Sabtu, Juli 11, 2026
No Result
View All Result
Merapah.com
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini
Merapah.com
Home Sosial

Ketika Bencana Tak Dianggap Nasional, Komunikasi Negara Ikut Mengecil

Putri S by Putri S
Desember 27, 2025
in Sosial
Shofura Nur Adilah (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unila)

Bencana banjir dan longsor di Sumatera dikaji oleh Shofura Nur Adilah, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung, dari sudut pandang komunikasi publik.

FacebookWhatsappTelegramTwitter

Shofura Nur Adilah (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unila)

Banjir dan longsor yang melanda Sumatera dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah akumulasi dari kerusakan lingkungan yang berlangsung lama, hutan yang ditebang, daerah resapan yang hilang, dan ekspansi perkebunan sawit yang mengubah lanskap hidup masyarakat. Ketika hujan datang, alam tidak lagi mampu menahan air. Yang tersisa hanyalah lumpur, arus deras, dan rumah-rumah yang tak sempat diselamatkan.

Related posts

DPP Apklindo Lampung Tasyakuran atas Milad Apklindo Ke-41 dan Jalin Sinergi dengan MCMI Wilayah Lampung

DPP Apklindo Lampung Tasyakuran atas Milad Apklindo Ke-41 dan Jalin Sinergi dengan MCMI Wilayah Lampung

Juni 16, 2026
Perjalanan sederhana ke Ponorogo dan Dungus menghadirkan ketenangan yang sulit dilupakan. Aroma daun jati, tungku kayu, dan suasana desa yang hangat membuat perjalanan terasa seperti pulang ke rumah.

Dapur Tua di Ujung Ponorogo

Juni 13, 2026

Namun di tengah kondisi yang oleh warga disebut sangat parah, pemerintah tidak menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional. Secara administratif mungkin ada alasannya, tetapi dari sisi komunikasi publik, keputusan ini membawa dampak besar. Status bencana bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal pesan yang disampaikan negara kepada rakyatnya.

BACA JUGA: Ferry Irwandi Melawan Batas Kewilayahan

Ketika bencana tidak disebut sebagai bencana nasional, masyarakat menangkap pesan bahwa penderitaan mereka dianggap masih dalam batas “biasa”. Padahal, di lapangan, banyak wilayah masih terendam, akses terputus, dan warga hidup di pengungsian tanpa kepastian. Di sinilah jarak antara bahasa pemerintah dan kenyataan warga mulai terasa.

Di media sosial, warga Aceh justru lebih dulu menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Video rumah hanyut, kebun terendam, dan jalan desa tertutup longsor tersebar luas dan menjadi perhatian publik nasional. Sayangnya, narasi resmi pemerintah tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang dilihat masyarakat melalui unggahan tersebut. Akibatnya, publik bingung, jika kondisinya separah ini, mengapa tidak disebut sebagai bencana nasional?

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, status bencana bukan sekadar istilah administratif. Ia adalah pesan simbolik yang sangat kuat. Ketika pemerintah tidak menyebut sebuah tragedi sebagai bencana nasional, pesan yang sampai ke publik terutama kepada korban adalah bahwa penderitaan mereka dianggap “masih bisa ditangani pada taraf biasa”. Padahal, di lapangan, banyak wilayah masih terendam, longsor masih mengancam, dan warga hidup dalam ketidakpastian.

BACA JUGA: Kredit Belum Membaik Sampai di Penghujung 2025, Namun Harapan Tumbuh 2 Digit di 2026

Komunikasi krisis menuntut kepekaan terhadap realitas sosial dan psikologis korban, bukan hanya kalkulasi prosedural. Saat negara mengecilkan skala bencana dalam narasi resminya, empati publik ikut mengecil. Perhatian nasional pun cepat berpindah. Yang tertinggal adalah warga yang masih membersihkan lumpur, kehilangan mata pencaharian, dan menunggu kepastian yang tak kunjung datang.

Ironisnya, di era media sosial, warga Sumatera justru lebih dulu memperlihatkan skala bencana melalui video dan kesaksian langsung. Air setinggi dada, longsor yang menutup akses desa, kebun sawit yang menggantikan hutan, dan sungai yang meluap tanpa kendali. Konten-konten ini viral. Publik melihat. Namun narasi resmi negara tidak pernah benar-benar menyamai urgensi visual tersebut.

BACA JUGA: Ancaman Bencana Meningkat, Destana Lampung Perkuat Jejaring Provinsi

Dari sudut pandang komunikasi lingkungan, kondisi ini sangat problematik. Pemerintah cenderung memisahkan bencana dari penyebab strukturalnya. Penebangan hutan dan ekspansi sawit jarang disebut secara tegas dalam komunikasi resmi sebagai salah satu penyebab. Banjir seolah hanya disebabkan hujan ekstrem, bukan akibat keputusan pembangunan jangka panjang. Akibatnya, pesan yang diterima publik menjadi dangkal dan tidak edukatif.

Komunikasi publik yang baik seharusnya tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa ini bisa terjadi dan siapa yang bertanggung jawab. Ketika penyebab struktural tidak dikomunikasikan, negara kehilangan kesempatan membangun kesadaran ekologis dan kepercayaan publik. Lebih buruk lagi, masyarakat terdampak merasa realitas hidup mereka disederhanakan dalam bahasa birokrasi.

Tidak ditetapkannya bencana ini sebagai bencana nasional juga berdampak pada komunikasi bantuan. Tidak ada satu suara nasional yang konsisten. Tidak ada komunikasi terpadu yang menunjukkan bahwa negara hadir sepenuhnya. Dalam teori komunikasi krisis, ketiadaan pesan tunggal yang kuat adalah bentuk kegagalan komunikasi.

BACA JUGA: Lampung Property Residential Outlook 2026

Saya melihat persoalan ini bukan hanya soal bantuan, kebijakan, atau anggaran, tetapi soal cara negara hadir lewat kata-kata dan sikapnya. Bahasa yang terlalu teknis dan kaku membuat jarak dengan warga yang sedang berduka. Dalam kondisi seperti ini, korban merasa tak didengar. Ketika penderitaan tidak diberi nama yang setimpal, rasa keadilan pun memudar. Masyarakat tidak hanya butuh bantuan fisik, tetapi juga pengakuan bahwa penderitaan mereka benar-benar dipahami.

Sumatera bukanlah wilayah baru dalam menghadapi bencana. Justru karena itu, negara seharusnya belajar bahwa pengakuan simbolik, melalui penetapan status, bahasa empatik, dan narasi yang jujur adalah bagian penting dari pemulihan. Mengakui bahwa ini adalah bencana nasional bukan hanya soal anggaran, tetapi soal keberpihakan moral.

Bencana ini sudah sangat parah. Bukan hanya karena air dan longsor, tetapi karena pesan yang sampai ke publik terasa mengecilkan kenyataan. Dalam komunikasi, apa yang tidak diucapkan sering kali lebih menyakitkan daripada apa yang diucapkan.

Jika negara ingin memulihkan, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya tanggul dan jalan, tetapi juga cara berbicara kepada rakyatnya. Karena dalam situasi krisis, komunikasi yang jujur dan empatik adalah bentuk kehadiran negara yang paling nyata.

Tags: bencanaberitailmu komunikasiOpiniUniversitas Lampung
Previous Post

Kredit Belum Membaik Sampai di Penghujung 2025, Namun Harapan Tumbuh 2 Digit di 2026

Next Post

Honda New ADV 160, Skutik Tangguh Bergaya SUV

Next Post
Honda New ADV 160

Honda New ADV 160, Skutik Tangguh Bergaya SUV

Mudik pesawat

Tips Mudik Naik Pesawat agar Perjalanan Bebas Drama

PAN Kota Bandar Lampung

PAN Bandar Lampung Bidik Dua Kali Lipat Kursi DPRD pada Pemilu Mendatang

Emersia Hotel & Resort Raih Traveloka Hotel Awards

Emersia Hotel & Resort Raih Traveloka Hotel Awards 2025, Satu-satunya dari Lampung

gaji pensiunan pns

Gaji Pensiunan PNS 2026: Taspen Tegaskan Jadwal Cair dan Aturannya

RECOMMENDED NEWS

Warga Lampung merasakan udara lebih sejuk meski cuaca siang sangat terik. BMKG menjelaskan kondisi ini dipicu musim kemarau dan masuknya massa udara dingin dari Australia.

Lampung Terasa Dingin Meski Terik, BMKG Ungkap Penyebabnya

1 bulan ago
rumah BUMN

33 UMKM Binaan Rumah BUMN Ikuti Business Matching dengan GM Hotel di Lampung

5 bulan ago
HARGA EMAS NAIK

Berkilau! Harga Emas Naik Rp9.000

8 bulan ago
Air Putih

Benarkah Harus Minum 8 Gelas Sehari? Mitos dan Fakta Air Putih

1 tahun ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

2018 League antam Bandar Lampung berita berita cuaca berita lampung Bisnis BMKG bmkg Lampung Budget Travel cerpen Chopper Bike Cuaca cuaca Lampung digitalisasi ekonomi Ekonomi bisnis emas erson agustinus gen z harga emas Honda hujan di Lampung Indonesia Istana Negara kegiatan mahasiswa kesehatan Lampung Lampung Selatan Lifestyle mahasiswa Mahasiswa KKN Mitra Bentala olahraga Opini otomotif pendidikan prakiraan cuaca Prakiraan cuaca Lampung Teknologi tips tips dan trik Tips Kesehatan ubs Universitas Lampung

POPULAR NEWS

  • Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    460 shares
    Share 184 Tweet 115
  • Mempercayai Weton Tulang Wangi dalam Perspektif Islam

    421 shares
    Share 168 Tweet 105
  • Enam Permainan Sederhana Tingkatan Motorik Anak

    419 shares
    Share 168 Tweet 105
  • Tiga Tips Manager untuk Memiliki Karyawan Profesional

    412 shares
    Share 165 Tweet 103
  • Tiga Aplikasi Gratisan untuk Edit Video di Ponsel Kamu

    412 shares
    Share 165 Tweet 103
Merapah.com

Follow us on social media:

Recent News

  • Peran Strategis Arsitek Lanskap: Menyatukan Manusia dan Alam untuk Kota Berkelanjutan dan Berkemanusiaan
  • Perbedaan Urban Planning, Arsitektur, dan Arsitektur Lanskap
  • DPD PI Lampung Gelar PI Expo Run 5K, Start dari Transmart dan Undi Satu Unit Rumah

Category

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • About
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2026 - Merapah.com

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini

© 2026 - Merapah.com