Merapah.com – Komunitas pengapresiasi film asal Lampung, Klub Nonton, kembali menghadirkan program Bioskop Kuy! untuk masyarakat. Program itu menghadirkan pemutaran film Crocodile Tears di Bandar Lampung.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026 pukul 19.00 WIB di Studio 6 XXI Mall Kartini, Bandar Lampung. Klub Nonton menghadirkan pemutaran itu dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Pemutaran film tersebut tidak hanya menjadi agenda eksibisi film semata. Klub Nonton juga ingin memperkuat pemerataan akses kebudayaan melalui apresiasi sinema nasional.

Inisiatif komunitas dinilai penting karena distribusi sejumlah film Indonesia belum menjangkau berbagai daerah. Kondisi itu membuat masyarakat di luar pusat industri film kesulitan mengakses karya sinema tertentu.
BACA JUGA: ACFFest Movie Day 2026 Hidupkan Diskusi Antikorupsi di Lampung
Crocodile Tears Raih Perhatian Festival Film
Film Crocodile Tears merupakan debut penyutradaraan panjang Tumpal Tampubolon. Produksi Tala Media dan E Motion Entertainment itu pertama kali tayang di festival internasional pada 2024.
Film tersebut melakukan world premiere di Toronto International Film Festival. Film itu juga masuk nominasi Sutherland Trophy di BFI London Film Festival.
Selain itu, Crocodile Tears meraih sejumlah nominasi pada Festival Film Indonesia. Film tersebut masuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, hingga Skenario Asli Terbaik.
Film itu juga memenangkan Direction Award dan Nongshim Award for Feature Film pada Jakarta Film Week. Namun, distribusi layar film tersebut belum menjangkau Bandar Lampung.
Situasi itu mendorong Klub Nonton menghadirkan film tersebut melalui program Bioskop Kuy!. Program itu dirancang untuk mempertemukan masyarakat dengan film Indonesia yang memiliki kualitas artistik dan relevansi budaya.
BACA JUGA: Diskusi ACFFEST Movie Day Lampung 2026, Film Jadi Medium Dorong Kesadaran Antikorupsi
Klub Nonton Soroti Pentingnya Akses Budaya
Koordinator Klub Nonton, Nada Bonang, mengatakan film Crocodile Tears memiliki kontribusi penting dalam perkembangan perfilman nasional. Menurut dia, film tersebut menunjukkan perkembangan sinema Indonesia dengan pendekatan artistik yang matang.
“Crocodile Tears adalah karya yang menunjukkan bagaimana sinema Indonesia terus berkembang dengan pendekatan artistik yang matang, keberanian naratif, dan kualitas pencapaian yang mendapat pengakuan luas,” ujar Nada Bonang.
Ia menilai pemutaran film tersebut bukan hanya soal menghadirkan tontonan untuk masyarakat. Klub Nonton juga ingin membuka akses budaya yang lebih setara bagi publik di daerah.
“Ketika karya-karya penting seperti ini belum sampai ke kota kami melalui distribusi reguler, komunitas perlu mengambil peran agar masyarakat tetap dapat terhubung dengan perkembangan sinema nasional,” katanya.
Nada menambahkan film bukan hanya medium hiburan bagi masyarakat. Film juga menjadi bagian dari praktik kebudayaan yang membuka ruang dialog dan refleksi sosial.
BACA JUGA: “If You Come to San Francisco”
Klub Nonton Konsisten Dorong Literasi Film
Klub Nonton berdiri sejak 2012 sebagai komunitas pengapresiasi film berbasis di Lampung. Komunitas tersebut berfokus pada eksibisi dan literasi film.
Selama lebih dari satu dekade, Klub Nonton telah menyelenggarakan puluhan kegiatan pemutaran film. Komunitas itu juga memutar ratusan film karya sineas Lampung maupun sineas Indonesia lainnya.
Pemutaran Crocodile Tears melalui program Bioskop Kuy! diharapkan memperluas pengalaman menonton masyarakat Lampung. Kegiatan itu juga diharapkan memperkuat ekosistem apresiasi film daerah secara inklusif dan merata.












