Internasional, Merapah.com – Warga di Amerika Serikat menghadapi tekanan akibat lonjakan harga telur dalam beberapa tahun terakhir. Komoditas ini menjadi sorotan karena harganya naik tajam. Banyak warga menjadikan harga telur sebagai indikator kondisi ekonomi sehari-hari.
Harga Telur Naik Tajam dari Level Normal
Harga telur di Amerika Serikat sebelumnya tergolong stabil dan murah. Pada 2019, harga rata-rata hanya sekitar 1,40 dolar AS per lusin. Tahun 2020 dan 2021 menunjukkan kenaikan kecil, namun masih di bawah 2 dolar.
Situasi berubah setelah 2022 ketika harga mulai melonjak. Pada 2023, harga mencapai sekitar 2,80 dolar per lusin. Tahun 2024 naik lagi menjadi sekitar 3,17 dolar.
BACA JUGA: Rutin Makan Telur Rebus, Ini yang Terjadi pada Tubuh
Puncaknya terjadi pada 2025 ketika harga mendekati 5 dolar per lusin. Di beberapa wilayah, harga bahkan menembus 6 dolar. Kenaikan ini membuat harga telur meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding kondisi normal.
Flu Burung Ganggu Produksi Nasional
Wabah avian influenza menjadi penyebab utama lonjakan. Penyakit ini menyerang jutaan ayam petelur di berbagai wilayah. Peternak harus memusnahkan seluruh populasi jika ditemukan infeksi.
Sejak 2022, ratusan juta unggas terdampak wabah tersebut. Produksi telur nasional pun menurun drastis. Pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi.
Ketidakseimbangan ini mendorong harga terus naik. Proses pemulihan populasi ayam membutuhkan waktu lama. Kondisi ini membuat pasokan belum sepenuhnya stabil hingga kini.
BACA JUGA: Kuning atau Putih Telur: Mana yang Lebih Sehat untuk Tubuh?
Konsumsi Tinggi, Permintaan Tetap Kuat
Warga Amerika Serikat termasuk konsumen telur tinggi di dunia. Rata-rata konsumsi mencapai sekitar 280 hingga 290 butir per orang per tahun. Angka ini setara hampir satu butir telur per hari.
Telur menjadi makanan pokok dalam berbagai menu harian. Masyarakat menggunakannya untuk sarapan, bahan kue, dan makanan olahan. Tingginya konsumsi membuat permintaan tetap kuat di pasar.
Saat harga naik, konsumsi memang menurun. Namun penurunannya tidak drastis karena telur sulit digantikan. Warga tetap membeli meski harus mengurangi jumlah.
Dampak ke Masyarakat dan Kondisi Terkini
Kenaikan harga membuat warga lebih berhati-hati dalam berbelanja. Beberapa supermarket membatasi pembelian untuk menjaga ketersediaan stok. Restoran juga menyesuaikan harga menu berbahan telur.
BACA JUGA: Waspadai Makanan Pemicu Kolesterol Saat Lebaran
Fenomena pembelian berlebih sempat terjadi di beberapa wilayah. Warga khawatir pasokan semakin terbatas. Kondisi ini ikut mendorong harga tetap tinggi di pasar.
Memasuki 2026, harga telur mulai turun ke kisaran 3 hingga 4 dolar per lusin. Namun harga masih berfluktuasi dan belum sepenuhnya stabil. Risiko kenaikan tetap ada jika wabah kembali meningkat.
Situasi ini menunjukkan tekanan ekonomi masih dirasakan masyarakat. Harga telur menjadi simbol nyata dampak inflasi terhadap kebutuhan pokok di Amerika Serikat.













