Oleh: Erson Agustinus (Pengamat Perbankan & Praktisi Residensial)
Secara nasional memang penjualan rumah subsidi sampai Semester-1 2026 menurun mencapai 15%, sehingga penyaluran KPR FLPP pun secara otomatis mengalami penurunan.
Penurunan penyaluran KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mengalami penurunan 15% (yoy). Dari data BP TAPERA penyaluran FLPP per 28 Agustus 2026 turun 15% dibandingkan pada periode yang sama pada 2025 atau dari 162.344 unit menjadi sekitar 137.400 unit, sedang untuk kuota FLPP 2026 sebanyak 350.000 unit rumah. Di tahun 2025 KPR FLPP tersalur sebanyak 278.000 unit dari kuota tersedia sebanyak 350.000 unit .
Penurunan KPR FLPP Lampung
Di tahun 2025 lalu penyaluran KPR FLPP Lampung sebanyak 7.000 an unit. Sumber dari beberapa bank penyalur FLPP di Lampung menyebutkan bahwa; bank BTN KC Bandar Lampung menyatakan bahwa sampai akhir agustus Agustus 2026 baru tersalurkan kurang lebih 1500 an KPR FLPP.
Selanjutnya bank BRI yang menargetkan 50 milyar untuk tahun 2026 (mengalami kenaikan target dari tahun sebelumnya), dari sumber yang kami peroleh dari BRI BO Tanjung Karang telah menyalurkan kurang lebih 23 milyar per Agustus 2026.
Memang betul penjualan rumah subsidi pada Semester I-2026 mengalami penurunan cukup dalam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kalangan pengembang menilai perlambatan ini dipicu kombinasi persoalan dari sisi pasokan hingga melemahnya kemampuan masyarakat membeli rumah.
Penurunan tersebut tidak dipicu oleh satu faktor saja. Sejumlah tantangan muncul secara bersamaan sehingga menekan realisasi pembangunan maupun penjualan rumah subsidi di berbagai daerah tidak terkecuali di Lampung.
Selain persoalan pasokan, tekanan juga datang dari sisi permintaan dan pembiayaan. Kondisi tersebut membuat masyarakat berpenghasilan rendah semakin sulit merealisasikan pembelian rumah, sementara proses pembangunan proyek ikut menghadapi tantangan biaya dan infrastruktur.
Selanjutnya daya beli masyarakat yang belum pulih, proses persetujuan kredit terkendala SLIK, penyesuaian kebijakan pemerintah, kenaikan biaya pembangunan, serta keterlambatan pembangunan infrastruktur pendukung juga menjadi penyebab penurunan.
Meskipun penurunan tercatat secara kumulatif pada Semester-1 2026, pelemahan pasar tidak terjadi sejak awal tahun. Tren perlambatan justru semakin terlihat setelah memasuki pertengahan tahun. Perlambatan terasa memasuki triwulan-II dan semakin terasa pada akhir Semester-1.










