Oleh : Erson Agustinus
Saat ini nilai tukar rupiah dalam kondisi sangat lemah mengkhawatirkan, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.900 per USD, hal ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif domestik, arus modal keluar (capital outflow), dan kekhawatiran pasar terhadap disiplin fiskal akibat beban anggaran yang besar untuk berbagai program pemerintah.
Diperparah lagi dengan situasi geopolitik Timur Tengah di selat Hormuz menyebabkan krisis energi global sehingga harga minyak dunia membumbung tinggi, yang sangat berpengaruh besar terhadap ekonomi negara-negara dunia tak terkecuali Indonesia turut merasakan imbasnya.
Ekspektasi Negatif
Beberapa faktor yang mendorong timbul sentimen negatif domestik sehingga pelaku pasar berekspektasi negatif penyebab rupiah melemah antara lain :
Pertama, Kekhawatiran Beban Fiskal dan Defisit APBN; Pasar merespons negatif besarnya pengeluaran negara yang tersedot untuk program prioritas pemerintah, seperti program percepatan dan kebijakan strategis lainnya yang menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini memicu kekhawatiran terkait potensi pembengkakan utang dan penurunan peringkat ketahanan ekonomi (rating outlook) Indonesia di mata investor internasional.
Kedua, Persepsi dan Krisis Ekspektasi Pasar; Banyak pakar ekonomi, termasuk dari Kementerian Keuangan, menilai fundamental ekonomi makro Indonesia secara riil sebenarnya masih tumbuh positif (misalnya PDB tumbuh 5,61% secara tahunan). Namun, kekhawatiran pelaku bisnis dan investor terhadap arah kebijakan ekonomi menciptakan siklus ramalan mandiri (self-fulfilling prophecy); ekspektasi negatif bahwa rupiah akan melemah justru mendorong pelaku pasar untuk memborong dolar, yang pada akhirnya benar-benar menekan nilai tukar.
Ketiga, Gap Imbal Hasil (Yield) Obligasi yang Kurang Menarik; Suku bunga acuan yang tinggi di Amerika Serikat membuat instrumen investasi di negara maju menjadi jauh lebih menarik dan aman bagi para pemilik modal. Apabila selisih imbal hasil (spread yield) antara Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi AS (US Treasury) tidak cukup lebar dan menarik, investor asing cenderung menarik dananya dari pasar keuangan domestik.
Keempat, Tingginya Permintaan Valas untuk Kebutuhan Musiman; Selain sentimen negatif di atas, tingginya tekanan terhadapg rupiah juga didorong oleh tingginya permintaan valuta asing (valas) domestik dari korporasi untuk pembayaran dividen, repatriasi, serta kebutuhan musiman seperti operasional ibadah haji dan umrah yang biasanya meningkat pada periode April hingga Juni.
Ciptakan Ekspektasi Positif
Purbaya : “Saat ini fundamental ekonomi kita sangat bagus di semua lini; belanja pemerintah, belanja masyarakat, inflasi terkendali, investasi bagus, akan tetapi kondisi rupiah melemah itu membingungkan..??
Faktor yang menyebabkan rupiah terus melemah sudah terjawab diatas yaitu, “Ekspektasi Negatif”, yang menyebabkan sentimen negatif pasar.
Saat ini menjadi tanggung jawab pemerintah, pelaku pasar serta seluruh masyarakat indonesia untuk menciptakan “Ekspektasi Positif” terhadap keadaan ekonomi kita yang mampu membuat pasar merespon positif terhadap ketahanan ekonomi domestik, sehingga pada akhirnya mampu mengakselerasi penguatan nilai tukar rupiah kita terhadap mata uang negara-negara asing khususnya terhadap dolar AS.







