini, eksistensi perpustakaan perlu dilihat dari lebih dari sekadar jumlah gedung atau koleksi buku. Ketersediaan layanan, kemudahan akses, pemanfaatan sumber ilmiah, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pengguna juga penting diperhatikan.
Perpustakaan tidak cukup dihitung dari jumlahnya
Data jumlah perpustakaan merupakan salah satu indikator awal untuk memahami ketersediaan fasilitas literasi di suatu wilayah. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melalui publikasi Provinsi Lampung Dalam Angka dapat menjadi salah satu rujukan untuk menelusuri data pendidikan dan fasilitas yang tersedia di daerah.
Sementara itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyediakan informasi terkait pengembangan perpustakaan dan indikator literasi, termasuk Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Kedua indikator tersebut perlu dibedakan. TGM berkaitan dengan perilaku atau kegemaran membaca, sedangkan IPLM digunakan untuk menggambarkan pembangunan literasi masyarakat melalui sejumlah dimensi yang ditetapkan dalam pengukurannya. Keduanya tidak dapat diperlakukan sebagai ukuran yang sama ataupun langsung digunakan untuk menyimpulkan keberhasilan sebuah perpustakaan tertentu.
Data jumlah perpustakaan juga perlu dibaca secara hati-hati. Banyaknya fasilitas tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh masyarakat memiliki akses yang mudah atau bahwa layanan tersebut dimanfaatkan secara optimal. Untuk menilai pemanfaatannya, diperlukan data tambahan, seperti jumlah pengunjung, anggota aktif, peminjaman koleksi, penggunaan layanan digital, dan kegiatan literasi.
Dengan demikian, penilaian terhadap eksistensi perpustakaan perlu mempertimbangkan dua hal sekaligus: ketersediaan fasilitas dan bagaimana fasilitas tersebut digunakan masyarakat.
Mahasiswa Unila dan tantangan memilih sumber informasi
Bagi mahasiswa Universitas Lampung, informasi merupakan bagian penting dari proses perkuliahan. Tugas makalah, penulisan artikel ilmiah, penelitian, hingga penyusunan skripsi membutuhkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mesin pencari dan media sosial memang mempermudah mahasiswa menemukan informasi. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu sama dengan kemudahan memastikan kebenarannya. Artikel populer, unggahan media sosial, jurnal ilmiah, laporan pemerintah, dan opini pribadi memiliki karakteristik serta tingkat otoritas yang berbeda.
Dalam situasi ini, perpustakaan perguruan tinggi berpotensi menjadi salah satu ruang penting untuk mendukung literasi informasi. Melalui koleksi buku, akses terhadap sumber ilmiah, katalog, dan layanan pustakawan, mahasiswa dapat memperoleh dukungan dalam menemukan serta menggunakan referensi yang relevan.
Perpustakaan juga dapat menunjang pembelajaran mandiri. Mahasiswa tidak hanya datang untuk mencari bahan tugas, tetapi juga berpeluang memanfaatkan ruang belajar dan layanan informasi untuk memperdalam pemahaman di luar materi perkuliahan.
Meski demikian, manfaat tersebut perlu dilihat berdasarkan kondisi nyata. Untuk mengetahui seberapa besar peran perpustakaan bagi mahasiswa Unila, diperlukan data pengunjung, penggunaan koleksi, akses jurnal elektronik, serta tanggapan mahasiswa mengenai kualitas dan kemudahan layanan.
Tanpa data tersebut, anggapan bahwa mahasiswa semakin jarang berkunjung atau justru semakin aktif memanfaatkan perpustakaan digital masih perlu dibuktikan.
Ketika akses digital mengubah fungsi perpustakaan
Perkembangan teknologi tidak serta-merta membuat perpustakaan kehilangan relevansi. Perubahan tersebut justru mendorong perpustakaan untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pengguna.
Mahasiswa yang terbiasa mencari informasi melalui internet, misalnya, dapat terbantu oleh katalog daring, koleksi elektronik, dan akses ke sumber ilmiah digital. Di sisi lain, ruang baca fisik tetap dapat memiliki fungsi sebagai tempat belajar yang mendukung konsentrasi dan diskusi.
Perpustakaan fisik dan digital karena itu tidak selalu harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi, selama layanan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan pengguna dan dapat diakses secara memadai.
Namun, pemanfaatan layanan digital juga perlu mempertimbangkan ketersediaan perangkat, kualitas jaringan internet, kemudahan penggunaan sistem, serta akses terhadap koleksi yang dibutuhkan. Keberadaan layanan daring saja belum cukup untuk memastikan semua mahasiswa dapat memanfaatkannya dengan cara yang sama.
Bagi perguruan tinggi, evaluasi layanan perpustakaan idealnya tidak hanya berfokus pada jumlah koleksi, tetapi juga pada kualitas akses, relevansi sumber, kemudahan pencarian, dan pengalaman pengguna.
Perpustakaan sebagai bagian dari kesetaraan akses pengetahuan
Dalam perspektif sosiologi, perpustakaan dapat dipahami sebagai salah satu institusi yang mendukung penyebaran pengetahuan di masyarakat. Akses terhadap sumber bacaan dan informasi ilmiah dapat membantu seseorang memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan, serta berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan.
Akan tetapi, akses pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan perpustakaan. Faktor ekonomi, lokasi tempat tinggal, waktu luang, ketersediaan internet, dan kemampuan menggunakan sumber informasi juga dapat memengaruhi cara seseorang memperoleh pengetahuan.
Bagi mahasiswa, misalnya, ketersediaan jurnal elektronik akan lebih bermanfaat apabila mereka mengetahui cara mengakses dan mengevaluasi sumber tersebut. Begitu pula ruang baca yang nyaman akan lebih berguna apabila jam layanan dan lokasinya sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Hal ini tidak berarti perpustakaan menjadi satu-satunya penentu keberhasilan akademik. Perpustakaan merupakan salah satu unsur dalam ekosistem pendidikan yang juga melibatkan dosen, kurikulum, lingkungan belajar, dan inisiatif mahasiswa sendiri.
Karena itu, pembahasan mengenai perpustakaan perlu diarahkan pada bagaimana fasilitas tersebut dapat memperluas kesempatan belajar, bukan sekadar mempertanyakan apakah masyarakat masih gemar membaca buku cetak.
Mengukur eksistensi dari manfaatnya
Eksistensi perpustakaan di Lampung, termasuk perpustakaan Universitas Lampung, layak dilihat melalui manfaat yang dapat dirasakan penggunanya. Jumlah fasilitas dan koleksi tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan informasi mengenai pemanfaatan, kualitas layanan, dan kemudahan akses.
Bagi Unila, data kunjungan perpustakaan, peminjaman buku, penggunaan koleksi digital, dan kepuasan mahasiswa dapat membantu menjelaskan kebutuhan layanan secara lebih konkret. Data tersebut juga dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah pengembangan koleksi, perluasan akses digital, atau penyesuaian layanan perlu diprioritaskan.
Bagi masyarakat Lampung secara lebih luas, data perpustakaan dan indikator literasi dari BPS serta Perpustakaan Nasional dapat digunakan untuk memahami kondisi daerah, selama tahun pengukuran dan metode pengumpulan datanya diperhatikan.
Pada akhirnya, perpustakaan tidak hanya dinilai dari bangunan yang berdiri atau buku yang tersusun di rak. Nilai pentingnya terletak pada kemampuan menyediakan akses terhadap pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangannya bukan semata-mata mempertahankan kebiasaan membaca buku cetak. Tantangan yang lebih luas adalah memastikan masyarakat, termasuk mahasiswa, mampu menemukan informasi yang relevan, menilai kredibilitasnya, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Sumber rujukan untuk verifikasi data dan pengembangan artikel:
- Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, publikasi Provinsi Lampung Dalam Angka dan publikasi statistik terkait pendidikan: https://lampung.bps.go.id/
- Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, informasi statistik dan pengembangan perpustakaan: https://www.perpusnas.go.id/
- Universitas Lampung, informasi institusi dan layanan akademik: https://www.unila.ac.id/
- Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, sebagai dasar hukum penyelenggaraan perpustakaan di Indonesia: https://peraturan.bpk.go.id/
Catatan: Artikel ini belum mencantumkan angka jumlah perpustakaan, TGM, IPLM, atau kunjungan perpustakaan karena angka terbaru beserta tahun dan dokumen sumbernya belum diverifikasi. Sebelum diterbitkan, data tersebut perlu diperiksa langsung pada publikasi resmi agar tidak menimbulkan kekeliruan faktual.











