Cerpen: Keinginan yang Tak Direstui

keinginan yang tak direstui
Ilustrasi cerpen karya Sani Ngep. Keinginan yang Tak Direstui

Saya masih ingat sekali waktu kecil, keinginan terbesar ibu adalah agar kami bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Dalam keluarga kami, ada lima orang: saya, abang, mba, mama, dan kakek. Sejak lama, kami tinggal di dalam hutan. Abang sudah berusia 20 tahun, sementara mba baru menginjak usia enam tahun, namun keduanya tidak pernah bersekolah.

“Kamu mau masuk sekolah? Kalau kamu mau, kamu bisa berangkat sekolah bersama sepupu kamu,” tanya paman kepada Yosepa.

“Iya, saya mau, tapi sebelum masuk sekolah, saya harus meminta izin dulu kepada ibu, kakek, dan abang. Jika mereka mengizinkan, barulah saya bisa bersekolah, paman, karena saya tidak bisa sekolah tanpa izin mereka,” jawab Yosepa.

“Oke, kalau sudah dapat izin dan kamu mulai bersekolah, kamu tinggal di sini ya, tidur bersama sepupu kamu. Nanti kalian berangkat sekolah bareng,” ujar paman.

“Iya, paman, tapi saya takut kakek tidak mengizinkan saya sekolah,” ujar Yosepa dengan nada khawatir.

“Sudah, kamu jangan dengarkan kakek kamu itu. Yang penting, kamu mendapatkan izin dari ibu dan abang saja sudah cukup. Kalau kakek tidak mengizinkan, bilang saja ke om, nanti om yang hadapi dia,” ujar paman yang berkulit coklat tua dan bertubuh kekar dengan nada bercanda.

Mulai Berangkat

Setelah itu, Yosepa segera berangkat menuju rumah honai tempat kami tinggal. Rumah kami cukup jauh, membutuhkan waktu beberapa jam untuk sampai ke sana. Jika seseorang membawa barang bawaan, perjalanan bisa memakan waktu 4–5 jam, tetapi mba saya bisa menempuhnya dalam 2–3 jam saja.

Saya duduk di luar sambil bermain gelembung sabun yang baru saja dibuat oleh abang. Bahannya berasal dari daun pepaya yang dicampur dengan sabun daya, sedangkan alatnya dibuat dari ranting pepaya.

Kebetulan, pandangan saya tertuju ke jalan. Begitu mba Yosepa muncul, saya langsung meletakkan permainan saya dan menyambutnya dengan penuh semangat. Biasanya, setiap kali mba Yosepa datang dari kampung, ia selalu membawa oleh-oleh untuk saya.

Saya pun segera melihat ke dalam tasnya. Benar saja, ia membawa beberapa permen karet. Saya langsung mengambilnya, membuka bungkusnya, dan mulai mengunyah.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.

“Ma, kakek ingin berbicara sesuatu yang penting,” kata mba saya.

“Tumben serius sekali. Biasanya langsung diceritakan ke kami,” sahut abang.

“Dengarkan dulu, mungkin kali ini memang penting,” ujar kakek yang sudah berumur lebih dari 70 tahun, tetapi fisiknya masih terlihat seperti baru berumur 50 tahun.

Ruangan yang tadi penuh canda tawa langsung menjadi sunyi.

“Mau ngomong apa, Kak? Sepertinya penting sekali,” tanya ibu penasaran.

“Iya, Yosepa. Ayo cepat bicarakan,” sahut kakek yang sudah tidak sabar.

“Jadi begini, Ma, Kek. Tadi pagi sebelum saya berangkat ke sini, paman yang tinggal di kampung—anaknya sedang sekolah sekarang—sempat berbicara dengan saya tentang sekolah,” jelas Yosepa dengan penuh antusias.

“Kalian membicarakan apa saja?” tanya ibu semakin penasaran.

“Paman menawarkan saya untuk bersekolah. Jika saya mulai sekolah, saya akan tinggal bersama sepupu kita, Natalia,” jelas Yosepa.

“Apakah saya boleh bersekolah, Ma? Kek?” tanya Yosepa penuh harap.

Keinginan Bersekolah

“Bagi Mama, ini adalah kabar baik. Mama memang sudah lama menginginkan kalian bisa bersekolah. Tidak mungkin abangmu sekolah lagi karena dia sudah berumur, tapi harapan Mama adalah kamu dan adikmu bisa sekolah seperti anak-anak lainnya,” jawab ibu antusias.

“Jadi, lebih baik kamu sekolah saja. Toh, kamu tidak sendiri, ada sepupu kamu. Lagipula, di kampung itu sekolahnya gratis, jadi kita tidak perlu pusing mencari biaya sekolahmu. Perlengkapan sekolah nanti Mama yang pikirkan,” lanjut ibu.

Setelah mendengar jawaban ibu, Yosepa kembali bertanya kepada kakek.

“Bagaimana, Kek? Apakah saya boleh bersekolah?”

“Loh, kan Mama sudah menyetujui. Buat apa lagi minta izin ke Kakek?” ujar abang dengan nada yakin.

“Jangan seperti itu, Bang. Kita ini keluarga. Setiap keputusan besar harus didiskusikan dan disetujui oleh semua orang, bukan hanya sebagian,” jelas ibu kepada abang.

“Bagaimana, Kek? Apakah Yosepa boleh bersekolah?” Yosepa kembali bertanya dengan penuh harapan.

“Tidak,” jawab kakek singkat.

Kami semua terkejut mendengar jawaban itu. Ruangan yang tadinya ramai kembali sunyi.

Kecewa

Ibu tampak kecewa, karena ia sangat berharap Yosepa bisa sekolah. Ia sering merasa malu saat berkumpul dengan teman-temannya yang menceritakan anak-anak mereka yang sedang sekolah.

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami. Semua hanya saling berpandangan.

Cahaya damar yang semakin meredup menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu. Kami berharap cahaya itu bisa mengantar kami ke tempat tidur masing-masing, tapi tiba-tiba ibu kembali bertanya, memecah kesunyian.

“Kenapa, Pak? Kan bagus kalau anak-anak punya keinginan untuk sekolah. Tidak semua anak mau sekolah, ada yang harus dipaksa dulu oleh orang tuanya. Kalau salah satu dari mereka bisa sekolah, saya tidak perlu malu lagi di depan teman-teman saya. Masa depan mereka juga pasti lebih baik,” ujar ibu penuh harap.

“Yosepa tidak boleh sekolah. Dia akan menemani Kakek di sini. Tidak masalah kalau dia tidak sekolah,” jawab kakek tegas.

“Terserah Bapak deh,” ujar ibu pasrah.

Mama akhirnya menyerah menghadapi kakek, yang merupakan ayahnya sendiri.

“Ya sudahlah, kalau memang kakek tidak mengizinkan, tidak apa-apa. Saya akan mengikuti kemauan kakek,” kata mba saya dengan nada pasrah.


Baca aneka cerpen yang menggugah hati dan sarat makna hanya di merapah.com.