Merapah.com Bandar Lampung – Senyum itu tampak begitu tulus di wajah anak-anak SDIT Baitul Jannah. Di tangan mereka, puluhan piala dan medali berkilau diterpa cahaya pagi.
Ada yang memeluk trofi karate, ada yang menggenggam medali taekwondo, silat, sepatu roda, wushu, hingga penghargaan dari berbagai ajang olimpiade akademik. Tepuk tangan guru dan orang tua bergema, mengiringi langkah para “elang muda” yang satu per satu memasuki halaman sekolah.
Momen itu menjadi bagian dari Championship Elang Muda SDIT Baitul Jannah, sebuah perayaan yang bukan sekadar seremoni kemenangan. Lebih dari itu, sekolah ingin mengajarkan bahwa setiap piala adalah buah dari keberanian untuk mencoba, disiplin dalam berlatih, dan semangat pantang menyerah.
Baru memasuki sekitar satu bulan Tahun Ajaran 2026/2027, para siswa telah mempersembahkan 124 piala dari berbagai ajang kompetisi. Prestasi tersebut lahir dari beragam bidang, mulai dari karate, silat, taekwondo, sepatu roda, wushu, fashion show, hingga olimpiade Matematika, IPA, Sains, Pendidikan Agama Islam, dan berbagai perlombaan akademik lainnya.

Hebatnya lagi, prestasi itu tidak hanya diraih di tingkat Kota Bandar Lampung maupun Provinsi Lampung, tetapi juga pada kompetisi nasional hingga internasional. Bagi SDIT Baitul Jannah, setiap kemenangan bukan sekadar angka dalam laporan sekolah, melainkan cerita tentang anak-anak yang berani mengembangkan potensi terbaiknya.
Pembina Yayasan Baitul Jannah, Ir. H. Sugirianto, M.M., memandang deretan piala tersebut bukan sebagai garis akhir, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh.
“Alhamdulillah, hari ini kami mempersembahkan Championship Elang Muda SDIT Baitul Jannah. Dalam waktu yang relatif singkat anak-anak sudah mampu mempersembahkan sekitar 124 piala dari berbagai cabang perlombaan. Ini menjadi kebanggaan sekaligus penyemangat bagi kami untuk terus melahirkan generasi-generasi juara,” ujarnya.
Optimisme itu kemudian diterjemahkan menjadi target yang jauh lebih besar. Jika sebelumnya sekolah menargetkan 274 piala, kini SDIT Baitul Jannah memasang sasaran 500 piala sepanjang Tahun Ajaran 2026/2027. Target tersebut bukan sekadar ambisi, tetapi lahir dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki peluang untuk menjadi juara apabila mendapatkan pembinaan yang tepat.
Kepercayaan diri itu juga didukung oleh catatan prestasi tahun sebelumnya. Sepanjang Tahun Ajaran 2025/2026, sekolah berhasil mengoleksi sekitar 160 piala dari berbagai kompetisi.

“Kami ingin budaya berprestasi menjadi karakter sekolah. Target 500 piala bukan sekadar angka, tetapi menjadi motivasi agar setiap anak berani mengembangkan potensi terbaiknya,” kata Sugirianto.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, SDIT Baitul Jannah menghadirkan Champions Academy, sebuah sistem pembinaan yang dirancang untuk menemukan, membimbing, sekaligus mengembangkan potensi siswa sejak dini.
Program ini dibangun di atas empat pilar utama. Spiritual Champion menjadi wadah pembinaan tahfiz, dai, hadrah, dan MTQ. Academic Champion fokus pada olimpiade Matematika, IPA, IPS, Pendidikan Agama Islam, dan bidang akademik lainnya.
Sementara itu, Skill and Sport Champion membina siswa berbakat di bidang olahraga dan keterampilan, mulai dari karate, silat, taekwondo, sepatu roda hingga berbagai cabang olahraga lainnya. Adapun Literasi Champion menjadi ruang bagi anak-anak yang gemar berkarya melalui puisi, cerpen, drama, hingga menulis dan menerbitkan buku.
Kepala SDIT Baitul Jannah, Hermansyah, M.Pd.I., menegaskan bahwa setiap prestasi yang diraih siswa bukanlah hasil keberuntungan ataupun persiapan singkat menjelang perlombaan. Semua lahir dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan.
“Kami percaya setiap anak memiliki keunggulan yang berbeda. Karena itu sejak awal kami menyiapkan pembinaan yang terkonsep agar potensi mereka berkembang secara maksimal, bukan hanya di bidang akademik, tetapi juga olahraga, seni, teknologi, dan berbagai keterampilan lainnya,” ujarnya.
Komitmen tersebut diperkuat melalui sistem ekstrakurikuler yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni wajib, pilihan, dan mandiri. Untuk ekstrakurikuler mandiri, sekolah menggandeng pelatih profesional di berbagai bidang seperti karate, silat, taekwondo, sepatu roda, memanah, robotik, futsal, basket, badminton, hingga renang. Total terdapat sekitar 17 cabang ekstrakurikuler yang dapat dipilih siswa sesuai minat dan bakatnya.
Kolaborasi antara guru, pelatih, dan orang tua juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Koordinasi dilakukan secara rutin agar perkembangan setiap siswa dapat dipantau dengan baik. Tidak mengherankan jika sebagian besar prestasi saat ini datang dari siswa kelas III hingga kelas VI yang telah mengikuti pembinaan secara konsisten selama beberapa tahun.
Buah dari proses panjang itu kini mulai terlihat di panggung internasional. Pada Agustus 2026, SDIT Baitul Jannah akan mengirimkan atlet karate terbaiknya untuk berlaga di Thailand. Keikutsertaan tersebut menjadi bukti bahwa mimpi anak-anak Lampung mampu menembus batas negara ketika didukung pembinaan yang serius dan berkelanjutan.
Dengan kekuatan 1.226 siswa yang didampingi 126 guru, SDIT Baitul Jannah terus menanamkan keyakinan bahwa menjadi juara bukan semata-mata soal membawa pulang piala. Juara adalah tentang keberanian untuk bermimpi, ketekunan menjalani proses, dan kemauan untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Di halaman sekolah itu, piala-piala memang berkilau. Namun cahaya sesungguhnya justru terpancar dari mata anak-anak yang percaya bahwa mimpi mereka layak diperjuangkan. Dari sanalah “elang-elang muda” SDIT Baitul Jannah bersiap mengepakkan sayap lebih tinggi, membawa nama Lampung, bahkan Indonesia, menuju panggung dunia.








