Merapah.com, BANDUNG — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong membangun sistem manajemen bisnis yang kuat agar usaha dapat berkembang dan tidak sepenuhnya bergantung pada pemilik.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum HIPMI Jawa Barat 2023–2024 sekaligus Ketua Pengembang Indonesia Jawa Barat sejak 2019, Rayhan Nuraditha, dalam event Bisnis Laboratory (Bizlan) HIPMI Kabupaten Bandung di Sekretariat HIPMI Kabupaten Bandung Restorame, Jalan Ceuri No. 1, Katapang, Jumat, 2 Oktober 2026.


Dalam kegiatan tersebut, Rayhan membawakan tema “Membangun Fondasi Bisnis UMKM yang Kuat melalui Manajemen dan Sistem yang Efektif.”
Menurut Rayhan, penguatan manajemen menjadi salah satu hal penting dalam pengembangan UMKM. Kegiatan Bizlan dilakukan secara rutin sebagai wadah pembinaan dan pendampingan bagi pelaku usaha.
“Para UMKM terus mendapatkan bimbingan dan fokus kepada manajemen bisnis agar usahanya dapat tumbuh,” ujar Rayhan.
Ia mengatakan, langkah awal yang perlu dilakukan pelaku UMKM untuk membangun bisnis yang efektif adalah memiliki data yang tercatat dengan baik, terutama dalam hal pencatatan keuangan.
Setelah data tersedia, pelaku usaha dapat mulai membangun sistem serta menempatkan sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan kebutuhan dan kompetensinya.
“Pertama harus adanya data yang terekam, terutama masalah pencatatan keuangan. Setelah itu bangun sistem dan penempatan SDM yang sesuai,” katanya.
Rayhan menilai terdapat sejumlah kesalahan manajemen yang masih sering dilakukan pelaku UMKM sehingga bisnis sulit berkembang. Salah satunya adalah tidak melakukan pencatatan keuangan secara tertib.
Selain itu, pemilik usaha juga cenderung ingin mengerjakan seluruh pekerjaan sendiri, tanpa membangun standar operasional prosedur (SOP) dan sistem kerja yang jelas.
“Data keuangan tidak dicatat, semua ingin dilakukan sendiri, tidak membuat SOP dan sistem, sehingga waktunya habis untuk operasional perusahaan,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pemilik usaha terlalu terserap dalam pekerjaan operasional sehari-hari. Akibatnya, pemilik memiliki lebih sedikit waktu untuk memikirkan strategi dan pengembangan bisnis.
Karena itu, Rayhan menyebut terdapat dua langkah sederhana yang dapat mulai dilakukan pelaku UMKM agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung kepada pemilik.
“Ciptakan sistem dan delegasi,” katanya.
Rayhan menjelaskan, materi mengenai manajemen dan sistem bisnis tersebut tidak terlepas dari pengalaman yang dimilikinya di dunia usaha. Ia juga pernah menjadi pendamping dan mentor bisnis, baik di lingkungan kampus maupun di tingkat kabupaten.
Selain pengalaman bisnis, Rayhan memiliki keahlian dalam bidang business model yang menjadi salah satu dasar dalam membangun dan mengembangkan sebuah usaha.
Ia menilai UMKM tidak cukup hanya berorientasi pada penjualan. Bisnis juga membutuhkan sistem yang mampu mengatur keuangan, SDM, SOP, hingga proses pengambilan keputusan agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan Bizlan HIPMI Kabupaten Bandung, Rayhan berharap pelaku UMKM semakin memahami pentingnya membangun fondasi bisnis yang kuat melalui manajemen dan sistem yang efektif.
Dengan sistem yang baik dan pembagian tugas melalui delegasi, pemilik usaha dapat mengurangi ketergantungan bisnis terhadap dirinya sekaligus memiliki ruang lebih besar untuk fokus pada pengembangan usaha.







