Pagi itu, udara dingin Kota Bandar Lampung masih menempel di kulit saat aku mulai mengayunkan sapu lidi. Srasr… srasr… Suara gesekan sapu dengan tanah di halaman rumah Pak Hartono menjadi musik pembuka hari-hariku setiap hari Sabtu.
Namaku Shanny. Aku adalah seorang mahasiswa perantau yang jauh dari Papua. Di saat mahasiswa lain menikmati akhir pekan untuk tidur panjang atau nongkrong di kafe estetik, pagiku sudah diisi dengan mencabuti rumput liar, membersihkan garasi, dan membakar sampah. Upah harian dari sinilah yang kugunakan untuk membeli nasi bungkus dan biaya hidupku sehari-hari.
Aku hidup sebatang kara. Kata “orang tua” sudah lama hilang dari kamus hidupku sejak kecil. Tidak ada pelukan hangat saat aku lelah, tidak ada tempat pulang untuk sekadar mengeluh betapa susahnya tugas kuliah yang menumpuk dan harus kukerjakan sendirian. Semua kulakukan sendiri, compang-camping, bertahan hidup seorang diri di tanah rantau dengan sisa tenaga yang kumiliki.
Sering kali, aku hanya bisa duduk di sudut selasar kampus, memperhatikan teman-teman sekelasku. Mereka tertawa lepas, membicarakan liburan akhir pekan, mobil baru, atau rencana kencan dengan pacar mereka. Mereka punya segalanya: keluarga yang utuh, dukungan finansial yang aman, dan hidup tanpa beban.
Di situlah aku merasa minder. Ada jarak yang sangat jauh, dinding tak kasat mata yang memisahkan duniaku dengan dunia mereka.
Sampai akhirnya, dinding pembatas itu sempat bergetar. Namanya Kirana. Kami berada di Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara (UKM PSM) yang sama. Gadis itu duduk tepat di belakang kursiku saat mata kuliah Pengantar Manajemen. Senyumnya ramah, cara bicaranya tegas dan lembut, dan ada sesuatu dari caranya tertawa yang membuat hari-hariku yang berat terasa sedikit lebih ringan.
Hingga suatu hari, ia memperhatikanku dan bertanya tentang kacamata usang yang bertengger di hidungku.
”Shanny, kacamata kamu minus berapa?” tanya Kirana lembut.
“Minus dua,” jawabku singkat.
“Kamu coba kacamata kawan saya, lensanya sama atau nggak,” katanya sambil menunjuk dan meminta kacamata sahabat di sampingnya. Kebetulan, ukuran lensa kacamataku dan sahabatnya itu mirip.
“Oke, saya coba dulu ya,” kataku sambil mengambil kacamata itu dari tangannya. “Sama kok lensanya,” lanjutku sambil mengembalikan kacamata sahabat nya itu ke Kirana.
Beberapa hari kemudian, ia datang membawa sebuah bungkusan kecil. Isinya sepasang kacamata baru, dengan model yang hampir serupa dengan milikku, bahkan warna framenya pun sama persis.
”Shanny, ini dicoba kacamatanya. Punya kamu itu kan sudah diselotip dan mau rusak, jadi ganti pakai yang ini saja,” kata Kirana tersenyum.
“Terima kasih ya, Kirana,” ucapku tercekat sambil mencoba kacamata itu.
Saat itu, dadaku bergemuruh. Aku merasa sangat senang, merasa diperhatikan oleh seseorang yang diam-diam sudah lama kusebut dalam doa-doaku. Kacamata itu bukan sekadar alat bantu penglihatan; bagi anak rantau sepertiku, itu adalah bentuk kepedulian pertama yang begitu indah di tanah rantau.
Bodohnya, dari perhatian kecil itu, aku berani berharap lebih. Aku mulai mencoba mendekatinya, menunjukkan perhatian sekadarnya—sesederhana membawakan catatan kuliah yang sempat ia lewatkan atau menyapanya duluan dengan senyuman paling tulus yang kumiliki.
Namun, aku lupa. Cinta, rupanya punya standar dan kelasnya sendiri.
Suatu sore, langkahku terhenti di dekat tangga perpustakaan. Suara tawa renyah itu terdengar, suara Kirana. Tapi kalimat yang meluncur dari bibirnya membuat udara di sekitarku mendadak membeku.
”Anak itu aneh banget ya, suka senyum-senyum sendiri kalau habis ngobrol. Padahal penampilannya kayak gitu… bajunya itu-itu terus, kelihatan banget kalau kita beda level sama kita.”
Jantungku seperti berhenti berdetak. Dunia di sekeluarku mendadak sunyi, menyisakan gema suara itu di dalam kepala.
Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela perpustakaan. Kemeja usang yang mulai pudar, sepatu kanvas yang solnya sudah direkatkan lem, dan tangan yang kapalan karena terbiasa memegang gagang sapu. Seketika itu juga, kesadaran dingin menghantam dadaku dengan keras. Apakah pantas aku mencintai seseorang, sementara untuk mencintai diriku sendiri saja aku harus berjuang mati-matian melawan lelahnya hidup di perantauan?
Malam itu, di kamar kos sempit berukuran 3×3 meter yang pengap, kacamata pemberian Kirana kubuka perlahan. Aku menangis tanpa suara. Bukan karena aku cengeng, tapi karena dadaku terlalu sesak menahan malu pada diri sendiri.
Sejak hari itu, aku memilih mundur. Aku berhenti menyapa Kirana, menghapus setiap angan-angan bodoh tentang menggandeng tangan seseorang di bawah lampu taman kampus. Aku kembali ke duniaku—dunia sunyi tempat aku berjuang sendirian.
Aku menutup rapat pintu hatiku. Untuk apa aku mengetuk pintu cinta, jika sambutan yang kudapatkan selalu sama: tatapan asing dan rasa tidak pantas?
Kini, matahari kembali meninggi. Seperti biasa, sapu lidi di tanganku kembali bergerak, membersihkan dedaunan kering di halaman rumah Pak Hartono. Aku mungkin tidak punya siapa-siapa, dan dunia percintaan bukan takdir untukku saat ini. Tapi setidaknya, di balik kacamata pemberiannya yang masih kupakai ini, aku belajar melihat dunia dengan lebih jujur: bahwa di atas tanah yang sedang kusapu ini, aku berdiri kokoh di atas kakiku sendiri.
Tentang Penulis
Sani Ngep, lahir di Kurumkim pada 25 September 2005, merupakan mahasiswa Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung. Sebagai mahasiswa perantau asal Papua, ia menuangkan pengalaman, keresahan, dan pengamatan tentang kehidupan mahasiswa ke dalam cerpen. Melalui tulisan, Sani mencoba menghadirkan kisah sederhana tentang perjuangan hidup, cinta, perbedaan latar belakang sosial, serta proses belajar menerima dan menghargai diri sendiri.









