Merapah.com – PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai awal Juni 2026. Kebijakan ini berlaku secara nasional dan dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kenaikan harga ini membuat sejumlah jenis BBM non-subsidi mengalami perubahan, sementara BBM subsidi tetap tidak mengalami penyesuaian.
Harga BBM Non-Subsidi Naik
Berdasarkan pembaruan harga di sejumlah SPBU Pertamina per 10 Juni 2026, beberapa jenis BBM mengalami kenaikan, di antaranya:
- Pertamax (RON 92) naik dari sekitar Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter
- Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter
- Pertamax Turbo (RON 98) juga mengalami penyesuaian di sejumlah wilayah dengan harga sekitar Rp20 ribu per liter
Kenaikan ini menjadi perhatian masyarakat, terutama pengguna kendaraan pribadi yang mengandalkan BBM jenis non-subsidi dalam aktivitas harian.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut kebijakan ini merupakan bagian dari evaluasi rutin yang mengacu pada mekanisme keekonomian. Penyesuaian tersebut mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari pergerakan harga minyak mentah dunia, harga produk olahan di pasar global, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Produk nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti harga keekonomian dan mengacu pada ketentuan dan peraturan yang berlaku. Namun sebagai BUMN yang menjalankan mandat strategis negara, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis semata, tetapi juga memperhatikan kondisi terkini di masyarakat, daya beli pelanggan golongan pengguna BBM nonsubsidi, serta stabilitas nasional,” ujarnya Senin (4/5/2026).
BBM Subsidi Tetap Stabil
Meski terjadi kenaikan pada BBM non-subsidi, pemerintah memastikan bahwa harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap berada di harga sekitar Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi bertahan di kisaran Rp6.800 per liter.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan energi nasional masih menjaga stabilitas harga bagi masyarakat pengguna BBM subsidi.
Ada BBM yang Justru Turun
Menariknya, tidak semua jenis BBM mengalami kenaikan. Beberapa produk diesel justru mengalami penurunan harga, seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang turun dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ini dipengaruhi oleh penyesuaian harga pasar dan biaya distribusi di sektor bahan bakar diesel.
Penyebab Kenaikan Harga BBM
Pertamina menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan berdasarkan beberapa faktor utama, antara lain:
- Fluktuasi harga minyak mentah dunia
- Perubahan nilai tukar rupiah
- Biaya distribusi dan logistik
- Formula penetapan harga BBM non-subsidi
Faktor-faktor tersebut membuat harga BBM non-subsidi bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi pasar global.
Kenaikan harga BBM pada Juni 2026 hanya terjadi pada jenis non-subsidi, sementara BBM subsidi tetap stabil. Kebijakan ini mencerminkan penyesuaian terhadap kondisi ekonomi global tanpa mengganggu harga energi untuk masyarakat luas.
Perubahan harga ini diperkirakan akan berdampak pada biaya transportasi dan kebutuhan harian, terutama bagi pengguna kendaraan berbahan bakar non-subsidi.







