Rabu, Agustus 26, 2026
No Result
View All Result
Merapah.com
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini
Merapah.com
Home Entertainment

Cerpen: Keinginan yang Tak Direstui

Putri S by Putri S
Maret 12, 2025
in Entertainment
keinginan yang tak direstui

Ilustrasi cerpen karya Sani Ngep. Keinginan yang Tak Direstui

FacebookWhatsappTelegramTwitter

Saya masih ingat sekali waktu kecil, keinginan terbesar ibu adalah agar kami bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Dalam keluarga kami, ada lima orang: saya, abang, mba, mama, dan kakek. Sejak lama, kami tinggal di dalam hutan. Abang sudah berusia 20 tahun, sementara mba baru menginjak usia enam tahun, namun keduanya tidak pernah bersekolah.

Related posts

AFTERMYSKIN Buka Peluang Penghasilan dari Rumah, Ratusan Warga Lampung Antusias Ikuti Bootcamp Affiliate

AFTERMYSKIN Buka Peluang Penghasilan dari Rumah, Ratusan Warga Lampung Antusias Ikuti Bootcamp Affiliate

Juni 8, 2026
Aftermyskin Gelar Gathering dan Bootcamp Affiliate di Bandar Lampung, Hadirkan Atta Halilintar

Aftermyskin Gelar Gathering dan Bootcamp Affiliate di Bandar Lampung, Hadirkan Atta Halilintar

Juni 7, 2026

“Kamu mau masuk sekolah? Kalau kamu mau, kamu bisa berangkat sekolah bersama sepupu kamu,” tanya paman kepada Yosepa.

“Iya, saya mau, tapi sebelum masuk sekolah, saya harus meminta izin dulu kepada ibu, kakek, dan abang. Jika mereka mengizinkan, barulah saya bisa bersekolah, paman, karena saya tidak bisa sekolah tanpa izin mereka,” jawab Yosepa.

“Oke, kalau sudah dapat izin dan kamu mulai bersekolah, kamu tinggal di sini ya, tidur bersama sepupu kamu. Nanti kalian berangkat sekolah bareng,” ujar paman.

“Iya, paman, tapi saya takut kakek tidak mengizinkan saya sekolah,” ujar Yosepa dengan nada khawatir.

“Sudah, kamu jangan dengarkan kakek kamu itu. Yang penting, kamu mendapatkan izin dari ibu dan abang saja sudah cukup. Kalau kakek tidak mengizinkan, bilang saja ke om, nanti om yang hadapi dia,” ujar paman yang berkulit coklat tua dan bertubuh kekar dengan nada bercanda.

Mulai Berangkat

Setelah itu, Yosepa segera berangkat menuju rumah honai tempat kami tinggal. Rumah kami cukup jauh, membutuhkan waktu beberapa jam untuk sampai ke sana. Jika seseorang membawa barang bawaan, perjalanan bisa memakan waktu 4–5 jam, tetapi mba saya bisa menempuhnya dalam 2–3 jam saja.

Saya duduk di luar sambil bermain gelembung sabun yang baru saja dibuat oleh abang. Bahannya berasal dari daun pepaya yang dicampur dengan sabun daya, sedangkan alatnya dibuat dari ranting pepaya.

Kebetulan, pandangan saya tertuju ke jalan. Begitu mba Yosepa muncul, saya langsung meletakkan permainan saya dan menyambutnya dengan penuh semangat. Biasanya, setiap kali mba Yosepa datang dari kampung, ia selalu membawa oleh-oleh untuk saya.

Saya pun segera melihat ke dalam tasnya. Benar saja, ia membawa beberapa permen karet. Saya langsung mengambilnya, membuka bungkusnya, dan mulai mengunyah.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.

“Ma, kakek ingin berbicara sesuatu yang penting,” kata mba saya.

“Tumben serius sekali. Biasanya langsung diceritakan ke kami,” sahut abang.

“Dengarkan dulu, mungkin kali ini memang penting,” ujar kakek yang sudah berumur lebih dari 70 tahun, tetapi fisiknya masih terlihat seperti baru berumur 50 tahun.

Ruangan yang tadi penuh canda tawa langsung menjadi sunyi.

“Mau ngomong apa, Kak? Sepertinya penting sekali,” tanya ibu penasaran.

“Iya, Yosepa. Ayo cepat bicarakan,” sahut kakek yang sudah tidak sabar.

“Jadi begini, Ma, Kek. Tadi pagi sebelum saya berangkat ke sini, paman yang tinggal di kampung—anaknya sedang sekolah sekarang—sempat berbicara dengan saya tentang sekolah,” jelas Yosepa dengan penuh antusias.

“Kalian membicarakan apa saja?” tanya ibu semakin penasaran.

“Paman menawarkan saya untuk bersekolah. Jika saya mulai sekolah, saya akan tinggal bersama sepupu kita, Natalia,” jelas Yosepa.

“Apakah saya boleh bersekolah, Ma? Kek?” tanya Yosepa penuh harap.

Keinginan Bersekolah

“Bagi Mama, ini adalah kabar baik. Mama memang sudah lama menginginkan kalian bisa bersekolah. Tidak mungkin abangmu sekolah lagi karena dia sudah berumur, tapi harapan Mama adalah kamu dan adikmu bisa sekolah seperti anak-anak lainnya,” jawab ibu antusias.

“Jadi, lebih baik kamu sekolah saja. Toh, kamu tidak sendiri, ada sepupu kamu. Lagipula, di kampung itu sekolahnya gratis, jadi kita tidak perlu pusing mencari biaya sekolahmu. Perlengkapan sekolah nanti Mama yang pikirkan,” lanjut ibu.

Setelah mendengar jawaban ibu, Yosepa kembali bertanya kepada kakek.

“Bagaimana, Kek? Apakah saya boleh bersekolah?”

“Loh, kan Mama sudah menyetujui. Buat apa lagi minta izin ke Kakek?” ujar abang dengan nada yakin.

“Jangan seperti itu, Bang. Kita ini keluarga. Setiap keputusan besar harus didiskusikan dan disetujui oleh semua orang, bukan hanya sebagian,” jelas ibu kepada abang.

“Bagaimana, Kek? Apakah Yosepa boleh bersekolah?” Yosepa kembali bertanya dengan penuh harapan.

“Tidak,” jawab kakek singkat.

Kami semua terkejut mendengar jawaban itu. Ruangan yang tadinya ramai kembali sunyi.

Kecewa

Ibu tampak kecewa, karena ia sangat berharap Yosepa bisa sekolah. Ia sering merasa malu saat berkumpul dengan teman-temannya yang menceritakan anak-anak mereka yang sedang sekolah.

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami. Semua hanya saling berpandangan.

Cahaya damar yang semakin meredup menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu. Kami berharap cahaya itu bisa mengantar kami ke tempat tidur masing-masing, tapi tiba-tiba ibu kembali bertanya, memecah kesunyian.

“Kenapa, Pak? Kan bagus kalau anak-anak punya keinginan untuk sekolah. Tidak semua anak mau sekolah, ada yang harus dipaksa dulu oleh orang tuanya. Kalau salah satu dari mereka bisa sekolah, saya tidak perlu malu lagi di depan teman-teman saya. Masa depan mereka juga pasti lebih baik,” ujar ibu penuh harap.

“Yosepa tidak boleh sekolah. Dia akan menemani Kakek di sini. Tidak masalah kalau dia tidak sekolah,” jawab kakek tegas.

“Terserah Bapak deh,” ujar ibu pasrah.

Mama akhirnya menyerah menghadapi kakek, yang merupakan ayahnya sendiri.

“Ya sudahlah, kalau memang kakek tidak mengizinkan, tidak apa-apa. Saya akan mengikuti kemauan kakek,” kata mba saya dengan nada pasrah.


Baca aneka cerpen yang menggugah hati dan sarat makna hanya di merapah.com.

Tags: cerpen
Previous Post

Jadwal dan Lokasi Layanan Tukar Uang Baru BI di Bandar Lampung

Next Post

Fenomena FOMO, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Next Post
fenomena FOMO

Fenomena FOMO, Bagaimana Cara Mengatasinya?

GEN Z MELEK POLITIK

Gen Z Wajib Melek Politik, Ini Alasannya!

CARA DAPAT CUAN TANPA MODAL

Bisnis Online untuk Pemula: 5 Cara Dapat Cuan Tanpa Modal

GABAH DI NATAR

BPP Natar dan LO Bulog Kawal Serapan Gabah Petani di Natar

sergab

Sosialisasi Sergab di Desa Wai Sari untuk Kesejahteraan Petani

RECOMMENDED NEWS

Pinktober Run 2025

Pinktober Run 2025: Dari Kyokko Beach, Lampung Berlari untuk Hidup yang Lebih Sehat

10 bulan ago
iPhone 16

Spesifikasi iPhone 16, ini 8 Fakta Penting Sebelum Membeli

1 tahun ago
Komunitas motor

Nocturnity “Kick and Ride” Satukan Komunitas Motor di Lampung

7 bulan ago
Penelitian doktoral Suprihatin Ali mengungkap ketidakpastian lahan dan tata niaga kopi menjadi penyebab utama kemiskinan petani kopi di Lampung.

Dr. Suprihatin Ali Temukan Hambatan Utama Keberlanjutan Industri Kopi Lampung

3 bulan ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

antam Bandar Lampung berita berita cuaca berita lampung berita pendidikan Bisnis BMKG bmkg Lampung cerpen Cuaca cuaca Lampung digitalisasi ekonomi Ekonomi bisnis emas erson agustinus gen z harga emas Honda hujan di Lampung Indonesia inspirasi Istana Negara kegiatan mahasiswa kesehatan Lampung Lampung Selatan Lifestyle mahasiswa Mahasiswa KKN Mitra Bentala olahraga Opini otomotif Pelindo pendidikan prakiraan cuaca Prakiraan cuaca Lampung Teknologi tips tips dan trik Tips Kesehatan ubs Universitas Lampung

POPULAR NEWS

  • Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    467 shares
    Share 187 Tweet 117
  • Mempercayai Weton Tulang Wangi dalam Perspektif Islam

    425 shares
    Share 170 Tweet 106
  • Enam Permainan Sederhana Tingkatan Motorik Anak

    420 shares
    Share 168 Tweet 105
  • Tiga Aplikasi Gratisan untuk Edit Video di Ponsel Kamu

    416 shares
    Share 166 Tweet 104
  • Tiga Tips Manager untuk Memiliki Karyawan Profesional

    414 shares
    Share 166 Tweet 104
Merapah.com

Follow us on social media:

Recent News

  • Muharram Fest 2026, LAZ Darul Fattah Peduli Ajak Anak Yatim dan Dhuafa Belajar dan Berbagi
  • Rakernas I APTISI di Lampung Jadi Momentum Kebangkitan Perguruan Tinggi Swasta
  • 500 Peserta dari 33 Provinsi Hadiri Rakernas I APTISI di Lampung

Category

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • About
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2026 - Merapah.com

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini

© 2026 - Merapah.com