Oleh: Putri Fajar Andini
Merapah.com – Setiap orang sering dinasihati untuk bekerja keras, belajar dengan tekun, dan tidak mudah menyerah jika ingin memperbaiki kehidupan. Nasihat tersebut tidak keliru. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang dibicarakan: apakah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kesejahteraan?
Bayangkan dua anak yang sama-sama ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Anak pertama memiliki keluarga yang mampu membayar biaya pendidikan, menyediakan laptop, dan mendukung kebutuhan belajarnya. Anak kedua harus membantu orang tua mencari nafkah, berbagi perangkat dengan anggota keluarga lain, dan mempertimbangkan biaya hidup sebelum memutuskan kuliah. Keduanya mungkin memiliki kemampuan dan semangat yang sama, tetapi sumber daya yang tersedia bagi mereka berbeda.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh usaha individu. Ada kondisi sosial dan ekonomi yang ikut memengaruhi peluang seseorang untuk berkembang.
Ketimpangan yang Terlihat dalam Angka
Persoalan kesempatan hidup yang tidak merata dapat dibaca melalui data sosial ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2025 sebesar 8,47 persen, setara dengan sekitar 23,85 juta penduduk. Pada periode yang sama, Gini Ratio Indonesia tercatat sebesar 0,375, yang menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pengeluaran di masyarakat.
Angka kemiskinan menggambarkan bagian penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menurut ukuran resmi BPS. Sementara itu, Gini Ratio digunakan untuk melihat tingkat ketimpangan distribusi pengeluaran. Kedua indikator tersebut mengukur hal yang berbeda, tetapi bersama-sama membantu menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat tidak dapat dipahami hanya melalui pertumbuhan ekonomi secara umum.
Data itu tidak serta-merta membuktikan bahwa semua orang miskin memiliki pengalaman yang sama atau bahwa ketimpangan menjadi satu-satunya penyebab seseorang sulit meningkatkan taraf hidup. Namun, data tersebut menjadi alasan penting untuk mempertanyakan bagaimana sumber daya dan kesempatan ekonomi tersebar di masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi, misalnya, tidak otomatis membuat seluruh kelompok masyarakat memperoleh manfaat dalam jumlah yang sama. Kemampuan seseorang untuk memanfaatkan peluang juga dipengaruhi oleh pendidikan, keterampilan, kepemilikan aset, lingkungan tempat tinggal, dan akses terhadap pekerjaan.
Seseorang yang memiliki modal untuk membuka usaha tentu menghadapi situasi berbeda dari orang yang harus mengandalkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Keduanya sama-sama dapat bekerja keras, tetapi risiko dan pilihan yang tersedia bagi mereka tidak selalu setara.
Ketika Latar Belakang Sosial Ikut Menentukan Peluang
Dalam sosiologi, persoalan ini dapat dipahami melalui konsep stratifikasi sosial, yaitu pengelompokan masyarakat ke dalam lapisan-lapisan berdasarkan sumber daya dan kedudukan tertentu. Perbedaan kepemilikan kekayaan, pendidikan, pekerjaan, dan kekuasaan dapat memengaruhi akses seseorang terhadap berbagai peluang.
Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, menjelaskan bahwa individu tidak hanya memiliki modal ekonomi, tetapi juga modal budaya dan modal sosial. Modal ekonomi berkaitan dengan sumber daya finansial dan aset. Modal budaya mencakup pengetahuan, keterampilan, serta kebiasaan yang dapat membantu seseorang dalam lingkungan tertentu. Sementara itu, modal sosial berkaitan dengan sumber daya yang dapat diperoleh melalui jaringan hubungan sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, modal tersebut dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Seseorang yang memiliki keluarga dengan pengalaman pendidikan tinggi mungkin lebih mudah memperoleh informasi mengenai beasiswa atau jalur masuk perguruan tinggi. Orang yang memiliki jaringan profesional juga dapat lebih cepat mengetahui peluang kerja. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki akses terhadap informasi dan jaringan serupa harus berusaha lebih keras untuk menemukan kesempatan yang sama.
Hal ini bukan berarti orang dari keluarga kurang mampu tidak dapat berhasil. Banyak orang mampu mengubah kondisi hidupnya melalui pendidikan, kerja keras, dan dukungan sosial. Akan tetapi, keberhasilan individu tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan hambatan struktural yang dihadapi sebagian masyarakat.
Ketika ada seseorang yang berhasil keluar dari kemiskinan, keberhasilan itu patut diapresiasi. Namun, pengalaman satu orang tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah jalur untuk mencapai keberhasilan tersebut tersedia dan dapat diakses secara adil oleh masyarakat luas.
Kerja Keras Saja Tidak Cukup
Sering kali, kesulitan ekonomi dijelaskan melalui penilaian terhadap perilaku individu. Orang miskin dianggap kurang berusaha, penganggur dinilai kurang memiliki keterampilan, sedangkan mereka yang berhasil dipandang sepenuhnya sebagai hasil kerja keras pribadi.
Cara pandang tersebut berisiko menyederhanakan persoalan sosial. Memang, keputusan dan usaha individu berpengaruh terhadap kehidupannya. Namun, pilihan seseorang tidak pernah sepenuhnya terlepas dari kondisi tempat ia hidup.
Orang yang ingin melanjutkan pendidikan, misalnya, mungkin harus memilih antara membayar biaya kuliah dan membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pekerja informal bisa saja ingin menabung atau mengikuti pelatihan, tetapi penghasilannya harus lebih dahulu digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian. Dalam situasi seperti ini, keterbatasan bukan selalu muncul karena seseorang tidak memiliki keinginan untuk berkembang, melainkan karena sumber daya yang dimilikinya terbatas.
Perspektif sosiologi membantu melihat bahwa persoalan individu juga memiliki dimensi struktural. Kesempatan seseorang dibentuk melalui hubungan antara kemampuan pribadi, kondisi keluarga, lembaga pendidikan, pasar kerja, kebijakan publik, dan lingkungan sosial.
Karena itu, pembahasan mengenai kemiskinan dan ketimpangan seharusnya tidak berhenti pada imbauan agar masyarakat bekerja lebih keras. Perlu ada perhatian terhadap kualitas pendidikan, akses informasi, kesempatan kerja yang layak, perlindungan sosial, serta dukungan bagi kelompok yang memiliki keterbatasan sumber daya.
Membangun Kesempatan yang Lebih Adil
Mengurangi ketimpangan bukan berarti menjamin bahwa semua orang akan memperoleh hasil yang persis sama. Setiap individu tetap memiliki pilihan, kemampuan, dan pengalaman yang berbeda. Namun, masyarakat dapat berupaya memastikan bahwa latar belakang keluarga tidak menjadi penghalang yang terlalu besar bagi seseorang untuk mengembangkan potensinya.
Akses pendidikan yang berkualitas, informasi beasiswa yang mudah dijangkau, pelatihan kerja yang sesuai kebutuhan, dan perlindungan bagi pekerja rentan merupakan beberapa hal yang dapat memperluas kesempatan. Upaya tersebut perlu disertai evaluasi agar manfaatnya benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan, bukan hanya mereka yang sejak awal sudah memiliki akses lebih baik.
Di sisi lain, lingkungan sosial juga memiliki peran. Komunitas, organisasi masyarakat, dan jaringan solidaritas dapat membantu seseorang memperoleh informasi, dukungan, atau akses terhadap peluang ekonomi. Meski demikian, dukungan sosial tidak seharusnya menjadi pengganti tanggung jawab lembaga publik dalam memperluas akses dan perlindungan yang adil.
Pada akhirnya, ketimpangan kesempatan bukan sekadar persoalan siapa yang berhasil dan siapa yang tertinggal. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana masyarakat membentuk peluang bagi setiap orang untuk memperbaiki kehidupannya.
Kerja keras tetap penting, tetapi hasilnya juga dipengaruhi oleh sumber daya dan kondisi sosial yang mengiringi seseorang. Memahami hal ini bukan untuk meniadakan tanggung jawab individu, melainkan untuk melihat persoalan secara lebih utuh.
Sebab, masyarakat yang adil bukan hanya masyarakat yang memberi penghargaan kepada mereka yang berhasil. Masyarakat yang adil juga berupaya memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang layak untuk mencoba, berkembang, dan memperbaiki masa depannya.
Referensi
- Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2025. BPS. https://www.bps.go.id/
- Badan Pusat Statistik. (2025). Gini Ratio Maret 2025. BPS. https://www.bps.go.id/
- Bourdieu, P. (1986). “The Forms of Capital.” Dalam J. G. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. Greenwood Press.












