Bandar Lampung, 26 Maret 2025 (Merapah.com) — Menjelang Idulfitri 2025, masyarakat mengeluh karena kesulitan tukar uang baru. Beberapa faktor seperti kuota terbatas dan antrian panjang di bank dan lokasi penukaran resmi membuat warga kecewa.
Setiap tahun, Bank Indonesia menyediakan layanan penukaran uang baru di berbagai kota. Namun, tingginya permintaan membuat banyak warga tidak kebagian jatah penukaran uang baru.
Warga Kesulitan Menukar Uang Baru
Santi (28), pekerja swasta di Tulang Bawang Barat, mengeluhkan sulitnya mendapatkan uang pecahan baru. “Saya sudah datang ke beberapa bank, tapi semua kuotanya habis sejak pagi,” katanya.
Santi mengaku kesulitan menyesuaikan jadwal penukaran dengan pekerjaannya yang padat. “Kalau harus datang lebih pagi, saya harus izin kerja dulu,” tambahnya.
Santi bukan satu-satunya yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan uang pecahan baru. Banyak masyarakat lainnya juga menghadapi tantangan serupa, terutama menjelang momen-momen penting seperti Lebaran atau hari raya lainnya.
Indri (39), ibu rumah tangga asal Lampung Utara, juga mengalami kendala saat menukar uang. “Biasanya bisa tukar di bank atau kas keliling, tapi sekarang lebih sulit, sistemnya juga sulit untuk diakses” ujarnya.
Selain antrean panjang di lokasi resmi, warga juga mengeluhkan maraknya oknum yang menjual uang baru di pinggir jalan dengan harga lebih tinggi. Praktik ini merugikan masyarakat karena mereka harus membayar lebih untuk mendapatkan pecahan kecil.
Indri juga menemukan banyak pedagang yang menjual uang baru dengan harga lebih tinggi. “Di pinggir jalan banyak yang jual uang baru, tapi ada biaya tambahan,” imbuhnya.
Bank Indonesia Imbau Warga Tukar Uang Baru di Tempat Resmi
Bank Indonesia telah menyiapkan beberapa titik penukaran uang untuk masyarakat di seluruh wilayah. Namun, jumlah kuota yang terbatas membuat banyak warga tidak kebagian uang baru.
Untuk menghindari antrean panjang, Bank Indonesia menyarankan masyarakat menukar uang sesuai jadwal resmi. Warga juga diminta tidak membeli uang baru dari perantara yang menaikkan harga.
Masyarakat berharap Bank Indonesia memperbaiki sistem yang digunakan di situs PINTAR pintar.bi.go.id dan menambah kuota penukaran agar lebih banyak orang bisa mendapatkan uang baru.













