Oleh: Erson Agustinus
Saat ini masih banyak masyarakat kota Bandar Lampung yang belum memiliki rumah dan yang masih menempati Rumah Tidak Layak Huni (RTHL), masih tingginya permintaan rumah namun tidak sebanding dengan suplai ketersediaan rumah sebagai sinyal bahwa masih banyak masyarakat yang belum memiliki rumah, tercatat angka backlog Lampung 2025 sebanyak 270,247 ribu dan angka RTLH 113 ribu unit rumah dan yang terbesar adalah ibu kota Lampung yaitu Bandar Lampung.
Ditengah tingginya angka backlog tersebut pemerintah pusat dan daerah terus giat mendorong pengembang perumahan untuk terus memproduksi rumah, khususnya rumah bagi Masyarakat berpenghasilan Rendah (MBR) di Lampung.
Tingginya harga tanah di kota Bandar Lampung dan semakin sempitnya lahan peruntukan permukiman kota menjadi kendala besar bagi pengembang perumahan untuk mewujudkan perumahan subsidi bagi MBR sehingga mengalihkan pembangunan perumahan diwilayah perbatasan kota dengan kabupaten terdekat.
Wilayah perkotaan masih bisa dibangun pengembang untuk jenis rumah non subsidi (komersil) dengan kisaran harga 300 jt sampai 2 milyar rupiah, artinya peruntukan rumah bagi golongan masyarakat menengah keatas.
Sedang untuk rumah subsidi yang sudah ditentukan harga jual oleh pemerintah saat ini yaitu sebesar 166 juta rupiah sangat sulit mewujudkan pembangunannya di pusat keramaian kota Bandar Lampung.
Namun ditengah situasi seperti itu masih banyak masyarakat Bandar Lampung yang mendambakan memiliki rumah yang masih tidak jauh dari pusat keramaian di kota Bandar Lampung. Keinginan itu sangatlah wajar dengan pertimbangan pertimbangan tertentu antara lain; menghendaki rumah tidak jauh dari tempat mereka bekerja, keinginan untuk tidak jauh dari pusat perbelanjaan dan hiburan kota, ada juga yang ingin dekat sanak keluarga dan handai tolan yang memang telah memiliki rumah terlebih dahulu di kota Bandar Lampung. Kalau demikian alasannya maka;
_”kurang pas untuk saat ini menentukan pilihan untuk memiliki rumah subsidi, akan tetapi lebih tepat untuk memilih memiliki rumah non subsidi (komersil).”_
Beberapa alasan tersebut diatas menimbulkan kegalauan dan banyak pertimbangan untuk menentukan pilihan lokasi rumah, besar kecilnya uang yang harus diadakan berkaitan dengan harga rumah, menyebabkan lama dalam menentukan pilihan rumah, akibatnya harga rumah semakin tahun semakin mahal dan lokasi rumah baik subsidi ataupun non subsidi makin jauh dari pusat keramaian kota Bandar Lampung.
Sebaiknya akan lebih bijak jika dalam menentukan pilihan rumah tidak berlama-lama waktu jika memang benar-benar berkeinginan memiliki rumah, sesuaikan saja dengan kemampuan keuangan, dan untuk diketahui bahwa kota akan terus berkembang cepat, yang saat ini wilayah perbatasan belum begitu ramai dan terkesan jauh dari keramaian kota, dalam waktu tidak lama akan terjadi pemekaran kabupaten kota yang berkesinambungan dan akan menjadi daerah hidup yang ramai seiring maraknya pembangunan infrastruktur. Dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun kedepan daerah perbatasan akan menjadi kota kota baru yang tumbuh menjadi pusat perekonomian bisnis, pariwisata, pendidikan dan lain sebagainya.













