Bandar Lampung, Merapah.com – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Lampung menggandeng Dinas Pendidikan Provinsi Lampung serta Dinas Pendidikan kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung melalui skema kolaborasi L-Sinergi untuk memperluas pelaksanaan Diseminasi Program Pengembangan Kompetensi Bimbingan dan Konseling (BK) bagi guru di Provinsi Lampung. Kegiatan itu dimulai pada Senin, 22 Juni 2024 secara daring dan Selasa-Rabu, 23-24 Juni 2026 secara luring di tiap kabupaten dan kota se-Lampung.
Kepala BGTK Lampung, , mengatakan program ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus yang mendorong peningkatan kompetensi guru BK maupun guru non-BK agar mampu memberikan pendampingan yang lebih optimal kepada peserta didik.
Menurutnya, pada 2025 Kemendikdasmen melalui Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus telah melaksanakan program peningkatan kompetensi dengan harapan seluruh guru dapat berperan sebagai wali atau pendamping bagi siswa, bukan hanya menjadi tugas guru BK semata.
“Guru BK dan guru non-BK dibekali kemampuan untuk mendampingi siswa. Tujuan akhirnya adalah agar seluruh guru mampu memberikan layanan terbaik kepada peserta didik,” kata Hendra saat dihubungi merapah.com, Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan, tahun lalu BGTK Lampung telah melatih sebanyak 600 fasilitator daerah (fasda) yang tersebar di 15 kabupaten/kota di Lampung.
Namun, pada 2026 terjadi penyesuaian anggaran sehingga kuota yang tersedia hanya mampu mengakomodasi 98 peserta. Kondisi tersebut mendorong BGTK Lampung melahirkan skema L-Sinergi sebagai solusi untuk memperluas jangkauan program.
“Gap-nya cukup jauh. Karena itu, kami mengajak berbagai pemangku kepentingan dan mitra yang memiliki tugas dan fungsi relevan untuk berbagi sumber daya atau resource sharing guna meningkatkan kompetensi guru,” ujarnya.

Melalui skema tersebut, BGTK Lampung menggandeng Dinas Pendidikan Provinsi Lampung serta Dinas Pendidikan kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung agar fasilitator daerah yang telah dilatih pada tahun sebelumnya dapat mengajak guru-guru di wilayahnya menjadi peserta diseminasi.
Jumlah Peserta Meningkatkan Signifikan
Dengan pola kolaborasi ini, jumlah peserta meningkat signifikan dari 98 orang menjadi 450 peserta, dengan komposisi 30 peserta di masing-masing kabupaten/kota. Sebanyak dua fasilitator daerah akan dilibatkan di setiap daerah untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan.
Meski demikian, Hendra menilai jumlah tersebut masih terbilang sedikit jika dibandingkan dengan total 600 fasilitator daerah yang telah dilatih pada tahun sebelumnya. Karena itu, BGTK Lampung berharap ada inisiasi dan dukungan yang lebih besar dari pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan program tersebut.
Menurutnya, dukungan pemerintah daerah sangat penting agar para guru dapat mengakselerasi kemampuan siswa melalui pendampingan yang dilakukan secara kolaboratif, baik oleh guru BK, guru non-BK, maupun orang tua atau wali murid.
“Kami berharap ada inisiatif pemerintah daerah untuk mendukung diseminasi ini. Dengan begitu, guru dapat mengakselerasi kemampuan siswa melalui pendampingan yang dilakukan bersama oleh guru BK, guru non-BK, dan wali murid,” ujarnya.
Hendra menuturkan, pola pelaksanaan tahun ini juga berbeda karena peserta tidak mendapatkan transportasi maupun uang harian saat mengikuti kegiatan luring.
Materi pembelajaran disusun dalam 21 jam pelajaran (JP) yang terdiri atas 7 JP secara daring dan 14 JP secara luring selama dua hari.
“Kegiatan daring dilaksanakan hari ini selama 7 JP. Sedangkan kegiatan luring akan berlangsung pada Selasa dan Rabu di masing-masing kabupaten/kota,” ujarnya.
Program tersebut mengusung konsep 7 Jurus BK Hebat yang bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam mengenali kebutuhan dan potensi siswa secara menyeluruh. Program ini tidak hanya diperuntukkan bagi guru BK, tetapi juga guru mata pelajaran dan guru kelas agar mampu menjadi pendamping bagi peserta didik dalam aspek akademik, sosial, emosional, dan pengembangan karakter.
Tujuh jurus tersebut meliputi Kenali Potensi, Kelola Emosi, Tumbuhkan Resiliensi, Jaga Konsistensi, Jalin Koneksi, Bangun Kolaborasi, dan Menata Situasi.
Melalui tujuh pendekatan itu, guru didorong untuk membantu siswa mengenali minat dan bakatnya, mengelola emosi, membangun ketangguhan dalam menghadapi tantangan, membiasakan perilaku positif, memperkuat komunikasi yang sehat, meningkatkan kolaborasi antara sekolah dan orang tua, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif.
Menurut Hendra, manfaat program ini tidak hanya dirasakan oleh guru di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan oleh orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak di rumah.
“Tujuan akhirnya adalah siswa mendapatkan pelayanan terbaik dari guru. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus mampu mengenali potensi setiap siswa karena kebutuhan belajar mereka berbeda-beda sehingga penanganannya juga harus berbeda,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan layanan BK diharapkan dapat mendorong peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan di Lampung.
Sebanyak 450 guru yang mengikuti diseminasi nantinya diharapkan dapat menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada sedikitnya 15 guru lainnya di wilayah masing-masing sehingga jangkauan program semakin luas.
BGTK Lampung juga membuka peluang bagi pemerintah daerah yang ingin memperluas cakupan program melalui pola kolaboratif serupa pada kesempatan mendatang.
“Kami berharap ada inisiasi pemerintah daerah untuk bersama-sama memperkuat sinergi dan menambah jumlah peserta sehingga manfaat program ini dapat dirasakan lebih luas,” ujarnya.







