BANDAR LAMPUNG, Merapah.com – Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Cuku Nyinyi di Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, terus menarik perhatian berbagai kalangan. Kawasan ini berkembang menjadi pusat wisata edukasi lingkungan yang banyak dikunjungi perusahaan, perguruan tinggi, komunitas, hingga organisasi internasional.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) IIB Darmajaya, Dr. Novita Sari, S.Sos., M.M., menilai Cuku Nyinyi memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi unggulan di Lampung. Menurutnya, kawasan tersebut layak menjadi model pembelajaran lingkungan berbasis masyarakat.
BACA JUGA: Pengembangan Kawasan Wisata Terpadu Lampung Harus Berbasis Keberlanjutan
Ia mengatakan keberhasilan pengelolaan kawasan mangrove itu telah menarik minat perusahaan swasta nasional, perusahaan internasional dan multinasional, perguruan tinggi, komunitas, serta berbagai entitas lainnya.
Jadi Pusat Wisata Edukasi Berbasis Lingkungan
Novita menjelaskan daya tarik Cuku Nyinyi tidak hanya berasal dari keindahan kawasan mangrovenya. Kawasan itu juga berhasil menggabungkan aspek konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Menurutnya, Cuku Nyinyi kini berkembang sebagai pusat wisata edukasi yang menjadi lokasi pembelajaran bagi berbagai pihak dari dalam maupun luar daerah.
“Cuku Nyinyi sangat layak menjadi destinasi wisata edukasi unggulan. Kawasan ini telah didatangi banyak pihak, baik perusahaan swasta, perusahaan internasional dan multinasional, perguruan tinggi, komunitas, maupun berbagai organisasi lainnya untuk mempelajari pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat,” kata Novita Sari.
Ia menilai keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi desa.
BACA JUGA: Dapur Tua di Ujung Ponorogo
Tawarkan Pengalaman Belajar yang Lengkap
Novita mengatakan kawasan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang komprehensif bagi pengunjung. Mereka tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan konservasi.
Pengunjung dapat mengikuti penanaman mangrove, menyusuri kawasan hutan mangrove, melakukan penelitian ekosistem, hingga mempelajari praktik konservasi pesisir yang dikelola masyarakat setempat.
Menurut Novita, pendekatan tersebut menjadikan Cuku Nyinyi sebagai laboratorium hidup yang relevan bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga pelaku usaha.
“Model pengelolaan yang diterapkan di Cuku Nyinyi menunjukkan bahwa masyarakat dapat menjadi aktor utama dalam menjaga lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari potensi desa yang dimiliki,” ujarnya.
Perkuat Ekonomi dan Kolaborasi Desa
Selain menjadi pusat edukasi, pengelolaan kawasan ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Novita menjelaskan pengelolaan melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan warga setempat.
Kolaborasi tersebut membuka berbagai peluang usaha baru. Masyarakat mengembangkan wisata edukasi, jasa pemandu wisata, kuliner, homestay, hingga produk kreatif lokal.
Ia menilai keberhasilan itu membuat kawasan mangrove tidak lagi dipandang sebagai area konservasi semata. Kawasan tersebut kini berfungsi sebagai pusat pembelajaran, penguatan ekonomi desa, dan ruang kolaborasi lintas sektor.
BACA JUGA: Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Olahraga yang Berkelanjutan
Dilirik Siemens Healthineers Indonesia
Keberhasilan Cuku Nyinyi juga menarik perhatian perusahaan global. Salah satu contohnya datang dari PT Siemens Healthineers Indonesia yang menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi kegiatan pelestarian lingkungan.
Pada Kamis, 7 Mei 2026, ratusan karyawan perusahaan itu menanam 2.000 bibit mangrove di kawasan Mangrove Cuku Nyinyi. Kegiatan tersebut memperkuat posisi Cuku Nyinyi sebagai pusat wisata edukasi dan konservasi yang dipercaya berbagai pihak.
President Director Siemens Healthineers Indonesia, Alfred Fahringer, mengatakan Lampung dipilih karena Cuku Nyinyi berhasil memadukan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.
Novita menilai sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, perguruan tinggi, dan perusahaan berskala global perlu terus diperkuat. Langkah itu penting untuk mendorong Cuku Nyinyi menjadi destinasi wisata edukasi berkelas nasional.
“Cuku Nyinyi merupakan bukti bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi masyarakat. Ketika seluruh pihak berkolaborasi, kawasan ini berpotensi menjadi rujukan wisata edukasi pesisir yang berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.












