Merapah.com, Bandar Lampung – Institut Teknologi Sumatera (Itera) terus mendorong pengembangan inovasi teknologi untuk mendukung kesehatan mental masyarakat. Salah satunya melalui PhysioAnx, perangkat yang dirancang untuk membantu mendeteksi indikasi tingkat kecemasan seseorang dalam waktu singkat melalui respons fisiologis tubuh.
Perangkat tersebut mampu membaca perubahan kondisi tubuh yang berkaitan dengan kecemasan hanya dalam waktu sekitar satu menit. Saat ini, Itera tengah mempersiapkan proses hilirisasi PhysioAnx agar dapat diterapkan secara lebih luas, baik di lingkungan pendidikan maupun layanan kesehatan.
Upaya penyempurnaan produk dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan berbagai pihak, mulai dari psikolog, guru Bimbingan dan Konseling (BK), konselor, hingga pengelola layanan konseling perguruan tinggi. Forum tersebut menjadi wadah untuk memperoleh masukan sebelum PhysioAnx digunakan oleh masyarakat.
Rektor Itera menyampaikan bahwa hasil penelitian perguruan tinggi perlu diarahkan agar memberikan manfaat nyata. Menurutnya, inovasi kampus tidak seharusnya hanya berhenti dalam bentuk publikasi ilmiah, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan inovasi yang dapat diproduksi dan dimanfaatkan masyarakat. PhysioAnx menjadi salah satu contoh bagaimana hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna,” ujarnya.
PhysioAnx dikembangkan oleh tim peneliti Program Studi Teknik Biomedis Itera bersama mitra industri PT Entri Jaya Makmur sejak 2024. Ketua Peneliti sekaligus Koordinator Program Studi Teknik Biomedis Itera, Rudi Setiawan, menjelaskan bahwa alat tersebut bekerja dengan mengukur sejumlah sinyal fisiologis tubuh, seperti detak jantung, suhu kulit, serta konduktansi kulit yang mengalami perubahan saat seseorang berada dalam kondisi cemas.
Sinyal yang diperoleh kemudian diproses secara real time menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk menghasilkan gambaran awal tingkat kecemasan pengguna.
Namun, Rudi menegaskan bahwa PhysioAnx bukan alat diagnosis medis, melainkan perangkat pendukung skrining awal yang dapat membantu psikolog, konselor, maupun tenaga kesehatan dalam mempercepat proses asesmen.
Menurutnya, tahapan FGD memiliki peran penting dalam memastikan alat tersebut sesuai dengan kebutuhan pengguna. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain desain perangkat, prosedur penggunaan, penyampaian hasil pemeriksaan, perlindungan data pribadi, hingga mekanisme tindak lanjut setelah proses skrining.
“Pengembangan PhysioAnx merupakan kolaborasi antara akademisi, industri, dan masyarakat sebagai pengguna. Harapannya, inovasi ini tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga menjadi produk yang bermanfaat sebagai pendukung skrining kecemasan,” kata Rudi.
Dari hasil pengujian, PhysioAnx menunjukkan performa yang menjanjikan. Pengujian terhadap 275 responden dengan total 573 kali pengukuran menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebagai pembanding menunjukkan nilai akurasi, presisi, recall, dan F1-score di atas 96 persen. Perangkat tersebut juga memperoleh nilai Cohen’s Kappa sebesar 0,932.
Hasil tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan proses validasi implementasi PhysioAnx di lapangan.
Kepala Pusat Implementasi Inovasi Itera, Deni Subara, menyatakan optimisme terhadap pengembangan PhysioAnx sebagai produk teknologi kesehatan karya anak bangsa. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan praktisi menjadi faktor penting agar inovasi dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, PhysioAnx diharapkan mampu menjadi solusi teknologi yang membantu proses deteksi dini kecemasan sehingga langkah penanganan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.









