Oleh: Asyil Aripatriansah
Merapah.com, Opini – Medio tahun 2026, di tengah pemberitaan perang antara negeri Paman Sam dengan keturunan Kekaisaran Persia yang tak kunjung henti (rehat sejenak lalu berseteru kembali), dunia bersiap-siap dipertontonkan (untuk dihibur) dengan perhelatan olahraga empat tahunan yang sangat menyita perhatian miliaran manusia, tak perduli laki-laki atau perempuan, dewasa maupun anak-anak.
48 peserta dari berbagai belahan benua hadir di tiga negara Amerika bagian utara (Kanada, Meksiko, Amerika Serikat). Kesemuanya terbagi ke dalam 12 grup yang masing-masing memperlihatkan gerak-gerik, taktik, strategi, manajerial, kebiasaan, gaya hidup dsb.
BACA JUGA: China Siapkan Dua Stadion Hadapi Kualifikasi Piala Dunia 2026
Mental para mantan pemenang, peserta yang hampir selalu lolos dalam setiap penyelenggaraan, serta pendatang baru ditampilkan untuk diadu satu sama lain. Tujuannya hanya satu, juara dunia.
Piala dunia kali ini adalah penyelenggaraan kedua kalinya yang menghadirkan lebih dari satu negara sebagai tuan rumah (sebelumnya tahun 2002 oleh Korea Selatan dan Jepang). Momen ini tentunya (selain menghadirkan pertandingan olahraga) juga menampilkan budaya, ekonomi, sosial, politik, serta berbagai kreasi manusia pada negara penyelenggara.
Hal ini berhubungan dengan pariwisata, transportasi, keamanan, hubungan diplomasi antar negara dsb. sehingga perhelatan ini tidak hanya dilihat an sich sebagai olah gerak tubuh, namun juga dilihat sebagai keseluruhan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam berbagai hal. Tentu ketiganya (penyelenggara) memiliki perbedaan yang mencolok dilihat dari beberapa sisi tersebut di atas.
Ketiga negara penyelenggara tahun ini dilatarbelakangi oleh budaya yang berbeda jauh. Amerika Serikat dilatari oleh budaya Inggris (sebagian besar negara bagian merupakan migrasi rakyat Kerajaan Inggris Raya). Kanada yang didominasi oleh budaya Perancis. Sedangkan Meksiko, kita ketahui bersama dipengaruhi oleh budaya bangsa Spanyol.
BACA JUGA: Benarkah Thom Haye Pilih Az Alkmaar?
Walaupun terdapat banyak perbedaan termasuk dengan negara-negara peserta lainnya, semangat persaudaraan antar bangsa antar negara tetap terjalin erat. Hal ini dapat dilihat di jalan-jalan maupun di tempat berlangsungnya pertandingan.
Bahkan di balkon stadion, duduk bersebelahan dengan pendukung tim lawan, tidak menjadi masalah. Saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan mungkin menjadi prinsip antar pendukung tim nasional. Walaupun di beberapa tempat masih saja ada yang berbuat onar, menimbulkan masalah keamanan, namun biasanya pihak keamanan tuan rumah dengan sigap mengatasinya sehingga situasi tetap kondusif.
Piala Dunia menghadirkan banyak cerita, yang terjadi di negara tuan rumah maupun di masing-masing negara yang menjadi peserta turnamen sepakbola ini. Bahkan, seratusan negara lain yang tidak ikut (atau tidak lolos) dalam seleksi piala dunia kali ini juga ikut larut dalam suasana penyelenggaraan yang meriah namun juga penuh ketegangan (khususnya di menit-menit terakhir babak tambahan waktu).
Banyak penduduk negara-negara tersebut menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti nonton bareng di kafe atau tempat terbuka lainnya. Ditambah dengan permainan-permainan yang menambah keseruan saat sebelum dan sesudah pertandingan. Masing-masing memiliki jagoan (tim yang didukung) dengan memprediksi siapa yang akan menang, berapa hasil akhir pertandingan, kekuatan masing-masing lawan dsb.
BACA JUGA: Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Olahraga yang Berkelanjutan
Gegap gempita ini terjadi di hampir seluruh belahan dunia. Walaupun banyak masalah masing-masing bangsa dan negara yang ada di depan mata, tetap saja penduduk mencoba menghibur diri dengan adanya penyelenggaraan piala dunia ini.
Begitu juga di Indonesia, negara tercinta yang sedang dilanda banyak masalah. Terbaru, penangkapan oknum pengelola program negara di bidang gizi untuk anak-anak, operasi tangkap tangan kepala daerah di berbagai tempat, naiknya bahan bakar minyak jenis pertamax (yang menurut masyarakat disebut dengan istilah ganti harga).
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, nonton bareng tetap dilakukan di negara kepulauan ini. Baik di desa maupun di kota. Walaupun tim nasional Garuda tidak lolos piala dunia, namun tidak mengapa, menonton dari rumah saja tidak menjadi kendala. Sejenak, permasalahan bangsa dan negara terlupakan, walaupun pada kenyataan esok akan tetap terus berjalan.







