Ketika Dunia Dilanda Heatwave, Bagaimana dengan Indonesia?

Di sinilah Indonesia berdiri dalam posisi yang paradoksal. Secara definisi meteorologis, Indonesia jarang mengalami “heatwave” seperti yang terjadi di India atau Eropa.

dadang hartabela
. Dengan karakter iklim yang relatif stabil, kita dapat mengembangkan pendekatan adaptasi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Dr.Eng. Dadang Hartabela
Peneliti Outdoor Thermal Comfort di Indonesia dan Jepang

Institut Teknologi Sumatera

Merapah.com – Gelombang panas kembali menyapu berbagai belahan dunia pada awal 2026. Di India dan kawasan Asia Selatan, suhu menembus lebih dari 44°C pada April. Sebelumnya, Australia mencatat suhu mendekati 50°C, sementara Amerika Utara mengalami panas ekstrem yang datang lebih awal dari biasanya. Rangkaian peristiwa ini bukan sekadar anomali cuaca, melainkan penanda bahwa krisis iklim telah memasuki fase yang lebih intens: panas ekstrem kini datang lebih sering, lebih dini, dan lebih lama.

 

BACA JUGA: Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Olahraga yang Berkelanjutan

 

Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Kita cenderung menganggap ancaman berakhir ketika gelombang panas dinyatakan selesai. Padahal, anggapan ini keliru. Merujuk pada temuan Andreas Matzarakis (2026), berakhirnya gelombang panas tidak berarti berakhirnya ancaman. Panas tetap tinggal, mengendap dalam tubuh, terperangkap dalam bangunan, dan terus memengaruhi kehidupan sehari-hari.

dadang hartabela..
Dr.Eng. Dadang Hartabela
Peneliti Outdoor Thermal Comfort di Indonesia dan Jepang, Institut Teknologi Sumatera

Di sinilah Indonesia berdiri dalam posisi yang paradoksal. Secara definisi meteorologis, Indonesia jarang mengalami “heatwave” seperti yang terjadi di India atau Eropa. Tetapi ketiadaan istilah bukan berarti ketiadaan masalah. Justru sebaliknya, Indonesia menghadapi bentuk paparan panas yang lebih halus, lebih konstan, dan sering kali tidak disadari sebagai ancaman.

 

BACA JUGA: Buronan Tak Sengaja: Ketegangan 25 Jam dan Aksi Kejar-kejaran di Atlantic City Expressway

 

Di banyak kota tropis, termasuk Bandar Lampung, panas hadir sebagai kondisi harian. Suhu mungkin tidak mencapai angka ekstrem, tetapi kombinasi kelembapan tinggi, radiasi matahari yang kuat, serta minimnya ventilasi lingkungan menciptakan tekanan termal yang signifikan. Dalam kondisi seperti ini, tubuh manusia bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan suhu. Keringat tidak lagi efektif mendinginkan tubuh karena udara sudah jenuh oleh uap air. Akibatnya, risiko dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan kardiovaskular meningkat, bahkan tanpa adanya status darurat apa pun.

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak panas tidak selalu muncul secara langsung. Ia bersifat akumulatif. Paparan berulang dari hari ke hari dapat menurunkan daya tahan tubuh, memperburuk kondisi penyakit kronis, dan secara perlahan menggerus kesehatan masyarakat. Pada kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruang, risiko ini menjadi berlipat.

 

BACA JUGA: Komdigi Bersama Said Hasibuan Bahas Strategi Layanan Publik Cakap Digital

 

Dampak panas juga merambat ke ranah psikologis. Malam yang tetap panas mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur bukan sekadar soal kelelahan, tetapi berimplikasi pada penurunan konsentrasi, produktivitas, dan stabilitas emosi. Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat perkotaan secara menyeluruh.

Masalah ini diperparah oleh cara kita membangun kota. Beton dan aspal menyerap panas sepanjang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, menciptakan fenomena pulau panas perkotaan. Banyak bangunan masih dirancang tanpa mempertimbangkan ventilasi silang atau perlindungan terhadap radiasi matahari. Bahkan ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi penyejuk alami mulai kehilangan efektivitasnya ketika mengalami stres kekeringan.

Ironisnya, semua ini terjadi tanpa alarm yang cukup keras. Tidak ada istilah “bencana” yang memicu respons cepat. Tidak ada status darurat yang menggerakkan kebijakan lintas sektor. Panas di Indonesia adalah krisis yang sunyi, ia hadir setiap hari, tetapi jarang dianggap sebagai masalah struktural.

Padahal, jika melihat tren global, kita tidak punya banyak waktu untuk menunda. Apa yang saat ini dianggap “normal” di Indonesia bisa menjadi “ekstrem” dalam waktu dekat. Tanpa intervensi yang tepat, kota-kota tropis berisiko terjebak dalam kondisi panas kronis yang semakin tidak nyaman dan tidak sehat.

 

BACA JUGA: KOMPASS Gelar Pelatihan Jurnalistik: Cetak Jurnalis Muda Papua di Sumatra

 

Karena itu, kita perlu mengubah cara pandang. Penanganan panas tidak bisa lagi bersifat reaktif, menunggu kejadian ekstrem. Ia harus menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang. Arsitektur tropis yang responsif, peningkatan kualitas ruang terbuka hijau, serta integrasi data iklim mikro dalam perencanaan kota bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Lebih dari itu, komunikasi publik juga perlu diperkuat. Masyarakat perlu memahami bahwa panas bukan sekadar “cuaca biasa”. Ia memiliki dampak nyata terhadap kesehatan dan produktivitas. Kesadaran ini penting untuk mendorong perubahan perilaku, mulai dari pola aktivitas harian hingga cara kita merancang dan menggunakan ruang.

Di tengah semua tantangan ini, Indonesia sebenarnya memiliki peluang. Dengan karakter iklim yang relatif stabil, kita dapat mengembangkan pendekatan adaptasi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Kita tidak harus menunggu krisis ekstrem untuk bertindak. Justru dari kondisi “yang tampak biasa” inilah kita bisa memulai transformasi.

Gelombang panas global telah memberi peringatan keras. Tetapi Indonesia memberi pelajaran yang lebih halus: bahwa ancaman tidak selalu datang dalam bentuk yang mencolok. Kadang, ia hadir perlahan, menetap, dan terakumulasi.

Dan justru karena itu, ia jauh lebih berbahaya jika diabaikan.