Oleh: Putri Fajar Andini
Merapah.com – Media sosial kini bukan sekadar tempat berbagi foto atau bertukar pesan. Bagi Generasi Z (Gen Z), ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari mencari informasi, mengikuti tren, membangun pertemanan, hingga mengekspresikan identitas diri. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: sejauh mana penggunaan media sosial memengaruhi kehidupan generasi muda?
Besarnya penggunaan media sosial di Indonesia terlihat dalam laporan Digital 2025: Indonesia yang diterbitkan DataReportal. Laporan tersebut memperkirakan terdapat 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2025. Angka ini setara dengan sekitar separuh populasi Indonesia pada periode tersebut.
Meski demikian, angka tersebut perlu dipahami secara tepat. Identitas pengguna tidak selalu mewakili individu yang berbeda karena satu orang dapat memiliki lebih dari satu akun. Data itu juga mencakup berbagai kelompok usia, sehingga tidak dapat digunakan sebagai angka khusus pengguna Gen Z.
Gambaran mengenai luasnya akses digital juga terlihat dari hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024. APJII mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 79,5 persen. Artinya, akses internet telah menjangkau sebagian besar penduduk Indonesia dan membuka ruang yang semakin luas bagi aktivitas masyarakat di dunia digital.
Dari Sarana Komunikasi Menjadi Ruang Pembentukan Identitas
Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya menawarkan cara baru bagi Gen Z untuk berinteraksi. Melalui unggahan foto, video pendek, komentar, dan fitur pesan pribadi, pengguna dapat mempertahankan hubungan sosial sekaligus membangun jaringan pertemanan di luar lingkungan terdekatnya.
Media sosial juga menyediakan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan minat, kreativitas, dan pendapat. Sebagian pengguna memanfaatkannya untuk membagikan karya, mempromosikan usaha, mengikuti kegiatan komunitas, hingga memperoleh informasi pendidikan dan peluang kerja.
Namun, aktivitas di media sosial tidak hanya berkaitan dengan apa yang ingin ditampilkan pengguna, tetapi juga dengan bagaimana mereka ingin dipandang oleh orang lain. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar, dan tayangan dapat menjadi bentuk umpan balik sosial yang diperhatikan sebagian pengguna.
Dalam situasi tertentu, keinginan memperoleh pengakuan tersebut dapat mendorong seseorang untuk terus memperbarui konten atau membandingkan kehidupannya dengan apa yang ditampilkan orang lain. Padahal, kehidupan yang terlihat di media sosial sering kali merupakan potongan pengalaman yang telah dipilih dan disunting, bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.
Ketika Penggunaan Media Sosial Menjadi Persoalan
Perkembangan media sosial membawa manfaat, tetapi juga menimbulkan perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda. Persoalannya bukan semata-mata terletak pada keberadaan platform digital, melainkan juga pada pola penggunaan, jenis konten yang dikonsumsi, pengalaman pengguna, dan kondisi sosial di sekitarnya.
Peringatan mengenai persoalan ini disampaikan dalam laporan Social Media and Youth Mental Health yang diterbitkan U.S. Surgeon General pada 2023. Laporan tersebut menjelaskan bahwa penggunaan media sosial dapat memberikan manfaat sekaligus menghadirkan risiko bagi kesehatan mental dan kesejahteraan anak serta remaja.
Laporan itu juga mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa hingga 95 persen remaja berusia 13–17 tahun di Amerika Serikat menggunakan media sosial, sementara lebih dari sepertiganya melaporkan menggunakannya hampir terus-menerus. Angka tersebut berasal dari konteks Amerika Serikat, sehingga tidak dapat langsung dianggap menggambarkan perilaku remaja Indonesia.
Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan intensitas penggunaan media sosial pada kelompok usia muda. Penggunaan yang mengganggu waktu tidur, kegiatan belajar, aktivitas fisik, atau hubungan sosial secara langsung patut menjadi perhatian.
Kehati-hatian juga diperlukan ketika membicarakan hubungan media sosial dan kesehatan mental. Tidak semua pengguna mengalami dampak yang sama. Karena itu, menyimpulkan bahwa media sosial secara langsung menyebabkan gangguan mental pada seluruh Gen Z merupakan generalisasi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai.
Bukan Sekadar Membatasi, tetapi Membangun Kesadaran Digital
Menghadapi fenomena ini, pendekatan yang hanya menyalahkan Gen Z tidak cukup. Media sosial telah menjadi bagian dari sistem komunikasi, pendidikan, hiburan, dan ekonomi digital. Tantangannya adalah memastikan pengguna mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa mengabaikan kebutuhan di luar ruang digital.
Literasi digital menjadi salah satu langkah penting. Pengguna perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, mengenali konten menyesatkan, menjaga privasi, dan memahami bahwa jumlah pengikut maupun tanda suka tidak menentukan nilai diri seseorang.
Keluarga dan lingkungan pendidikan juga memiliki peran dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Pembicaraan mengenai durasi penggunaan, waktu istirahat, kualitas tidur, dan keseimbangan aktivitas dapat dilakukan tanpa langsung memberikan stigma kepada pengguna.
Di sisi lain, platform digital dan pembuat kebijakan perlu memperhatikan keselamatan pengguna muda, termasuk perlindungan data pribadi, penanganan perundungan daring, dan akses terhadap informasi yang sesuai dengan usia.
Pada akhirnya, persoalan Gen Z dan media sosial bukan hanya tentang seberapa lama seseorang menatap layar, melainkan juga tentang bagaimana teknologi membentuk cara manusia berkomunikasi, menilai diri sendiri, dan memahami dunia di sekitarnya.
Media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar, berkarya, dan membangun hubungan. Namun, ruang tersebut tetap perlu digunakan secara sadar. Kemampuan untuk terhubung dengan banyak orang akan lebih bermakna ketika generasi muda juga mampu menjaga hubungan dengan dirinya sendiri dan lingkungan nyata di sekitarnya.
Referensi
- DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia. https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
- Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. https://apjii.or.id/
- U.S. Surgeon General. (2023). Social Media and Youth Mental Health: The U.S. Surgeon General’s Advisory. https://www.hhs.gov/surgeongeneral/priorities/youth-mental-health/social-media/index.html












