Lonceng gereja berdentang nyaring, menandai malam Natal yang sunyi. Bintang-bintang berkerlap-kerlip seolah menemani pemuda Papua itu dalam lamunannya.
Matanya menerawang jauh, membayangkan hangatnya api unggun di kampung halaman, suara tawa keluarga saat merayakan Natal.
Sejak merantau ke kota besar, ia telah banyak berubah. Logatnya mulai terpengaruh dialek daerah rantauan. Namun, satu hal yang tak pernah berubah adalah kerinduannya pada kampung halaman.
Setiap kali Natal tiba, hatinya selalu menghangat, namun juga terasa sepi. Ia ingat akan bagaimana dulu merayakan Natal bersama keluarga besar. Mereka akan berkumpul di rumah nenek, menyalakan lilin, menyanyikan lagu-lagu Natal, dan saling bertukar kado. Saat natal , mereka akan bersilaturahmi ke rumah tetangga, mengenakan baju baru, dan menikmati hidangan lezat dari hasil bakar batu.
Tahun ini, ia merayakan Natal jauh dari keluarga. Ia memasak sendiri hidangan sederhana, lalu menelepon orang tuanya. Suara ibunya terdengar lirih, merindukannya.
Air mata menetes di pipinya. Ia ingin sekali memeluk ibunya erat-erat, namun jarak yang jauh memisahkan mereka.
Lonceng Natal Pecah Kesunyian
Di tengah kesendiriannya, ia teringat pesan ayahnya, “Anak, kemanapun kamu pergi, jangan pernah lupakan asalmu. Jaga diri baik-baik dan jangan pernah menyerah mengejar cita-citamu.”
Dengan semangat baru, ia bangkit dari duduknya. Ia sadar bahwa merantau adalah bagian dari proses pendewasaan. Ia harus kuat dan mandiri. Meski jauh dari keluarga, ia tetap bisa merayakan Natal dengan cara yang berbeda. Ia akan mengirimkan doa terbaik untuk keluarga dan kampung halamannya. Lonceng natal.
Tentang Penulis
Anderian Kamo, lahir di Idadagi, 20 Februari 2004. Kini mengenyam pendidikan di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung angkatan 2022.













