Senin, Oktober 26, 2026
No Result
View All Result
Merapah.com
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini
Merapah.com
Home Ekonomi

Relasi Sosial dan Perjuangan Ekonomi Masyarakat Kecil

Uswah Fatoni by Uswah Fatoni
Oktober 26, 2026
in Ekonomi, Sosial
Relasi Sosial dan Perjuangan Ekonomi Masyarakat Kecil

Relasi Sosial dan Perjuangan Ekonomi Masyarakat Kecil. Foto iStock.

FacebookWhatsappTelegramTwitter

Oleh: Putri Fajar Andini 

Merapah.com – Bekerja sering dianggap sebagai jalan utama untuk keluar dari kemiskinan. Namun, kenyataan sosial ekonomi menunjukkan bahwa memiliki pekerjaan tidak selalu berarti seseorang hidup dalam kondisi sejahtera. Bagi sebagian masyarakat, bekerja justru menjadi upaya harian untuk mempertahankan kehidupan di tengah pendapatan yang tidak menentu, kenaikan kebutuhan rumah tangga, dan terbatasnya perlindungan kerja.

Related posts

pedesaan

Tradisi, Kuasa, dan Perubahan Sosial di Desa

Oktober 26, 2026
Kepekaan Sosial di Tengah Masyarakat: Mengapa Kita Mudah Menghakimi, tetapi Sulit Memahami?

Kepekaan Sosial di Tengah Masyarakat: Mengapa Kita Mudah Menghakimi, tetapi Sulit Memahami?

Oktober 26, 2026

Persoalan ini dapat dilihat melalui kondisi pekerja informal di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2025, sebanyak 59,40 persen penduduk bekerja berada dalam kegiatan informal. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode yang sama tercatat sebesar 4,76 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak cukup dipahami hanya melalui angka pengangguran. Sebagian besar penduduk memang telah bekerja, tetapi status pekerjaan saja belum menjelaskan apakah mereka memperoleh pendapatan yang memadai, memiliki jaminan sosial, atau terlindungi ketika kehilangan sumber penghasilan.

Pekerja informal mencakup beragam kelompok, mulai dari pedagang kecil, pekerja keluarga, pekerja mandiri, hingga orang yang menjalankan usaha dengan skala terbatas. Kondisi mereka tidak seragam. Ada yang mampu mengembangkan usaha dan memperoleh pendapatan stabil, tetapi ada pula yang menghadapi ketidakpastian penghasilan dari hari ke hari.

Karena itu, besarnya proporsi pekerja informal perlu dibaca bukan sebagai bukti bahwa seluruh pekerjanya miskin, melainkan sebagai alasan untuk melihat lebih jauh kualitas pekerjaan dan tingkat perlindungan ekonomi yang tersedia.

Ketika Pendapatan Bergantung pada Situasi Harian

Bagi pedagang kecil di pasar, misalnya, pendapatan dapat dipengaruhi jumlah pembeli, perubahan harga bahan baku, persaingan usaha, hingga cuaca. Ketika penjualan menurun, penghasilan rumah tangga ikut terpengaruh. Sementara itu, kebutuhan makan, biaya pendidikan, transportasi, dan pengeluaran lainnya tetap harus dipenuhi.

Situasi serupa dapat dialami pekerja harian yang pendapatannya bergantung pada ketersediaan pekerjaan. Ketika permintaan menurun atau pekerjaan tidak tersedia, mereka berpotensi kehilangan penghasilan tanpa memiliki cadangan keuangan yang cukup.

Masalahnya bukan semata-mata terletak pada besarnya pendapatan, tetapi juga pada ketidakpastian dan kemampuan menghadapi risiko. Dua orang dengan penghasilan bulanan yang sama dapat memiliki tingkat kesejahteraan berbeda apabila salah satunya memiliki tabungan, jaminan kesehatan, dan perlindungan ketika kehilangan pekerjaan, sedangkan yang lain tidak.

Dalam konteks ini, pekerjaan perlu dinilai tidak hanya berdasarkan keberadaannya, tetapi juga berdasarkan kestabilan pendapatan, kondisi kerja, akses perlindungan sosial, dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup.

Ekonomi Tidak Berdiri Sendiri dari Hubungan Sosial

Perspektif sosiologi ekonomi membantu menjelaskan mengapa kondisi ekonomi seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh usaha pribadi. Aktivitas ekonomi juga dibentuk oleh hubungan sosial, akses terhadap sumber daya, dan posisi seseorang dalam masyarakat.

Pedagang kecil, misalnya, dapat bertahan karena memiliki pelanggan tetap, memperoleh informasi dari sesama pedagang, atau mendapatkan bantuan dari keluarga ketika modal usaha menipis. Hubungan kepercayaan dan jaringan sosial tersebut merupakan bentuk modal sosial yang dapat mendukung keberlangsungan ekonomi.

Namun, jaringan sosial tidak selalu cukup untuk mengatasi persoalan struktural. Bantuan keluarga mungkin dapat memenuhi kebutuhan sementara, tetapi belum tentu mampu menggantikan perlindungan kerja, akses pembiayaan yang terjangkau, atau jaminan pendapatan ketika usaha mengalami kerugian.

Di sisi lain, tidak semua orang memiliki jaringan yang sama. Mereka yang mempunyai akses terhadap informasi, modal, pendidikan, dan relasi usaha dapat memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan kegiatan ekonomi. Sebaliknya, masyarakat yang terbatas aksesnya dapat menghadapi hambatan lebih besar, bahkan ketika memiliki kemauan dan keterampilan untuk bekerja.

Dengan demikian, ketimpangan kesempatan ekonomi tidak dapat dijelaskan hanya melalui perbedaan etos kerja. Struktur kesempatan, distribusi sumber daya, dan hubungan sosial juga perlu diperhitungkan.

Kemiskinan dan Ketimpangan Belum Selesai

Persoalan pekerjaan juga berkaitan dengan kemiskinan dan distribusi kesejahteraan. BPS mencatat persentase penduduk miskin Indonesia sebesar 8,47 persen pada Maret 2025, atau sekitar 23,85 juta orang. Pada periode yang sama, rasio Gini pengeluaran penduduk tercatat sebesar 0,375.

Kedua indikator tersebut mengukur persoalan yang berbeda. Persentase kemiskinan menunjukkan bagian penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan rasio Gini menggambarkan tingkat ketimpangan distribusi pengeluaran. Keduanya tidak secara langsung menjelaskan penyebab setiap rumah tangga mengalami kesulitan ekonomi, tetapi dapat digunakan untuk melihat gambaran yang lebih luas mengenai kesejahteraan masyarakat.

Data tersebut juga perlu dibaca secara hati-hati. Tidak semua pekerja informal berada dalam kelompok miskin, sebagaimana tidak semua orang yang memiliki pekerjaan formal otomatis sejahtera. Akan tetapi, ketika status pekerjaan, ketidakpastian pendapatan, dan keterbatasan perlindungan sosial saling berkaitan, risiko kerentanan ekonomi menjadi penting untuk diperhatikan.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya berapa banyak orang yang bekerja, melainkan apakah pekerjaan yang tersedia memungkinkan masyarakat hidup secara layak dan menghadapi risiko ekonomi tanpa mudah jatuh ke dalam kemiskinan.

Mengapa Persoalan Ini Tidak Cukup Dijawab dengan Kerja Keras?

Nasihat untuk bekerja lebih keras sering muncul ketika membahas kemiskinan. Kerja keras memang penting, tetapi menjadikannya satu-satunya ukuran keberhasilan berarti mengabaikan kondisi yang tidak selalu dapat dikendalikan individu.

Seorang pekerja dapat meningkatkan keterampilan dan memperpanjang jam kerja, tetapi tetap menghadapi pasar yang tidak stabil, keterbatasan modal, atau rendahnya posisi tawar. Demikian pula, pelaku usaha kecil dapat mengelola keuangan dengan baik, tetapi tetap rentan ketika biaya produksi meningkat sementara kemampuan konsumen untuk membeli menurun.

Karena itu, kebijakan ketenagakerjaan perlu memperhatikan kualitas pekerjaan, bukan hanya penciptaan kesempatan kerja. Perlindungan sosial bagi pekerja informal, akses terhadap layanan keuangan yang aman, pelatihan yang sesuai kebutuhan pasar, serta dukungan bagi usaha mikro dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Pelaksanaannya tentu harus mempertimbangkan keragaman pekerja informal. Kebutuhan pedagang pasar tidak selalu sama dengan pengemudi transportasi daring, pekerja keluarga, atau nelayan. Program yang efektif memerlukan data dan pemahaman mengenai kondisi masing-masing kelompok, bukan pendekatan yang seragam.

Selain itu, dukungan terhadap usaha kecil tidak seharusnya berhenti pada pelatihan atau pemberian modal. Akses pasar, kepastian usaha, pendampingan, dan kemampuan menghadapi perubahan permintaan juga menentukan apakah suatu usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.

Mengukur Kesejahteraan dari Kualitas Hidup

Tingginya jumlah penduduk bekerja merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan ekonomi. Namun, keberhasilan pembangunan tidak seharusnya diukur hanya melalui pertumbuhan ekonomi atau berkurangnya pengangguran.

Ukuran kesejahteraan juga perlu mencakup kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, memperoleh pekerjaan yang layak, mengakses perlindungan sosial, dan menghadapi keadaan darurat tanpa kehilangan seluruh sumber penghidupannya.

Data BPS mengenai pekerja informal, kemiskinan, dan ketimpangan memberikan dasar untuk melihat bahwa persoalan ekonomi memiliki dimensi yang saling berkaitan. Sementara itu, perspektif sosiologi ekonomi mengingatkan bahwa kesempatan memperoleh kesejahteraan dibentuk oleh hubungan sosial dan struktur masyarakat, bukan semata-mata oleh pilihan individual.

Pada akhirnya, tantangan pembangunan bukan hanya memastikan masyarakat memiliki pekerjaan, melainkan juga menciptakan kondisi agar pekerjaan tersebut dapat menopang kehidupan yang layak. Sebab, apabila seseorang harus terus bekerja tanpa kepastian penghasilan dan perlindungan yang memadai, pekerjaan berisiko menjadi sarana bertahan hidup semata, bukan jalan yang cukup kuat untuk mencapai kesejahteraan.

Referensi

  1. Badan Pusat Statistik. (2025). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025. BPS. https://www.bps.go.id/
  2. Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2025. BPS. https://www.bps.go.id/
  3. Badan Pusat Statistik. (2025). Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Indonesia Maret 2025. BPS. https://www.bps.go.id/
  4. Granovetter, M. (1985). Economic Action and Social Structure: The Problem of Embeddedness. American Journal of Sociology, 91(3), 481–510. https://doi.org/10.1086/228311
Tags: ekonomipendidikanputri fajar andinisosialSosiologi
Previous Post

Gen Z dan Media Sosial: Ketika Ruang Digital Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Next Post

FAKTOR PENYEBAB MELAMBATNYA DANA PIHAK KETIGA (DPK), LANGKAH ANTISPASI MAKRO OLEH OJK & BI

Next Post
FAKTOR PENYEBAB MELAMBATNYA DANA PIHAK KETIGA (DPK), LANGKAH ANTISPASI MAKRO OLEH OJK & BI

FAKTOR PENYEBAB MELAMBATNYA DANA PIHAK KETIGA (DPK), LANGKAH ANTISPASI MAKRO OLEH OJK & BI

Persoalan kesempatan hidup yang tidak merata dapat dibaca melalui data sosial ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2025 sebesar 8,47 persen

Ketimpangan Sosial dan Perjuangan Mencapai Kesejahteraan

Mengenal hak atas bantuan hukum, mekanisme pendampingan gratis, dan peran masyarakat dalam memahami hukum.

5 Fakta Menarik tentang Bantuan Hukum di Indonesia yang Perlu Diketahui

Perpustakaan FISIP Universitas Lampung. Foto: Putri F.

Menguji Eksistensi Perpustakaan di Lampung di Tengah Budaya Digital Mahasiswa

Kuliah Sambil Bekerja di Bandar Lampung, Biaya Hidup? Mimpi Masa Depan?

Kuliah Sambil Bekerja di Bandar Lampung, Biaya Hidup? Mimpi Masa Depan?

RECOMMENDED NEWS

Lima Jenis Batik yang Cocok untuk Generasi Milenial dan Zilenial

Lima Jenis Batik yang Cocok untuk Generasi Milenial dan Zilenial

2 tahun ago
Tim Andrews

Terima Cangkok Ginjal Babi, Pria Ini Kini Tak Perlu Cuci Darah Lagi

1 tahun ago
BMKG memprakirakan cuaca Lampung didominasi cerah berawan pada 1 Juni 2026, namun sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan hingga petir pada siang dan sore hari.

Cuaca Lampung Hari Ini: Siang hingga Sore Berpotensi Diguyur Hujan

5 bulan ago
kuliner khas palembang

Pempek Cik Mar Kuliner Khas Palembang Harga Terjangkau

2 tahun ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

antam Bandar Lampung berita berita cuaca berita lampung berita pendidikan Bisnis BMKG bmkg Lampung cerpen Cuaca cuaca Lampung digitalisasi ekonomi Ekonomi bisnis emas erson agustinus gen z harga emas Honda hujan di Lampung Indonesia inspirasi Istana Negara kegiatan mahasiswa kesehatan Lampung Lampung Selatan Lifestyle mahasiswa Mahasiswa KKN Mitra Bentala olahraga Opini otomotif Pelindo pendidikan prakiraan cuaca Prakiraan cuaca Lampung Teknologi tips tips dan trik Tips Kesehatan ubs Universitas Lampung

POPULAR NEWS

  • Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    Penjual Video Porno di Telegram Untung Rp5-7 Juta Per Bulan

    469 shares
    Share 188 Tweet 117
  • Mempercayai Weton Tulang Wangi dalam Perspektif Islam

    428 shares
    Share 171 Tweet 107
  • Enam Permainan Sederhana Tingkatan Motorik Anak

    421 shares
    Share 168 Tweet 105
  • Tiga Aplikasi Gratisan untuk Edit Video di Ponsel Kamu

    417 shares
    Share 167 Tweet 104
  • Tiga Tips Manager untuk Memiliki Karyawan Profesional

    415 shares
    Share 166 Tweet 104
Merapah.com

Follow us on social media:

Recent News

  • Tradisi, Kuasa, dan Perubahan Sosial di Desa
  • Kepekaan Sosial di Tengah Masyarakat: Mengapa Kita Mudah Menghakimi, tetapi Sulit Memahami?
  • Di Balik Pilihan Pribadi, Ada Tekanan dan Ketimpangan Sosial?

Category

  • Berita
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Inspirasi
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Sepak Bola
  • Sosial
  • Sport
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • About
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2026 - Merapah.com

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Entertainment
  • Inspirasi
    • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Komunitas
    • Sosial
  • Kuliner
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Sport
  • Opini

© 2026 - Merapah.com