Tidak Hanya MSCI, Bursa Saham Indonesia Perlu Pembanding (Benchmark) Indeks Saham Global Lainnya

Alasan pembanding dari indeks saham global lain agar lebih obyektif dan berimbang.

MSCI IHSG

Oleh : Erson Agustinus (Praktisi Ekonomi)

Gonjang-ganjing anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8% ke level 7.654,66 dalam sepekan terakhir, sentimen negatif dipengaruhi laporan penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) atas kinerja portofolio Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tidak transparan terhadap free float saham-saham Indonesia dalam Global Standart Indexes.

Kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi pengelolah otoritas BEI dan pengawas trading saham di Indonesia agar dapat profesional dan tanggap untuk segera menindaklanjuti seluruh persoalan yang ada di bursa. Ha itu, guna menciptakan kesehatan manajemen pengelolaan yang berkualitas.

Penilaian Indek Domestik

Untuk penilaian indek saham berdasar indek domestik para investor dan manajer investasi menggunakan indikator-indikator antara lain :

  • IHSG ini adalah pembanding utama kinerja pada saham Indonesia secara keseluruhan.
  • LQ45 yaitu indikator untuk mengukur kinerja 45 perusahaan dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar.
  • IDX30 indek yang terdiri dari 30 saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang lebih ketat dibanding LQ45.
  • Indek Sektoral sebagai pembanding kinerja sektoral secara spesifik seperti ; IDXFIN untuk keuangan, IDXBASIC sebagai bahan dasar.
indeks saham global
Perlu melihat rekomendasi Indeks Saham Global selain MSCI.

Mengapa Perlu Pembanding (Benchmark) Indek Global

Saat ini, hanya MSCI sebagai penialaian indek global di bursa saham Indonesia. Untuk mendapatkan penilaian kinerja portofololio yang lebih objektif berimbang, akurat, dan terdiversifikasi, tidak hanya bergantung pada metodelogi satu penyedia indek global, namun diperlukan penyedia indek global lainnya. Meskipun, kita pahami bahwa MSCI adalah acuan utama bagi triliunan dolar aset. Meski demikian,  ketergantungan ke MSCI memiliki risiko dan batasan.

Beberapa Alasan Perlu Pembanding :

  1. Menghindari Risiko “Badai” dan Ketergantungan (Monopoli Indeks), MSCI memiliki pengaruh besar, di mana perubahan dalam indeksnya (rebalancing) dapat memicu arus modal asing masuk atau keluar secara drastis, yang berdampak signifikan pada volatilitas pasar domestik. Ketika MSCI memutuskan untuk membekukan, mengeluarkan, atau menurunkan bobot saham sebuah negara (seperti kekhawatiran yang sempat terjadi pada Indonesia), hal ini dapat memicu penurunan IHSG. Menggunakan pembanding lain dapat memberikan perspektif yang lebih adil jika terjadi “badai” sentimen dari MSCI.
  2. Perbedaan metodologi dan cakupan setiap penyedia indeks memiliki kriteria yang berbeda-beda. MSCI fokus pada free float (saham yang beredar di publik) dan transparansi, tetapi metode ini bisa memberikan bobot yang sangat tinggi pada sektor atau saham tertentu saja. Pembanding seperti Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang merupakan indeks saham di bersa saham London atau Standard & Poor’s (S&P). Keduanya, mungkin memiliki kriteria yang berbeda mengenai kapitalisasi pasar atau kriteria inklusi saham, sehingga memberikan gambaran kinerja yang lebih luas atau berbeda.
  3. Menghindari “Home Bias” dan Risiko, Konsentrasi MSCI World Index (untuk negara maju) sering kali sangat didominasi oleh saham AS dan sektor teknologi. Investor yang ingin menghindari risiko konsentrasi pada satu negara atau sektor tertentu memerlukan indeks pembanding lain (misalnya yang berfokus pada pasar berkembang/emerging markets secara berbeda) untuk mendapatkan diversifikasi yang sesungguhnya.
  4. Kriteria ESG dan Transparansi Data, Indeks seperti MSCI sering dinilai berdasarkan faktor-faktor ESG (Environmental, Social, and Governance). Jika data yang digunakan dirasa kurang transparan atau tidak mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya, pembanding lain diperlukan untuk mendapatkan penilaian ESG yang lebih berimbang.
  5. Menghindari Penurunan Status (Downgrade) MSCI memiliki standar ketat mengenai free float (minimal 15%) dan aksesibilitas pasar. Jika sebuah perusahaan atau negara gagal memenuhi kriteria ini, MSCI akan mengeluarkan atau menurunkan status mereka, yang bisa berdampak negatif pada likuiditas dan kepercayaan investor.

Beberapa Indek Global Dapat Bergabung Di Bursa Saham Indonesia

  • FTSE (Financial Time Stock Exchange), pesaing utama MSCI yang sering digunakan untuk indek pasar betkembang (Emerging Markets).
  • S&P Dow Jones Indices: menyediakan verbagai indek, termasuk S&P 500 dan S&P Global BMI (Board Market Index) yang mencakup berbagai negara.
  • Solactive: penyedia indeks yang dikenal fleksibel dan sering digunakan untuk Exchange Traded Funds (ETF) tertentu.
  • Bloomberg Barclays Indices: umum digunakan sebagai benchmark obligasi.