Merapah.com – Perjalanan ini sebenarnya sederhana. Aku hanya pergi dari Sumatera ke Jawa. Singgah ke Madiun, lalu ke Ponorogo, kemudian lanjut ke Dungus. Namun, entah kenapa, perjalanan ini terasa berbeda dibanding perjalanan lain yang pernah aku lakukan.
Mungkin karena suasananya. Mungkin juga karena orang-orang yang aku temui di sana.
Saat sampai di Ponorogo, aku berkunjung ke rumah Mbah Muji. Rumahnya tidak besar, tetapi terasa teduh. Halamannya masih dipenuhi tanaman. Udara paginya dingin, bahkan anginnya terasa pelan sekali menyentuh kulit.
Pagi itu, aku sarapan sego pecel yang dibungkus daun jati. Dari luar memang terlihat biasa saja. Namun, begitu bungkusnya dibuka, aromanya langsung keluar. Harum daun jati bercampur nasi hangat itu benar-benar khas.
Isinya lengkap. Nasi, pecel dengan sambal kacang, teri, kerupuk, sambal, singkong, dan beberapa lauk sederhana lain. Aku makan pelan-pelan sambil duduk santai di rumah Mbah Muji.
Aneh ya, kadang makanan sederhana justru terasa paling nikmat ketika dimakan di tempat yang tepat.
Dapur yang Membuatku Diam Beberapa Menit
Aku paling suka bagian dapurnya.
Saat pertama masuk, aku langsung diam beberapa menit. Rasanya seperti melihat suasana yang dulu sering muncul di televisi waktu kecil. Dindingnya masih bata merah. Belum dicat. Warnanya mulai kusam, tetapi justru terlihat cantik.
Tempat cuci piringnya juga masih sederhana. Ember besar, rak kayu, dan gentong air masih dipakai sehari-hari. Tidak ada kesan modern sama sekali.
Lalu ada tungku kayu di sudut dapur. Asapnya tipis. Aroma kayu bakar bercampur bau singkong yang sedang dibakar membuat dapur itu terasa hangat sekali.
Aku ingat, waktu itu aku berdiri dekat tungku cukup lama. Bukan karena dingin, tetapi karena suasananya nyaman. Bunyi kayu yang terbakar pelan, panci hitam yang sudah penuh bekas api, sampai cahaya pagi yang masuk dari sela dapur, semuanya terasa tenang.
Tidak mewah. Tidak estetik seperti kafe-kafe sekarang. Namun, justru itu yang membuatnya terasa hidup.
Dungus, Mie Ayam, dan Suasana yang Sunyi
Setelah dari Ponorogo, aku lanjut ke Dungus dan bertemu Mbah Wit.
Perjalanan menuju sana dipenuhi pohon jati. Jalannya tidak terlalu ramai. Rumah-rumah warga juga berjauhan. Semakin masuk ke dalam desa, suasananya semakin sunyi. Namun, bukan sunyi yang menyeramkan. Justru sunyi yang menenangkan.
Udara di sana dingin dan bersih. Aku bisa mencium aroma tanah dan kayu sepanjang perjalanan.
Siang itu, aku makan mie ayam di warung kecil dekat rumah warga. Tempatnya sederhana sekali. Tidak ada musik. Tidak ada suara kendaraan. Hanya suara angin dan dedaunan pohon jati yang bergerak pelan.
Aku duduk sambil menikmati mie ayam hangat di tengah desa yang masih asri itu. Sesekali warga lewat dan saling menyapa. Semuanya terasa pelan. Tidak ada yang terburu-buru.
Di situ aku sadar, mungkin selama ini aku terlalu sering hidup di tempat yang ramai sampai lupa rasanya tenang.
Perjalanan ini memang cuma beberapa hari. Namun, ada banyak suasana yang masih tertinggal di kepala sampai sekarang. Aroma tungku kayu, daun jati, dapur tua, udara dingin Dungus, dan obrolan hangat para mbah di sana.
Kadang, yang membuat seseorang rindu bukan tempat wisatanya. Namun, suasana sederhana yang diam-diam terasa seperti rumah.







