Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Merapah.com
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini
Merapah.com
Home

Dampak Perubahan Iklim terhadap Kehidupan Masyarakat Pesisir: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Putri S by Putri S
Juli 22, 2025
in Uncategorized
Merapah.com Masyarakat pesisir
FacebookWhatsappTelegramTwitter

Merapah.com – Pesisir adalah batas yang rapuh sekaligus vital. Ia menjadi penghubung antara daratan dan laut, antara ekosistem yang stabil dan kekuatan alam yang dinamis. Di Indonesia, kawasan pesisir bukan hanya titik geografis, tetapi tempat tinggal bagi puluhan juta orang yang bergantung hidup dari laut. Namun kini, wilayah ini menjadi yang paling terancam akibat perubahan iklim.

Kenaikan Muka Laut dan Ancaman Nyata bagi Indonesia

Bukan hanya sekadar abrasi dan rob, tetapi juga hilangnya daratan, rusaknya sumber penghidupan, serta terganggunya kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya. Ini bukan sekadar isu lingkungan—ini adalah krisis kemanusiaan. Maka yang lebih mendesak dari sekadar kesadaran adalah: apa yang harus kita lakukan sebelum semuanya tenggelam, secara harfiah maupun simbolik.

Related posts

Harga emas Antam pada Kamis, 4 Juni 2026, masih bertahan di level Rp2,774 juta per gram. Meski pasar global mengalami tekanan, harga emas domestik tetap berada pada level tinggi.

Harga Emas Antam 4 Juni 2026 Bertahan, Simak Pergerakan Terbarunya

Juni 4, 2026
PT BHM dan PT Adora Marsada Group resmi bekerja sama mengelola BATIQA Hotel Adora Lampung yang dijadwalkan beroperasi pada 2027 di Natar, Lampung Selatan.

BATIQA Bangun Hotel Baru di Natar, Bidik Penumpang Bandara dan Wisatawan Modern

Juni 3, 2026

Perubahan iklim adalah krisis global, tetapi dampaknya sangat nyata dan lokal, khususnya di pesisir Indonesia. Dengan garis pantai sepanjang lebih dari 81.000 km, Indonesia memiliki salah satu wilayah pesisir terpanjang di dunia. Namun kekayaan ini kini menjadi titik paling rentan. BMKG mencatat bahwa tinggi muka laut di wilayah Indonesia naik antara 0,8 hingga 1,2 cm per tahun, jauh lebih tinggi dari rata-rata global sebelumnya (Antara, 2024).

BACA JUGA: Dampak Sampah Plastik Bagi Laut, Ekosistem Terancam

Bahkan data jangka panjang dari BMKG menunjukkan bahwa sejak 1993 hingga 2022, laju kenaikan muka laut Indonesia mencapai 4,0 ± 0,4 mm/tahun (BMKG, 2023). Laporan lain dari Kompas juga menyebutkan bahwa laju kenaikan muka laut secara global melonjak menjadi 4,7 mm per tahun pada periode 2015–2024, hampir dua kali lipat dibanding dekade sebelumnya (Kompas, 2025).

Lebih dari Sekadar Abrasi: Kerugian Ekonomi dan Sosial

Akibatnya, kawasan pesisir kita semakin sering mengalami banjir rob, abrasi, dan kerusakan lingkungan yang merusak infrastruktur dan tempat tinggal warga. Menurut kajian Bappenas dan program Low Carbon Development Indonesia (LCDI), lebih dari 42 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah yang berada kurang dari 10 meter dari permukaan laut. Jika tren ini terus berlanjut, maka pada tahun 2050, sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia terancam tenggelam (Bappenas, 2022).

Namun krisis ini bukan hanya persoalan fisik. Ia berdampak langsung pada keberlanjutan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir. Bencana seperti rob dan abrasi merusak jalan, pelabuhan, tambak, dan rumah-rumah warga. Masyarakat kehilangan lahan produktif, tempat tinggal, dan bahkan desa mereka secara perlahan-lahan. Kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim di sektor pesisir dan laut ditaksir mencapai Rp 81,5 triliun per tahun, menurut Bappenas dalam studi nasionalnya.

Pukulan terhadap Nelayan dan Ketahanan Pangan Laut

Dampak terhadap sektor perikanan—sumber penghidupan utama masyarakat pesisir—juga sangat serius. Pemanasan laut dan pengasaman air laut telah menurunkan hasil tangkapan ikan hingga 20–25% di beberapa wilayah pesisir. Terumbu karang rusak, dan habitat ikan bergeser. Ini memaksa nelayan melaut lebih jauh dan lebih lama, menghabiskan lebih banyak biaya, dan pada akhirnya menurunkan kesejahteraan mereka. Banyak nelayan tradisional akhirnya meninggalkan profesi mereka, beralih menjadi buruh kasar atau migran, dan mengalami tekanan sosial baru.

Secara sosial, masyarakat pesisir menghadapi tekanan ganda: ancaman kehilangan rumah dan tempat tinggal, serta kerusakan tatanan sosial-budaya. Mereka yang tinggal di wilayah langganan rob, seperti Semarang Utara, Pekalongan, dan Demak, harus beradaptasi hidup dalam genangan. Anak-anak bersekolah di tengah banjir, warga membangun rumah panggung dari kayu dan beton seadanya. Dalam jangka panjang, banyak dari mereka akhirnya terpaksa melakukan migrasi paksa, meninggalkan desa yang telah mereka tempati turun-temurun. Namun tak semua bisa pergi. Bagi sebagian besar, tidak ada tempat tujuan. Maka mereka memilih bertahan.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada harapan. Kisah seperti yang terjadi di Desa Rejosari, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, memberi pelajaran berharga. Seorang warga bernama Pasijah memilih bertahan di rumahnya yang dikelilingi rob. Daripada pasrah, ia menanam sekitar 15.000 pohon mangrove setiap tahun selama dua dekade terakhir untuk menahan abrasi dan mengurangi dampak rob (Reuters, 2025). Mangrove menjadi solusi berbasis alam yang efektif, murah, dan berkelanjutan. Peneliti menemukan bahwa hutan mangrove menyerap karbon 4–5 kali lebih banyak dari hutan tropis biasa, sekaligus menahan gelombang dan mengikat tanah secara efektif.

BACA JUGA: Fakta Sampah di Pulau Pasaran: 64 Persen Plastik, 149 Ton per Tahun

Harapan dari Alam: Peran Strategis Mangrove

Namun, langkah seperti ini belum cukup jika tidak didukung kebijakan yang berpihak. Terlalu banyak proyek tanggul dan pembangunan infrastruktur keras yang dilakukan tanpa konsultasi atau partisipasi masyarakat lokal. Bahkan dalam beberapa kasus, proyek-proyek ini justru memperburuk kerusakan lingkungan atau merampas ruang hidup warga. Ini memperlihatkan bahwa pembangunan yang tidak berbasis keadilan ekologis hanya akan menciptakan krisis baru.

Maka, yang dibutuhkan adalah pendekatan adaptasi iklim yang lebih inklusif dan berbasis komunitas. Selain solusi teknis seperti tanggul atau sistem drainase, kita perlu memperluas investasi pada solusi berbasis alam seperti restorasi mangrove, pemulihan terumbu karang, dan konservasi lahan basah. Kita juga harus memberdayakan masyarakat pesisir secara ekonomi, seperti melalui pelatihan usaha alternatif, ekowisata komunitas, atau budidaya berkelanjutan. Diversifikasi mata pencaharian adalah kunci untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap guncangan iklim.

Relokasi terencana (managed retreat) bisa menjadi opsi terakhir untuk wilayah yang sudah tidak layak huni. Pemerintah harus merelokasi masyarakat secara manusiawi, adil, dan berbasis hak—bukan dengan menggusur paksa. Pemerintah juga wajib menyediakan tempat tinggal yang layak, membuka akses mata pencaharian baru, dan menjamin perlindungan sosial bagi warga yang dipindahkan.

Pesisir sebagai Prioritas Masa Depan Berkelanjutan

Kita juga harus mengubah cara pandang terhadap wilayah pesisir. Selama ini pesisir sering dianggap sebagai “ruang belakang”, tempat pembuangan limbah atau lokasi proyek reklamasi yang menguntungkan investor. Padahal, pesisir adalah titik strategis untuk ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan penyeimbang ekologi. Jika kita ingin membangun masa depan yang berkelanjutan, maka pesisir harus menjadi prioritas, bukan korban pembangunan.

Akhirnya, menghadapi perubahan iklim adalah soal pilihan dan tanggung jawab bersama. Kita bisa memilih menunggu, menunda, dan menyalahkan satu sama lain. Atau kita bisa mulai bergerak: mengubah pola hidup, mendukung kebijakan ramah lingkungan, dan berdiri bersama masyarakat yang paling terdampak. Apa yang terjadi di pesisir hari ini adalah cermin dari masa depan kita semua. Dan jika kita tidak bertindak sekarang, maka cepat atau lambat, daratan tempat kita berpijak pun bisa hilang seperti garis pantai yang terus terkikis ombak.

Tags: adaptasi iklimberitaBMKGCuacakegiatankomunitasLifestyleOpiniperubahan iklimpesisirwilayah pesisir
Previous Post

Penyandang Disabilitas Lampung Raih Rekor Muri dalam Jalan Sehat dan Senam Bersama

Next Post

Perbedaan Flu dan Pilek: Jangan Sampai Salah Mengenali Gejalanya!

Next Post
Perbedaan Flu dan Pilek: Jangan Sampai Salah Mengenali Gejalanya!

Perbedaan Flu dan Pilek: Jangan Sampai Salah Mengenali Gejalanya!

berbisnis dengan bos

Etika Karyawan Bisnis dengan Bos, Perlu Aturan Jelas

AZKO capai 250 toko

AZKO Capai 250 Toko, Rayakan dengan Promo Nasional hingga 25 Mei 2025

PCNU Lamsel

PD-PKPNU PCNU Lampung Selatan Angkatan XXX Resmi Digelar

14 JAM BISA MENULIS

Juwendra Rilis Buku Terbaru Berjudul 14 Jam Bisa Menulis

RECOMMENDED NEWS

kuliner khas palembang

Pempek Cik Mar Kuliner Khas Palembang Harga Terjangkau

1 tahun ago
SIG bantu UMKM

SIG Masuk Lampung, Bantu UMKM Urus Label Gizi dan BPOM

4 bulan ago
Hiburan dan Keakraban Warnai HUT Ke-54 REI di Ballroom Marriott

Hiburan dan Keakraban Warnai HUT Ke-54 REI di Ballroom Marriott

1 bulan ago
BMKG Lampung

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Lampung

5 bulan ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

2018 League antam Bandar Lampung berita berita cuaca berita lampung Bisnis BMKG bmkg Lampung cerpen Cuaca cuaca Lampung digitalisasi ekonomi Ekonomi bisnis emas erson agustinus gen z harga emas Honda hujan di Lampung Indonesia Istana Negara kegiatan mahasiswa kesehatan Lampung Lampung Selatan Lifestyle mahasiswa Mahasiswa KKN Mitra Bentala National Exam olahraga Opini otomotif pendidikan prakiraan cuaca Prakiraan cuaca Lampung Teknologi tips tips dan trik Tips Kesehatan ubs Universitas Lampung Visit Bali

POPULAR NEWS

  • Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    457 shares
    Share 183 Tweet 114
  • Mempercayai Weton Tulang Wangi dalam Perspektif Islam

    418 shares
    Share 167 Tweet 105
  • Enam Permainan Sederhana Tingkatan Motorik Anak

    416 shares
    Share 166 Tweet 104
  • Tiga Tips Manager untuk Memiliki Karyawan Profesional

    411 shares
    Share 164 Tweet 103
  • Tiga Aplikasi Gratisan untuk Edit Video di Ponsel Kamu

    410 shares
    Share 164 Tweet 103
Merapah.com

Follow us on social media:

Recent News

  • Harga BBM Naik Lagi, Pertamax Kini Tembus Rp16.250 per Liter
  • Bocah di Vietnam Alami Retak Tulang Wajah Usai Jatuh dari Perosotan 
  • Harga Emas Antam Naik Lagi, Simak Rincian Terbarunya Hari Ini

Category

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Uncategorized
  • About
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2026 - Merapah.com

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini

© 2026 - Merapah.com